Putri sangat bersyukur pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga memberikan kesempatan kepada mereka untuk meningkatkan pendapatan ekonomi keluarga.
Matahari belum terlalu tinggi ketika Marcel Gea (33) mulai bergelut dengan adonan bahan pasir dan semen pembuat batako. Tangan yang berotot dan coklat legam tengah sibuk mengaduk dan memasukkan campuran pasir dan semen ke dalam cetakan batako, memadatkannya, lalu mengeluarkan batako satu per satu untuk dijemur. Pekerjaan itu kembali dilakukan berulang-ulang hingga matahari terbenam.
Di sampingnya, sang istri, Putri Jebua (30), ikut membantu membuat batako. Tidak banyak kata yang terucap di antara keduanya. Mereka sudah memahami pekerjaan masing-masing. Di tengah panas matahari serta di bawah naungan terpal biru dan debu material bangunan, pasangan suami istri ini bekerja bersama demi satu tujuan sederhana, memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga.
Bagi Marcel dan Putri, batako-batako yang mereka hasilkan bukan sekadar bahan bangunan. Dari setiap batako yang tercetak, ada penghasilan yang mereka harapkan dapat membantu membeli beras, memenuhi kebutuhan rumah tangga, dan membiayai kehidupan kedua anak mereka yang masih bersekolah. Kesempatan itu datang seiring pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga. Sebanyak 200 unit rumah sedang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di kawasan GOR Sibolga.
Pembangunan rumah yang nantinya memberikan tempat tinggal untuk masyarakat yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor ini ternyata juga membawa manfaat lain bagi warga di sekitarnya. Kehadiran proyek pembangunan perumahan Tzu Chi di Sibolga membuka kesempatan kerja bagi masyarakat sekitar, termasuk Marcel dan Putri.
Sebelum bekerja diproyek pembangunan perumahan Tzu Chi, pengalaman kerja Marcel cukup panjang. Ia pernah bekerja di sebuah perusahaan sawit di Kota Padang dan beberapa kali mengikuti pekerjaan yang berhubungan dengan bangunan dan kontraktor.
Sebagai perantau asal Pulau Nias, Marcel terbiasa mencari pekerjaan di tempat yang memungkinkan dirinya memperoleh penghasilan. Baginya, selama ada kesempatan bekerja, ia akan menjalaninya.
Putri, istri Marcel, membantu memproduksi batako agar penghasilan ekonomi bisa bertambah. Di balik proses pembangunan 200 unit rumah itu, terdapat aktivitas ekonomi warga yang ikut bergerak dan meningkat.
Kesempatan untuk memproduksi batako di pembangunan perumahan Tzu Chi Sibolga berawal dari sang mertua Marcel. Mertua Marcel lebih dahulu bekerja membuat batako di lokasi pembangunan perumahan Tzu Chi Sibolga. Karena kebutuhan batako semakin banyak, kontraktor meminta bantuan untuk mencari tenaga tambahan agar produksi batako dapat berjalan lebih cepat.
Sang mertua kemudian mengajak Marcel. Tanpa berpikir panjang, Marcel menerima tawaran tersebut. Ia melihat pekerjaan itu bukan hanya sebagai kesempatan memperoleh penghasilan, tetapi juga sebagai kesempatan menambah pengalaman.
“Biar punya pengalaman kerja pak. Jangan hanya satu yang kita tahu. Jadi, pengalaman kita bertambah,” ujar Marcel.
Tidak ada proses pelatihan khusus ketika Marcel mulai memproduksi batako. Pengalamannya di bidang bangunan membuat pekerjaan mencetak batako bukan sesuatu yang benar-benar baru baginya.
Sejak pukul 08.00 WIB, proses pembuatan batako dimulai. Marcel bersama istrinya terus mencetak batako hingga sore, bahkan bisa sampai sekitar pukul 18.00 WIB.
Dalam sehari, mereka dapat menghasilkan sekitar 200 batako. Jumlah itu tentu tidak selalu sama karena sangat bergantung pada kondisi cuaca. Hujan menjadi salah satu kendala terbesar karena proses produksi pengeringan batako tidak dapat berjalan maksimal.
