Dari Huntara ke Huntap, Korban Banjir Aceh Utara Kembali Menata Hidup

Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan), Fotografer : Liani (Tzu Chi Medan)

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumut, Sekda Aceh Utara dan jajarannya serta relawan menyaksikan pengundian hunian tetap di kantor Camat Jambo Aye, Aceh Utara.

Tangis haru dan senyum bahagia mewarnai Aula Kantor Camat Tanah Jambo Aye, Panton Labu, Aceh Utara, pada Selasa, 3 Juni 2026. Setelah berbulan-bulan bertahan di hunian sementara akibat banjir besar pada Desember 2025 lalu, ratusan warga terdampak akhirnya mendapat kepastian untuk menempati hunian tetap.

Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Utara melakukan verifikasi dan pengundian Hunian Tetap (Huntap) Gotong Royong Pascabencana. Kegiatan ini diikuti warga dari Desa Meunasah Bujok dan Desa Alue Papuen, dengan total 220 unit rumah yang diundi.

Kegiatan ini juga dihadiri Sekretaris Daerah Aceh Utara, Dayan Albar, S.Sos., M.A.P., yang mewakili Bupati Aceh Utara, jajaran pemerintah daerah, unsur TNI-Polri, serta Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatra Utara, Mujianto, bersama para relawan Tzu Chi lainnya.

Dalam sambutannya, Dayan Albar menyampaikan apresiasi atas gerak cepat Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia dalam membantu pemulihan warga terdampak banjir. Menurutnya, bantuan huntap ini sangat berarti karena memberikan kepastian tempat tinggal bagi warga yang selama ini masih bertahan di hunian sementara maupun mengontrak rumah.

“Kami sangat bersyukur dengan kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi. Bantuan ini sangat meringankan masyarakat Kabupaten Aceh Utara. Tanah telah dipersiapkan oleh pemerintah daerah, sedangkan Yayasan Buddha Tzu Chi memberikan bantuan hunian tetap beserta perabotnya, berupa kasur, meja dan kursi makan, sofa, serta meja tamu,” ujar Dayan Albar.

Relawan bersama sama membawakan isyarat tangan lagu Satu keluarga saat acara, diikuti oleh warga, Bupati beserta jajarannya.

Malawati (paling kiri, jilbab abu) sedang mengikuti proses verifikasi data di kantor Camat Jambo Aye, Aceh utara.

Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatra Utara, Mujianto, menegaskan bahwa Tzu Chi berkomitmen menyelesaikan pembangunan huntap ini secepat mungkin agar warga dapat segera tinggal di tempat yang lebih aman dan layak. “Kami berusaha secepat mungkin agar proses pembangunan huntap dapat segera selesai dan dimanfaatkan oleh masyarakat. Jika kami menunda satu hari saja, berarti kami menambah kesulitan masyarakat. Karena itu, proses pembangunan harus berjalan cepat dan tepat agar warga dapat segera menempati rumah yang layak,” tegas Mujianto.

Bagi warga, bantuan huntap ini bukan sekadar bangunan fisik. Rumah tersebut menjadi tempat bernaung, ruang untuk memulihkan rasa aman, sekaligus titik awal untuk membangun kembali kehidupan.

Kunjungan Arpandy bersama relawan lainnya ke hunian sementara ibu Malawati. Perhatian bupati dan relawan membuat Malawati sangat terharu.

Kenangan pahit banjir Desember 2025 masih terekam jelas dalam ingatan Mustafa Ruddin (34). Saat banjir bandang menerjang, rumahnya hancur. Dalam kondisi kaki patah, ia tetap berjuang menyelamatkan ketiga anaknya. Salah satu anaknya bahkan sempat terlepas dan terseret arus sebelum akhirnya berhasil diselamatkan oleh warga.

Setelah hampir delapan bulan hidup berdesakan di hunian sementara yang sempit, panas, dan bocor, Mustafa kini bisa bernapas lega. Ia mendapatkan unit rumah di Blok B12. Ibundanya, Malawati, yang kini hidup sendiri setelah suaminya meninggal dunia, juga mendapatkan unit rumah di kompleks yang sama, yaitu di Blok A11.

“Hati saya sangat, sangat bahagia. Di huntara kondisinya sempit, sehingga kami tidur dengan ruang gerak terbatas. Panas dan atapnya juga bocor. Harapan saya ke depan, Mama bisa bahagia dan tinggal lebih baik. Jangan seperti dulu lagi, susah,” ungkap Mustafa dengan mata berkaca-kaca.

Rasa haru yang sama dirasakan Malawati. Ia tidak mampu membendung air mata saat melihat ketulusan para relawan yang datang dari jauh untuk membantu warga terdampak.

“Senang sekali ada yang peduli. Jauh-jauh dari Medan datang untuk melihat keadaan kami. Saya belum pernah melihat orang-orang yang begitu tulus seperti ini. Kami diberi rumah setelah rumah kami hancur dan roboh. Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang sudah memberikan rumah untuk kami,” tutur Malawati penuh haru.

