Muhammad Fauzan relawan muda mudi Tzu Ching yang dilantik menjadi relawan Abu Putih oleh Ketua Tzu Chi Bandung Djonni Andhella.
Relawan Tzu Chi Bandung mengadakan pelatihan relawan Abu Putih kedua pada Minggu, 26 April 2026, dengan tema Empat Misi Tzu Chi Bersatu untuk Menghimpun Cinta Kasih. Pelatihan yang diadakan di Aula Fu Hui Ting Tzu Chi Bandung ini diikuti oleh 154 peserta, dan 96 di antaranya dilantik menjadi relawan Abu Putih.
Acara dibuka dengan suasana tertib dan penuh penghormatan. Peserta berbaris memasuki aula, dilanjutkan dengan penghormatan kepada para Buddha, Bodhisatwa, serta Master Cheng Yen yang dipandu oleh pembawa acara. Pelatihan dilanjutkan dengan menyanyikan Mars Tzu Chi dan pembacaan 10 Sila Tzu Chi sebagai landasan moral relawan.
Setiap pelatihan Tzu Chi membangun pemahaman, kedisiplinan, menumbuhkan rasa welas asih, serta membentuk karakter relawan Tzu Chi. Pelatihan ini diawali dengan materi kisah Master Cheng Yen yang dibawakan Yulistina mengenai kemandirian Master Cheng Yen yang dapat dijadikan teladan bagi relawan.
Materi ini menjelaskan bagaimana Master Cheng Yen menjalani kehidupan dengan kesederhanaan, disiplin, kerendahan hati, serta tekad kuat dalam membantu sesama. Dari sini, relawan diajak memahami bahwa kegiatan yang dilakukan bukan sekadar aktivitas, tetapi juga proses membina diri dan membangun komitmen terhadap nilai kemanusiaan.
Pelatihan dan pelantikan ini diikuti oleh 154 peserta, dan 96 di antaranya dilantik menjadi relawan Abu Putih. Pelatihan relwan ini sekaligus melantik 96 peserta dikukuhkan menjadi relawan Abu Putih dan bertekad untuk terus menebar cinta kasihnya.
dr. Subekti N. Kartasasmita Ketua TIMA Bandung memberikan materi tentang sejarah Misi Kesehatan Tzu Chi yang mejadikan semangat Master Ceng Yen membangun rumah sakit menjadi teladan bagi relawan.
Selanjutnya, dr. Subekti N. Kartasasmita, Ketua Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Bandung, membawakan materi mengenai sejarah Misi Kesehatan Tzu Chi yang menjadi cikal bakal berdirinya rumah sakit Tzu Chi pertama di Taiwan serta perjuangan Master Cheng Yen dalam membangunnya.
“Tzu Chi adalah media untuk implementasi. Implementasi dari kita berbuat baik, implementasi kita untuk menolong orang lain. Kita membantu sesama dengan hati. Bagaimana semangat Master untuk membantu orang dengan membangun rumah sakit itu menjadi teladan yang harus kita ikuti,” ujar dr. Subekti.
Semangat Tzu Chi dapat terwujud melalui semangat menggalang hati dari semua pihak, sesuai dengan materi selanjutnya yang dibawakan Laura Indrayani. Ia menjelaskan bagaimana membantu sesama dengan menggalang hati penuh welas asih agar cinta kasih dapat menjadi benih yang disebarluaskan.
Materi terakhir membahas tata krama Budaya Humanis Tzu Chi, di mana peserta diajak menghadirkan keindahan dalam suatu organisasi. Sesuai dengan kata perenungan Master Cheng Yen, keindahan kelompok bergantung pada setiap individu. Tzu Chi tidak hanya mengajarkan bagaimana menumbuhkan rasa empati, tetapi juga membangun keindahan dalam diri sebagai landasan utama.
Megawati dan Fongki adalah pasangan suami istri yang menjadi relawan abu putih logo ketika berbagi kisah perjalan menjadi bodhisatwa di Tzu Chi dan mendapatkan ketenangan bantin.
Pelatihan ini ditutup dengan sesi berbagi pengalaman. Megawati, relawan yang telah bergabung sejak 2021 menjelaskan menemukan kedamaian batin selama bergabung menjadi relawan Tzu Chi dan bertekad menapaki di jalan bodhisatwa.
“Saya mendapatkan kedamaian batin dengan membantu sesama. Dulu saya berpikir tentang karma masing-masing, tetapi di sini diajarkan bahwa melalui jalan bodhisatwa kita harus membantu mereka,” ucap Megawati.
Jalinan jodoh Megawati bersama Tzu Chi bermula saat ia menjadi tamu undangan dalam acara Pemberkahan Akhir Tahun Tzu Chi Bandung. Melihat para relawan yang penuh welas asih membantu sesama serta keindahan kebersamaan yang terjalin, membuatnya tersentuh dan yakin untuk bergabung.
“Awalnya saya ikut acara pemberkahan dari undangan vihara. Saat datang ke Tzu Chi, saya melihat kerapian dan kepedulian dalam menolong sesama. Dari situ saya ingin mencoba, tetapi ternyata bukan sekadar mencoba, melainkan benar-benar yakin untuk menjadi relawan,” lanjut Megawati.
Tidak hanya dirinya, Megawati juga mengajak suaminya, Fongki Hendrawan, untuk ikut menjadi relawan. Meski awalnya hanya mengantar, akhirnya Fongki pun tergerak untuk bergabung.
“Dulu saya hanya mengantar istri ke Tzu Chi dan tidak mau ikut. Namun setelah diajak beberapa kali, ternyata seru dan penuh pembelajaran. Saya merasakan ketenangan batin yang luar biasa di sini,” ungkap Fongki.
Tzu Chi Bandung mengadakan Pelatihan relawan Abu Putih2 yang berlangsung di Aula Fu Hui Ting Tzu Chi Bandung, sebanyak 154 peserta mengikuti pelatihan ini dengan hati pernuh welas asih.
Kisah sukacita juga datang dari relawan lain, Muhammad Fauzan. Kiprahnya sebagai relawan dimulai dari Tzu Ching (muda-mudi Tzu Chi). Meski saat itu masih berstatus mahasiswa Universitas Padjadjaran jurusan Bahasa dan Budaya Tiongkok, ia tetap meluangkan waktu untuk berkegiatan.
“Saya mulai dari Tzu Ching, sekarang sudah lulus dan bekerja, tetapi tetap mengikuti kegiatan Tzu Chi. Kini saya sudah menjadi relawan Abu Putih. Ada rasa bahagia yang berbeda setiap kali ikut kegiatan,” cerita Fauzan.
Fauzan menjadi salah satu dari 96 relawan yang dilantik sebagai relawan Abu Putih. Semangatnya untuk berbuat kebajikan terus tumbuh tanpa batas.
“Sejak mahasiswa hingga sekarang, saya terus ikut kegiatan Tzu Chi. Banyak pengalaman membantu sesama, dan menurut saya, berbuat baik itu tidak ada batasnya,” tambah Fauzan.
Dengan ketekunan, semangat, dan sukacita dalam kebajikan, para relawan melangkah mantap di jalan berkah dan kebijaksanaan, menjadikan setiap langkah sebagai ladang kebajikan serta setiap tindakan sebagai wujud nyata cinta kasih bagi dunia.
Editor: Anand Yahya