Sistem kerja borongan membuat setiap batako memiliki nilai tersendiri. Semakin banyak produksi yang diselesaikan, semakin besar pula upah yang diperoleh.
Bagi Marcel, kesempatan bekerja seperti ini sangat berarti. “Bisa meningkatkan ekonomi keluarga saya, bisa beli beras, terutama membantu kebutuhan sekolah anak dan keluarga,” ucap Marcel disela-sela mencetak batako.
Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, bagi seorang kepala keluarga, kemampuan untuk membawa pulang penghasilan dari keringat sendiri memiliki arti yang besar.
Marcel dan Putri membantu membuat bahan material batako untuk pembangunan perumahan Tzu Chi Sibolga untuk korban bencana banjir bandang dan tanah longsor. Pekerjaan mencetak batako ini justru membantu meningkatkan ekonomi keluarganya sendiri.
Putri memahami betul perjuangan sang suaminya itu. Sebelum ikut bekerja bersama suaminya, Putri merupakan ibu rumah tangga. Ia tidak memiliki pekerjaan lain. Ketika Marcel mendapatkan kesempatan membuat batako, Putri memilih untuk ikut membantu.
Hari-hari mereka kemudian diisi dengan bekerja bersama dan anaknya sepulang sekolah datang ke perumahan Tzu Chi.
Bagi Putri, membantu suami bukan sesuatu yang harus dipikirkan dua kali. Ketika ada pekerjaan yang bisa dilakukan bersama, ia ingin mengambil bagian di dalamnya.
“Saya membantu suami, Pak. Tidak ada kerja lain, ibu rumah tangga biasa,” ujar Putri.
Di lokasi pembangunan, pasangan ini bekerja bersama mencetak batako. Marcel mengerjakan lebih cekatan dalam mencetak batako, sementara Putri mencetak batako semampu tenaganya.
Pekerjaan itu mungkin terlihat sederhana untuk para lelaki. Tetapi bagi wanita dan sebagai isteri, pekerjaan tersebut sangat luar biasa demi satu tujuan menambah penghasilan yang lebih untuk keluarga yang mereka jalani.
Apalagi mereka memiliki dua anak. Anak sulung mereka, Franky Gea, kini berusia 14 tahun. Sementara anak kedua, Brian Gea, masih berusia enam tahun.
Ada banyak kebutuhan yang harus dipenuhi. Karena itu, ketika pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga memberikan kesempatan kepada mereka untuk bekerja, kesempatan tersebut tidak mereka sia-siakan.

Bagi Putri, membantu suami bukan sesuatu yang harus dipikirkan dua kali walaupun pekerjaan itu melelahkan selain menjadi istri untuk mengurus suami dan kedua putranya.
Putri bahkan merasakan perbedaan dibandingkan pekerjaan borongan yang pernah mereka jalani sebelumnya.
“Kalau di tempat orang, namanya borongan. Misalnya ditarget mencetak seribu biji, setelah selesai ya berhenti. Semenjak ada pembangunan perumahan Tzu Chi ini lumayan beberapa bulan lancar, tidak berhenti-berhenti pesanan batakonya. Yang penting cuaca bagus,” tutur Putri dengan rasa syukur.
Bagi keluarga seperti Marcel dan Putri, keberlangsungan pekerjaan menjadi sesuatu yang sangat berarti. Sebab, pekerjaan yang hanya berlangsung sebentar membuat pendapatan mereka juga tidak menentu. Kehadiran pembangunan perumahan dalam waktu yang cukup panjang memberi ruang bagi mereka untuk terus bekerja.
Lebih dari sekadar rumah
Pembangunan Perumahan Cinta Kasih Tzu Chi Sibolga tidak hanya menghadirkan deretan rumah baru. Di balik proses pembangunan 200 unit rumah itu, terdapat aktivitas ekonomi warga yang ikut bergerak dan meningkat.
Ada warga yang mendapatkan pekerjaan sebagai seniman bangunan (pekerja bangunan). Ada yang terlibat sebagai dalam penyediaan material. Ada pula keluarga seperti Marcel dan Putri yang memperoleh penghasilan lebih dari memproduksi batako. Dengan demikian, pembangunan perumahan Tzu Chi menghadirkan manfaat yang terasa hingga ke lingkungan warga sekitar perumahan Tzu Chi.
