Dalam suasana hening, Bhiksuni Yuan Hui memandu peserta meditasi dalam kegiatan Forum Belajar Bersama (BB) secara offline yang diadakan relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3.
Untuk pertama kalinya, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 mengadakan Forum Belajar Bersama (BB) secara offline. Sebelumnya, kegiatan belajar Dharma ini rutin dilaksanakan secara virtual melalui Zoom. Pertemuan tatap muka yang berlangsung pada Rabu, 19 Agustus 2026 ini menjadi kesempatan istimewa bagi para relawan dan masyarakat umum untuk belajar, berbagi, serta mempererat jalinan kasih secara langsung.
Sebelum kegiatan dimulai, sebanyak 30 peserta mulai berdatangan ke rumah salah satu relawan yang menjadi tempat kegiatan di kawasan Pantai Mutiara, Pluit. Kegiatan ini juga turut dihadiri oleh Bhiksuni Yuan Hui yang mendampingi rangkaian kegiatan.
Acara diawali dengan makan malam bersama. Suasana hangat dan santai menjadi awal yang baik bagi para peserta untuk saling mengenal dan membangun keakraban. Selanjutnya, acara dipandu oleh Auliani selaku MC. Setelah memberikan penghormatan kepada Master Cheng Yen, para peserta diajak mengikuti meditasi yang dipandu oleh Bhiksuni Yuan Hui. Dalam suasana hening, peserta menenangkan hati dan pikiran sebelum memasuki sesi pembelajaran.
Mengenal ”9 Belenggu” dan Melihat ke Dalam diri
Para peserta kemudian bersama-sama menyimak video Ceramah Master Cheng Yen mengenai “9 Belenggu” bagian 5. Yaitu berbagai noda batin yang dapat mengikat seseorang dan menghambat kejernihan hati. Sembilan belenggu tersebut meliputi belenggu cinta, belenggu kebencian, belenggu kesombongan, belenggu kegelapan batin, belenggu pandangan, belenggu kemelekatan, belenggu keraguan, belenggu kedengkian dan belenggu kekikiran.
Dengan pembawaan yang penuh semangat, Hoklay mengajak peserta mendalami materi “9 Belenggu” dari Ceramah Master Cheng Yen.
Salah satu materi yang dibahas adalah belenggu pandangan, yaitu ketika seseorang terlalu melekat pada pandangannya sendiri hingga merasa paling benar dan sulit melihat sesuatu secara menyeluruh. Master Cheng Yen menjelaskan adanya tiga jenis pandangan, yaitu pandangan adanya diri, pandangan ekstrem, dan pandangan sesat. Ketiganya dapat membuat seseorang semakin melekat pada ego, keinginan, dan pemikirannya sendiri. Dalam kehidupan sehari-hari, tanpa disadari kita dapat terjebak pada perasaan “aku”, ingin selalu dianggap benar, hanya melihat sesuatu dari satu sisi, atau mengikuti keinginan tanpa memikirkan akibatnya.
Dari pikiran dan tindakan tersebut, seseorang dapat menciptakan karma yang kemudian membawa penderitaan. Materi ini mengajak setiap peserta untuk sejenak melihat ke dalam diri dan menyadari apakah masih ada belenggu yang mengikat hati. Dengan belajar melepaskan kemelekatan, mengurangi ego, dan melihat segala sesuatu dengan lebih jernih, kita dapat menumbuhkan kebijaksanaan, kasih sayang, serta belajar menerima perbedaan dalam kehidupan bersama.
Sharing yang Membuka Hati
Setelah menyimak Ceramah Master Cheng Yen, diadakan sesi sharing yang dipandu oleh Hoklay selaku moderator. Dengan pembawaan yang penuh semangat, Hoklay mengajak peserta untuk lebih mendalami materi serta berbagi pengalaman dan pemahaman yang diperoleh dari tayangan Ceramah Master Cheng Yen. Antusiasme peserta terlihat sepanjang sesi. Relawan maupun masyarakat umum dengan sukacita mengangkat tangan untuk menyampaikan sharing. Setiap pengalaman yang dibagikan menjadi kesempatan untuk saling belajar dan menginspirasi.
Auliani selaku MC menyampaikan sosialisasi Bulan Tujuh Penuh Berkah. Peserta diajak kembali memahami makna bakti, rasa syukur, serta pentingnya menumbuhkan kebajikan dalam kehidupan.
Ketua Relawan Tzu Chi Komunitas He Qi Jakarta Utara 3, Jok Khian melihat antusiasme peserta sebagai hal yang menggembirakan. Menurutnya, materi mengenai “9 Belenggu” sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. “Para relawan cukup antusias mengikuti kegiatan ini. Materi mengenai 9 belenggu juga sangat berkaitan dengan kehidupan relawan sehari-hari. Ditambah dengan penyampaian dari Hoklay yang sangat menarik, membuat para peserta cukup nyaman mengikuti kegiatan sampai akhir,” ungkap Jok Khian.
Ia juga merasakan adanya perbedaan ketika pembelajaran dilakukan secara langsung. “Belajar Bersama (BB) offline memang jauh lebih efektif untuk belajar Dharma dibandingkan dengan online. Masalahnya memang tidak semua relawan bisa hadir. Namun, kegiatan ini akan rutin dilakukan setiap bulannya,” lanjut Jok Khian.
Hal senada disampaikan Liena, selaku Wakil Ketua Relwan Tzu Chi komunitas
He Qi Jakarta Utara 3. Ia mengapresiasi pelaksanaan BB
offline perdana yang diikuti 30 peserta. “Saya sangat mengapresiasi BB perdana kita yang dihadiri 30 orang. Kebanyakan adalah relawan dan beberapa masyarakat umum. Saya sangat bersukacita melihat antusiasme teman-teman baru yang mau ikut dalam kelas belajar kita,” tutur Liena. “Yang saya dapat hari ini yaitu saat Hoklay membawakan materi dengan sangat baik, sehingga kita lebih paham makna yang disampaikan Master Cheng Yen,” tambahnya.

Kegiatan yang diadakan pada Rabu, 19 Agustus 2026 ini diikuti sebanyak 30 peserta untuk bersama-sama belajar Dharma.
Menjelang akhir kegiatan, Auliani selaku MC menyampaikan sosialisasi mengenai Bulan Tujuh Penuh Berkah (B7PB). Peserta diajak memahami makna bakti dan rasa syukur, sekaligus menerapkan nilai-nilai kebajikan dalam kehidupan sehari-hari. Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama dan penghormatan kepada Master Cheng Yen.
Pertemuan perdana secara offline ini tidak hanya menjadi wadah untuk mendalami Dharma, tetapi juga menjadi ruang untuk bertemu, berbagi pengalaman, dan mempererat jalinan kasih. Dengan hati yang hangat dan semangat baru, para peserta pun pulang membawa satu langkah kecil untuk terus belajar, berbagi, dan bersama-sama menjalankan kebajikan dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Arimami Suryo A