Malawati dan anaknya Mustafa Ruddin sama sama mendapat huntap dari Tzu Chi. Keduanya mengenang rumah lama mereka yang bersebelahan di Desa Meunasah Alue Ie Puteh Kec Baktiya yang telah hanyut diterjang banjir dari gunung yang sangat deras arusnya.

Penyerahan Huntap: Rumah Baru, Harapan Baru
Rona bahagia kembali terlihat di wajah warga penyintas banjir di Kabupaten Aceh Utara pada Kamis, 4 Juni 2026. Pada hari itu, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyerahkan kunci Hunian Tetap tahap awal kepada 40 kepala keluarga di Desa Meunasah Bujok, Kecamatan Baktiya. Rumah-rumah tersebut diserahterimakan dalam kondisi siap huni, lengkap dengan bantuan perabotan.

Acara peresmian dan serah terima kunci ini dihadiri langsung oleh Bupati Aceh Utara, Haji Ismail A. Jalil, S.E., M.M., didampingi jajaran Sekda, asisten, kepala OPD, unsur Muspika Kecamatan Baktiya, perwakilan Forkopimda, Wakapolres, serta perwakilan Kejaksaan Negeri Aceh Utara. Turut hadir Ketua Tim Tanggap Darurat Tzu Chi Sumatra Utara, Timmy Jawira, bersama para relawan dari Medan dan Lhokseumawe.

Dalam sambutannya, Timmy Jawira menyampaikan bahwa penyerahan 40 unit rumah ini merupakan bagian dari komitmen besar pembangunan total 500 unit huntap yang tersebar di beberapa lokasi di Aceh Utara. Sebelumnya, pada 3 Juni 2026, relawan telah menyelesaikan verifikasi dan pengundian bagi 220 kepala keluarga calon penerima manfaat.

“Hari ini kami bersyukur bahwa 100 unit Huntap di Desa Meunasah Bujok telah selesai dibangun dan siap diserahterimakan secara bertahap. Pada tahap awal ini, 40 unit rumah beserta perabotan diserahkan. Kami berharap hunian ini dapat meringankan beban masyarakat dan menjadi langkah awal untuk membangun masa depan yang lebih baik,” ujar Timmy.

Keesokan harinya, Tzu Chi menyerahkan 40 rumah (Huntap) di Meunasah Bujok, Aceh Utara yang telah selesai dibangun.

Rumah juga sudah dilengkapi dengan tempat tidur, meja dan kursi dan perabotan lainnya. Relawan Tzu Chi membantu warga mengangkat perlengkapan rumah tangga untuk warga Huntap Aceh Utara.

Timmy juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Utara yang telah memberikan dukungan infrastruktur, seperti akses jalan, listrik, dan air bersih. Dukungan ini menjadi bagian penting agar warga dapat segera menempati rumah dengan lebih nyaman dan aman.

Apresiasi mendalam juga disampaikan oleh Bupati Aceh Utara, Haji Ismail A. Jalil. Ia menegaskan bahwa bantuan ini merupakan bukti nyata indahnya toleransi dan kemanusiaan di Indonesia, di mana kepedulian dapat mengalir tanpa memandang suku maupun agama. “Mari kita bersama mengucapkan ribuan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi. Seperti lirik lagu yang kita dengarkan tadi, kita ini Satu Keluarga. Ini adalah contoh nyata bagaimana kita hidup di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Banyak suku dan agama, tetapi kemanusiaan itu satu,” tutur Bupati.

Bupati juga mengajak masyarakat untuk mengambil hikmah dari musibah ini dengan kesabaran dan rasa syukur. Ia berharap rumah baru ini dapat menjadi tempat bagi warga untuk memulai kehidupan yang lebih baik.

Dari Nestapa Menuju Hunian Layak
Di balik tembok-tembok kokoh huntap yang baru berdiri, tersimpan kisah-kisah perjuangan warga yang menyentuh hati. Salah satunya adalah kisah Yusnidar. Ia masih mengingat jelas malam ketika banjir bandang menerjang dari arah gunung. Air setinggi dada mengalir begitu deras dan membuat warga panik menyelamatkan diri.

Kini, kesedihan itu perlahan berganti rasa syukur. Rumah lamanya yang sederhana dan tidak memiliki kasur kini tergantikan dengan rumah baru yang dilengkapi kasur, sofa, meja tamu, serta meja makan. Saat memasuki rumah barunya, Yusnidar memanjatkan doa dan rasa syukur karena akhirnya kembali memiliki tempat tinggal yang layak.

“Bahagia sekali, sampai ingin menangis. Bukan menangis karena sedih, tetapi menangis bahagia. Tidak pernah kami sangka bisa mendapatkan rumah yang bagus, lengkap dengan sofa, kasur, dan perabot lainnya. Terima kasih banyak untuk semua yang sudah membantu,” ungkap Yusnidar menahan tangis haru saat dikunjungi Bupati dan relawan di rumah barunya.