Cetakan demi cetakan batako yang Marcel dan Putri cetak secara manual dengan alat konvensional berdiri satu kawasan permukiman perumahan Tzu Chi Sibolga untuk warga korban bencana.
Bagi Marcel, pembangunan perumahan Tzu Chi Sibolga itu menjadi salah satu kesempatan yang membuat dirinya dapat kembali bekerja dan menghasilkan pendapatan lebih bersama istrinya untuk kebutuhan anak-anaknya.
Ia yang sebelumnya harus berpindah-pindah mengikuti pekerjaan, kini dapat memanfaatkan kesempatan yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Setiap pagi ia datang bekerja. Setiap hari Sabtu sore ia pulang membawa hasil pekerjaan selama satu minggu yang dilakukan bersama istrinya.
Tidak ada kemewahan dalam pekerjaan itu. Yang ada adalah panas matahari, debu, tenaga yang terkuras, keringat bercucuran, dan batako yang harus dicetak satu demi satu.
Namun, di situlah letak perjuangan Marcel dan Putri. Mereka tidak sedang mengejar sesuatu yang besar. Mereka hanya ingin kehidupan keluarga terus berjalan.
Di antara deretan batako yang dijemur, harapan itu perlahan tumbuh.
Batako yang dibuat Marcel dan Putri kelak menjadi bagian dari berdirinya dinding-dinding rumah yang dibangun oleh Yayasan Buddha Tzu Chi untuk dihuni oleh masyarakat korban bencana. Tangan-tangan Marcel dan Putri ikut menyusun sebuah proses yang lebih besar: menghadirkan rumah yang layak dan kokoh bagi keluarga korban banjir dan tanah longsor.
Pada saat yang sama, pembangunan perumahan Tzu Chi tersebut juga menghadirkan manfaat bagi keluarga yang terlibat dalam pembangunan. Ada ironi sekaligus keindahan di dalamnya. Saat Marcel dan Putri membantu membuat bahan material batako untuk pembangunan rumah korban bencana, pekerjaan itu justru membantu meningkatkan ekonomi keluarganya sendiri.
Pada pembangunan perumahan Tzu Chi Sibolga ini ada beberapa wanita yang menjadi pekerja kasar. Mereka rata-rata pasangan suami istri bekerja sebagai seniman bangunan.
Setiap batako yang mereka cetak menjadi bagian kecil dari dua harapan yang berjalan bersamaan, harapan bagi keluarga yang kelak menempati rumah, dan harapan bagi keluarga Marcel dan Putri yang menggantungkan penghasilan dari pekerjaan tersebut.
Bagi Marcel, pekerjaan ini mungkin hanya akan menjadi salah satu bagian dari perjalanan hidupnya. Namun, kesempatan untuk bekerja dan mendapatkan penghasilan lebih di tengah pembangunan Perumahan Tzu Chi Sibolga telah memberikan arti tersendiri.
“Bisa meningkatkan ekonomi, terima kasih buat Bapak Jacho (kontraktor) yang sudah menerima kami” ucap Marcel.
Sedikit, tetapi berarti.
Bagi sebuah keluarga sederhana, peningkatan ekonomi tidak selalu harus dimulai dari sesuatu yang besar. Kadang, ia tumbuh dari pekerjaan sederhana yang dilakukan dengan rajin dan tekun setiap hari. Dari pembangunan perumahan Tzu Chi di Sibolga yang bukan hanya menghadirkan tempat tinggal, tetapi juga membuka peluang peningkatan ekonomi keluarga bagi masyarakat di sekitarnya.
Di tengah suara hentakan palu kayu dan sekop, tumpukan pasir, semen, dan batako yang tersusun rapi, di sudut bangunan rumah-rumah yang telah berdiri dan dihuni, Marcel dan Putri terus bekerja membuat batako.
Mereka mungkin hanya mencetak ratusan batako setiap hari. Tetapi bagi keluarganya, setiap batako adalah bagian dari perjuangan hidup. Dari perjuangan kecil itulah, harapan untuk kehidupan yang lebih baik terus dibangun oleh Marcel dan Putri.
Editor: Fikhri Fathoni