Sutini (kiri) menjelaskan pembuatan menu Pek Cam Ke Jamur dengan menggunakan jamur King Oyster.
Setelah menyelesaikan kegiatan pemilahan barang-barang daur ulang pada 5 Agustus 2026, para relawan Tzu Chi Komunitas Medang mengikuti demo masak vegetarian di Depo Pendidikan Daur Ulang Tzu Chi Medang, Pagedangan, Tangerang.
Kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian Bulan Tujuh Penuh Berkah ini memperkenalkan beragam olahan berbahan nabati sekaligus mengajak relawan mengenal pilihan makanan yang lezat, sehat, dan mudah diolah.
Kegiatan berlangsung pada bulan Agustus yang bertepatan dengan Chit Gwee, atau bulan ketujuh dalam penanggalan lunar. Dalam tradisi Tionghoa, bulan ketujuh dikenal sebagai momentum untuk menumbuhkan rasa syukur, berbuat kebajikan, dan berbagi kasih kepada sesama. Di Tzu Chi, semangat tersebut diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang mengajak masyarakat menebarkan cinta kasih, menjaga lingkungan, serta menerapkan pola hidup yang lebih sehat.
Sebelum acara demo masak, Gunawan mengenalkan apa visi dan misi Yayasan Buddha Tzu Chi.
Dari Daur Ulang Berlanjut ke Demo Masak Makanan Vegetarian
Sebelum mengikuti demo masak, para relawan terlebih dahulu melakukan kegiatan daur ulang di Depo Pendidikan Daur Ulang Tzu Chi Medang. Para relawan bersama-sama memilah dan mengolah barang-barang yang masih dapat didaur ulang. Kegiatan berlangsung pukul 09.00 hingga 12.00 WIB.
Setelah kegiatan daur ulang selesai, para relawan kemudian masuk ke dalam ruang untuk mengikuti demo masak vegetarian. Kegiatan diawali dengan kata sambutan dari Ingga Lim, selaku PIC Demo Masak, yang didampingi oleh Sutini dan Rosmina sebagai pengisi demo masak.
Dalam sambutannya, Ingga Lim menjelaskan bahwa kegiatan demo masak vegetarian tidak sekadar memperkenalkan cara mengolah makanan, tetapi juga menjadi sarana untuk mengajak lebih banyak orang mengenal pola makan berbasis nabati.
“Tujuan demo memasak vegetarian adalah memperkenalkan variasi menu nabati yang lezat, mendidik masyarakat tentang pola hidup sehat, serta mengajak orang-orang untuk mengurangi konsumsi daging demi kelestarian bumi dan kesehatan tubuh,” ujar Ingga Lim.
Ingga Lim dan Sutini tengah mengatur tata letak bahan - bahan yang dipakai dalam demo memasak.
Para relawan kemudian menerima selembar kertas yang berisi dua menu vegetarian yang akan diperagakan. Menu tersebut adalah pek cam ke jamur dan tahu sawi asin. Kedua hidangan ini dipilih karena bahan-bahannya relatif mudah ditemukan dan cara pengolahannya dapat dipraktikkan kembali di rumah.
Saat demo memasak dimulai, para relawan tampak antusias. Mereka diperbolehkan untuk maju dan melihat proses memasak dari jarak yang lebih dekat. Dengan penuh perhatian, para relawan menyaksikan setiap tahapan pengolahan bahan hingga hidangan selesai disajikan.
Antusiasme semakin terlihat ketika aroma masakan mulai memenuhi ruangan. Para relawan tampak penasaran dengan cita rasa hidangan yang sedang dibuat. Setelah proses memasak selesai, mereka pun mendapat kesempatan untuk mencicipi kedua menu tersebut.
Senyum dan wajah bahagia terlihat pada para relawan saat menikmati hidangan vegetarian. Cita rasa yang dihasilkan pun mendapat respons positif. Hidangan berbahan dasar nabati tersebut dinilai memiliki rasa yang lezat dan tidak kalah dengan hidangan yang menggunakan bahan hewani.
Rosmina memperlihatkan step by step memasak tahu sayur asin dan Sutini membantu menjelaskan kepada para relawan.
Belajar Vegetarian dari Hidangan yang Sederhana
Salah satu relawan yang mengikuti kegiatan tersebut, Rio Rita, mengaku senang dapat mengikuti demo masak menu vegetarian. Baginya, kegiatan ini memberikan kesempatan untuk mempelajari cara mengolah menu vegetarian yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Rio Rita mengatakan bahwa ia sebelumnya sudah pernah memasak menu makanan vegetarian, tetapi masih sebatas menu sederhana. Ia juga pernah mencoba mempraktikkan resep menu vegetarian dari Tzu Chi di rumah, meskipun memilih resep yang tidak terlalu rumit. Ia berharap semakin banyak orang yang tertarik untuk mencoba pola makan vegetarian. “Semoga yang belum vegetarian bisa ikut bervegetarian,” harap Rio.
Sementara itu, Prigina mengaku bahwa kegiatan ini merupakan pengalaman pertamanya mengikuti demo masak vegetarian dalam rangkaian Bulan Tujuh Penuh Berkah. “Saya sangat terkesan. Ternyata makanan vegetarian rasanya enak, tampilannya menarik, dan tidak kalah enak dengan masakan lainnya,” ucap Prigina. Salah satu menu yang menarik perhatiannya adalah olahan jamur yang menyerupai ayam Hainan.
Prigina sendiri sudah beberapa kali memasak menu vegetarian sederhana seperti tahu, tempe, sayuran, dan jamur. Ia juga pernah mempraktikkan resep vegetarian dari Tzu Chi setelah membeli buku resep menu vegetarian di Jing Si. Salah satu resep yang pernah dibuatnya adalah soto tangkar. Baginya, bervegetaris tidak harus langsung dilakukan secara penuh. Kebiasaan tersebut dapat dimulai secara perlahan dan konsisten.
“Belajar untuk bervegetaris minimal satu minggu sekali, kemudian durasinya nanti ditambah. Sehingga kita berkesadaran penuh satu hari tidak makan yang bernyawa. Pastinya akan membuat lebih bahagia,” pesan Prigina.
Dua macam menu vegetarian yang didemonstrasikan.
Demo memasak menu vegetarian dalam rangkaian Bulan Tujuh Penuh Berkah bukan sekadar kegiatan memasak, tetapi juga mengajak para relawan menyadari bahwa pilihan makanan dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kesehatan dan kelestarian bumi.
Setelah mengikuti kegiatan daur ulang, para relawan belajar mengolah makanan berbasis nabati. Kedua kegiatan ini menjadi pengingat bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti memilah barang yang dapat didaur ulang dan memilih makanan yang lebih ramah bagi bumi.
Melalui semangat Bulan Tujuh Penuh Berkah, kegiatan ini diharapkan dapat menumbuhkan kebiasaan baik yang diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dari memilah barang hingga memilih makanan, setiap langkah kecil dapat menjadi wujud cinta kasih kepada bumi dan sesama.
Editor: Anand Yahya