Sukacita dan haru Yusnidar ketika mendapat hunian baru dan juga pendampingan dari relawan Tzu Chi.

Yusnidar sangat bahagia ketika Bupati dan relawan Tzu Chi mengunjungi Hunian barunya di unit H-15.

Kisah serupa dialami Aminah, seorang ibu yang telah kehilangan suaminya. Kondisi kesehatannya juga tidak sepenuhnya baik karena kedua kakinya sakit saat berjalan. Aminah memiliki dua anak perempuan dan berasal dari Desa Biara Barat, Kecamatan Tanah Jambo Aye.

Saat banjir datang mendadak sekitar pukul 05.00 pagi dalam kondisi listrik padam, rumah kayu dan triplek miliknya hanyut tanpa sisa. Ia sempat tinggal di pengungsian yang padat, sulit tidur, bahkan terpaksa meminum air keruh. Setelah itu, Aminah menumpang di rumah anaknya.

Kini, Aminah resmi menempati unit F3. Senyumnya merekah ketika melihat rumah barunya yang beralaskan keramik, lengkap dengan kasur, sofa, dan perabotan dari Tzu Chi. Rumah itu menjadi jawaban atas doa dan kesabarannya selama melewati masa-masa sulit. “Saya sangat bahagia dan berterima kasih atas kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi dan pemerintah yang telah memberikan rumah kepada saya. Rumah kayu dan triplek milik saya dulu hanyut tanpa sisa. Semoga kebaikan ini mendapat balasan yang berlimpah,” ungkap Aminah dengan haru.

Gotong Royong Memulihkan Kehidupan
Andre Zulman dari Tim Eksternal dan Sosial Proyek Tzu Chi Indonesia menjelaskan bahwa program ini merupakan bagian dari visi jangka panjang gotong royong pascabencana di Provinsi Aceh. Secara keseluruhan, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berkomitmen mengalokasikan hingga 1.000 unit rumah yang difokuskan bagi wilayah terdampak di Aceh Tamiang dan Aceh Utara.

Bupati Aceh Utara, Isamail A. Jalil, SE, MM, Timmy Jawira dan relawan Tzu Chi lainnya mengunjungi Huntap yang akan diterima warga.

Di Aceh Utara, bantuan difokuskan pada wilayah yang aman, termasuk Desa Meunasah Bujok dan Desa Meupat Anto. Melalui hunian yang layak ini, warga yang direlokasi diharapkan dapat hidup dengan lebih baik, aman, nyaman, harmonis, rukun, dan damai.

Penyerahan 40 unit rumah tahap awal ini menjadi langkah penting dalam pemulihan pascabencana di Aceh Utara. Harapan besar kini tertuju pada penyelesaian sisa pembangunan huntap yang progresnya telah mencapai 60 hingga 70 persen dan diharapkan dapat rampung dalam beberapa minggu ke depan.

Melalui kerja sama yang harmonis antara pemerintah daerah, relawan, dan kesabaran warga, para penyintas banjir di Aceh Utara kini tidak hanya mendapatkan tempat tinggal yang aman dan sehat. Mereka juga mendapatkan kesempatan kedua untuk merajut kembali kehidupan yang lebih sejahtera, lebih bermartabat, dan tentunya lebih aman dari bayang-bayang bencana.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Dari Huntara ke Huntap, Korban Banjir Aceh Utara Kembali Menata Hidup

Dari Huntara ke Huntap, Korban Banjir Aceh Utara Kembali Menata Hidup

08 Juni 2026
Tzu Chi bersama Pemkab Aceh Utara membangun Huntap bagi korban banjir. Bantuan melalui proses verifikasi, pengundian, hingga penyerahan tahap awal 40 unit beserta perabotannya.
Pembangunan Hunian Tetap di Aceh: Progres Pembangunan 500 Rumah di Aceh Tamiang

Pembangunan Hunian Tetap di Aceh: Progres Pembangunan 500 Rumah di Aceh Tamiang

12 Maret 2026

Relawan Tzu Chi Medan bersama pihak Pemerintah Daerah Aceh meninjau progres pembangunan 500 hunian tetap (huntap) di Desa Tanjung Seumantoh, Aceh Tamiang. 

Tzu Chi Serahkan 40 Unit Huntap Bagi Korban Banjir Bandang di Aceh Utara

Tzu Chi Serahkan 40 Unit Huntap Bagi Korban Banjir Bandang di Aceh Utara

08 Juni 2026

Sebanyak 100 keluarga penyintas banjir Sumatera di Aceh Utara akhirnya mendapatkan harapan baru melalui pembangunan Hunian Tetap oleh Tzu Chi Indonesia di Desa Meunasah Bujok.

Bila sewaktu menyumbangkan tenaga kita memperoleh kegembiraan, inilah yang disebut "rela memberi dengan sukacita".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -