Suryati, relawan Tzu Chi, dengan penuh ketulusan dan cinta kasih mendampingi Haikal untuk diperiksa oleh dokter TIMA saat mengikuti baksos Kesehatan.
Setiap kepedulian dapat menjadi awal dari sebuah harapan. Bagi Muhammad Haikal (5) dan keluarganya, perjumpaan dalam kegiatan Misi Kesehatan Tzu Chi di Medan Belawan menjadi awal perjalanan panjang yang dipenuhi perjuangan, pendampingan, dan cinta kasih.
Setiap tahun, bakti sosial kesehatan rutin dilaksanakan di lingkungan Sekolah SD Negeri 66, 67, dan 68, Jalan Hiu Pajak Baru, Kelurahan Belawan Bahagia, Kecamatan Medan Belawan. Kegiatan ini menghadirkan berbagai pelayanan kesehatan, mulai dari pengobatan umum, pemeriksaan gigi, klinik anak, THT, hingga pemeriksaan kulit. Pelayanan Kesehatan tersebut menjadi wujud kepedulian kepada masyarakat yang membutuhkan.
Di tengah kegiatan tersebut, sebuah perjumpaan sederhana menjadi awal dari perjalanan yang meninggalkan kesan mendalam. Saat itu, pada 2024, Haikal baru berusia sekitar tiga tahun. Ia datang bersama keluarganya dalam keadaan menangis dan sulit mengikuti antrian seperti pasien lainnya. Melihat kondisi anak tersebut, Suryati, relawan Tzu Chi sekaligus koordinator kegiatan, menghampiri Haikal dan berusaha membantu agar ia dapat segera diperiksa tim medis.
Haikal kemudian diperiksa oleh salah satu dokter TIMA yaitu dr. Ariyanto, Sp.A., melihat adanya kondisi yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut, Haikal disarankan untuk dirujuk ke rumah sakit agar mendapatkan pemeriksaan menyeluruh oleh dokter spesialis anak dan dokter spesialis mata.
Relawan Tzu Chi memberikan perhatian kepada haikal setelah diperiksa oleh dokter TIMA. Melalui perhatian kecil ini, diharapkan dapat memeberikan rasa semangat untuk Haikal dan keluarga.
Hasil pemeriksaan lanjutan menunjukkan bahwa pertumbuhan Haikal tidak mengalami masalah berarti. Namun, pemeriksaan mata di Rumah Sakit SMEC oleh dr. Balqis Desy, Sp.M., memberikan hasil yang berbeda, Haikal didiagnosis mengalami cortical blindness atau kebutaan kortikal, yaitu gangguan penglihatan yang berkaitan dengan bagian otak yang memproses informasi visual.
Bagi kedua orang tuanya, kabar tersebut tentu bukan hal yang mudah diterima, di usia yang masih sangat kecil, Haikal harus menghadapi kondisi yang membuatnya kesulitan melihat dan mengenali lingkungan di sekitarnya, seolah-olah dunia yang seharusnya penuh warna menjadi gelap baginya.
Perjuangan Haikal melawan penyakitnya sejak usia belia membuat rasa empati siapa pun yang mendampinginya, tak terkecuali Suryati. Saat mendampingi Haikal, Suryati tak mampu menyembunyikan rasa sedihnya, namun ia menegaskan komitmennya untuk memastikan Haikal dan keluarganya tidak berjuang sendirian.
“Hati saya turut terenyuh melihat kondisi yang harus dihadapinya sejak usia begitu dini. Ada rasa sedih dan keprihatinan, tetapi juga tumbuh tekad untuk terus memberikan perhatian dan mendukung keluarga agar Haikal mendapatkan pendampingan yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Suryati, relawan Tzu Chi, mendampingi Haikal untuk pemeriksaan lebih lanjut dengan dr.Balqis Desy di Rumah Sakit SMEC Medan.
Dokter menyarankan agar Haikal mendapatkan stimulasi secara rutin melalui permainan bercahaya, benda-benda berwarna, serta aktivitas yang dapat membantu merangsang respons penglihatannya. Haikal juga dianjurkan menjalani pemeriksaan berkala setiap tiga bulan agar perkembangannya dapat terus dipantau.
Terus Mendampingi Haikal Hingga Membaik
Ardiansyah Putra, ayah Haikal, sehari-hari bekerja sebagai buruh kapal dan harus menafkahi empat orang anak. Kondisi ekonomi keluarga menjadi tantangan tersendiri untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari sekaligus menjalani pengobatan dan pemeriksaan secara rutin.
Di tengah keterbatasan tersebut, Suryati dengan bersungguh hati mendampigi pengobatan Haikal, serta memberikan bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berupa susu formula dan vitamin untuk mata yang tidak ditanggung oleh BPJS kesehatan.
Dengan penuh ketulusan, relawan mengantarkan bantuan Tzu Chi berupa susu formula dan vitamin mata untuk Haikal.
Melihat ketulusan hati relawan yag mendampingi Haikal menyentuh hati dr. Balqis Desy, Sp.M, dokter yang memeriksa Haikal dan memberikan perhatian kepadanya. Beberapa kebutuhan pengobatan, termasuk obat-obatan dan kacamata yang tidak ditanggung BPJS kesehatan beberapa kali dibantu tanpa biaya untuk meringankan beban keluarga.
Keluarga juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya memperhatikan perkembangan anak dan tidak mengabaikan perubahan perilaku yang tidak biasa. Perhatian sejak dini serta pemeriksaan yang tepat menjadi bagian penting dalam mendukung tumbuh kembang anak.
Selain pemeriksaan dari dokter, pendampingan relawan turut menjadi bagian berarti dalam perjalanan Haikal. Bantuan yang diberikan tidak hanya meringankan kebutuhan keluarga, tetapi juga menghadirkan semangat untuk terus berjuang.
Relawan Tzu Chi melakukan kunjungan kasih untuk melihat langsung perkembangan Kesehatan pada mata Haikal. Kini, setelah menjalani berbagai proses pengobatan Haikal dapat beraktivitas seperti membaca buku.
Waktu terus berjalan, Haikal menjalani perjuangan bersama keluarganya, dengan pendampingan relawan dan stimulasi sesuai anjuran dokter. Hingga September 2026, kabar menggembirakan datang. Pengelihatan Haikal mulai menunjukkan perkembangan positif, meskipun penglihatannya belum sepenuhnya kembali seperti yang diharapkan. Kini, ia mulai dapat melihat dan mengenali lingkungan di sekitarnya. Mendengar kabar tersebut, relawan Tzu Chi dengan perasaan bahagia melakukan kunjungan kasih ke rumah Haikal pada 16 oktober 2026.
Perkembangan demi perkembangan membawa kebahagiaan tersendiri bagi keluarganya. Haikal mulai mengenali warna, bergerak dengan lebih mandiri, dan bisa bermain bersama anak-anak seusianya. Jika sebelumnya ia membutuhkan bantuan orang tua atau saudara untuk mengarahkan langkahnya, kini ia mulai mampu melakukan lebih banyak aktivitas sendiri.
Aisyah, ibunda Haikal, dari hati yang tulus menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian serta kepedulian yang telah diberikan. “Saya sangat bersyukur dan berterima kasih kepada Tzu Chi dan relawan yang telah memberikan perhatian dan pendampingan kepada Haikal, sehingga kini pengelihatannya menunjukkan perkembangan yang baik,” ungkap Aisyah.
Bagi mereka, bantuan tersebut bukan hanya memenuhi kebutuhan sehari-hari, tetapi juga memberikan kekuatan untuk terus mendampingi Haikal menjalani proses pemulihan dan perkembangannya.
Suryati dan relawan Tzu Chi lainnya yang mendampingi Haikal, dengan penuh suka cita merayakan ulang tahun Haikal saat kunjungan kasih.
Sebagai relawan yang mendampingi dan mengikuti perjalanan Haikal, suryati menyampaikan rasa haru dan syukur atas perkembaangan pengelihatan Haikal.
“Saya merasa sangat terharu, masih teringat ketika Haikal pertama kali datang dan didiagnosis mengalami kebutaan kortikal. Saat itu, tidak mudah membayangkan bagaimana perjalanan panjang yang akan dilalui anak sekecil dirinya. Melihat Haikal mulai dapat melihat kembali merupakan kebahagiaan yang luar biasa, perasaan haru, syukur, dan bahagia bercampur menjadi satu,” ungkapnya haru.
Dari kisah perkembangan pengelihatan Haikal ini, mengingatkan bahwa kita tidak pernah tahu sejauh mana sebuah perhatian dapat membawa arti bagi kehidupan seseorang. Karena itu, selama masih ada kesempatan untuk membantu, kita hendaknya terus memberikan perhatian dan pendampingan dengan penuh ketulusan.
Editor: Fikhri Fathoni