Relawan Tzu Chi mendatangi rumah Ibu Murni yang berada di Kampung Pulo Geulis, Babakan Pasar, Bogor Tengah, Kota Bogor. Rumah yang ditempati Ibu Murni berdiri di atas tanah seluas 17 meter persegi. Awalnya rumah ini tidak memiliki toilet. Kini rumah Ibu Murni terlihat bersih, dan lebih sehat karena terdapat jendela.
Gang itu masih sama. Lebarnya tak sampai dua meter. Dinding-dinding rumah berhimpitan di kiri dan kanan, menyisakan lorong sempit yang hanya cukup dilalui dua orang yang berjalan berpapasan. Cahaya matahari hanya turun sesekali, menyelinap dari sela-sela atap dan jemuran pakaian yang bergantungan di atas kepala.
Dua orang relawan Tzu Chi Bogor pagi itu kembali memasuki gang yang sudah sangat mereka kenal.
Namun, ada sesuatu yang berbeda. Di ujung lorong, sebuah rumah bercat putih berdiri bersih. Pintu dan jendelanya tampak baru. Cahaya dari dalam rumah memantul keluar, membuat lorong yang sempit itu terasa lebih hidup dibandingkan dengan beberapa bulan sebelumnya.
Belum sempat para relawan mengetuk pintu, seorang perempuan mungil sudah lebih dulu muncul.
"Ibu..."sapa relawan lirih.
Perempuan berusia 59 tahun itu sontak menutup mulutnya dengan kedua tangan. Matanya menyipit karena tersenyum begitu lebar. Tubuhnya sedikit membungkuk sambil tertawa kecil, seolah masih sulit mempercayai bahwa rumah yang kini berdiri kokoh itu benar-benar rumahnya.
"Ya Allah..."ucapnya berulang-ulang. Ekspresi itu begitu tulus. Tidak dibuat-buat. Sebuah tawa yang lahir setelah sekian lama hidup berdampingan dengan rasa takut.
Relawan Tzu Chi Bogor, Aay dan Dewi, relawan yang dulunya mensurvei rumah Ibu Murni, sangat senang melihat rumah Ibu Murni kini terlihat bersih dan layak huni karena sudah ada toilet.
Relawan pun ikut tersenyum. Tak banyak kata yang mampu ia ucapkan.Tatapannya justru lebih sering berkeliling ke setiap sudut rumah, seolah masih sulit mempercayai bahwa tempat tinggal dengan rasa aman dan nyaman yang selama puluhan tahun ia impikan kini benar-benar terwujud.
"Alhamdulillah... sekarang sudah begini," katanya pelan. Bagi orang lain, rumah itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi Murni, rumah itu adalah jawaban atas doa yang dipanjatkannya selama bertahun-tahun. Sulit membayangkan bahwa beberapa bulan sebelumnya, rumah yang sama justru menjadi sumber ketakutan terbesar dalam hidupnya.
Begitu langit mulai menghitam dan angin bertiup semakin kencang, Murni tak pernah benar-benar bisa menikmati malam. Ia selalu gelisah. Yang ada di kepalanya hanya satu.
Ibu Murni sangat terharu bisa bertemu kembali dengan relawan Tzu Chi yang dahulu mensurvei rumahnya.
Apakah rumah ini masih sanggup bertahan sampai pagi?
Atap yang mulai lapuk sering mengeluarkan bunyi berderit setiap kali diterpa angin. Kayu-kayu tua tampak rapuh dimakan usia. Tikus dan kucing yang berlarian di atas atap kerap jatuh ke dalam rumah.
"Kalau hujan angin, saya lari ke rumah tetangga. Takut cucu saya ketiban kayu," kenangnya.
Rumah sederhana itu dihuni oleh tujuh orang. Murni tinggal bersama tiga anak dan tiga cucunya dalam ruang yang sempit dengan dinding kusam, lantai semen yang mulai hancur, serta atap yang sewaktu-waktu bisa roboh. Saat hujan turun, rasa takut juga menyelimuti keluarga ini. Yang lebih memprihatinkan, keluarga Murni bahkan belum memiliki kamar mandi sendiri.
Selama bertahun-tahun ia mandi, mencuci pakaian, mencuci piring, hingga mengambil air di aliran kali yang berada tak jauh dari rumah. Untuk buang air besar, ia harus bergantian menumpang ke fasilitas umum atau memanfaatkan sungai ketika keadaan mendesak.
Semua itu dijalani tanpa banyak mengeluh. Namun setiap malam sebelum tidur, ia selalu menyimpan doa yang sama.
"Ya Allah... semoga suatu hari rumah ini bisa diperbaiki,” doanya lirih.
Harapan itu nyaris padam ketika suatu hari seseorang menawarkan bantuan renovasi rumah. Murni sempat merasa doanya akan terkabul. Namun, harapan itu kembali runtuh saat ia diminta menanggung biaya seniman bangunan.
"Saya memang enggak punya uang sama sekali," katanya. Ia pun memilih mengubur keinginannya untuk memiliki rumah yang layak. Baginya, bertahan hidup setiap hari jauh lebih penting daripada memikirkan mimpi yang terasa mustahil.
Ibu Murni mencari nafkah dengan berjualan kue berkeliling ke rumah-rumah dari pukul 05.30 hingga 10.00 WIB.
Hingga suatu pagi, Pak RT datang mencari anaknya, Maharani. "Ada program Rumah Tidak Layak Huni dari Yayasan Buddha Tzu Chi," ujar Pak RT. Murni terpaku."Hah? Benar, Pak? Jangan bohong ya?" Kalimat itu terlontar begitu saja.
Bukan karena ia tidak percaya. Tetapi karena ia terlalu sering dikecewakan oleh harapan. Sesungguhnya, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia tidaklah asing dalam perjalanan hidup Murni. Hubungan mereka telah terjalin jauh sebelum rumah itu dibangun kembali.
Ketika suaminya jatuh sakit pada 2015, relawan Tzu Chi rutin mendampingi keluarganya melalui bantuan biaya hidup setiap bulan. Bantuan itu menjadi penyangga bagi keluarga kecil tersebut hingga sang suami berpulang pada 2017.
"Yayasan Buddha Tzu Chi sudah membantu suami saya sampai beliau meninggal," kenangnya. Setelah masa pendampingan selesai, tali kasih itu tidak pernah benar-benar putus. Murni tetap datang mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan bersama relawan. Di sanalah ia kembali bertemu dengan Inge, Dewi, dan relawan Tzu Chi lainnya yang selama ini telah ia kenal.
Pertemuan sederhana itu kemudian menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya. Selama proses renovasi, relawan hampir setiap minggu datang untuk melihat perkembangan rumah. Bagi Murni, kehadiran mereka menghadirkan rasa hangat yang sulit diungkapkan. Namun, justru ada satu hal yang terus mengganjal pikirannya.
Ia merasa tidak mampu menjamu orang-orang yang telah begitu banyak membantunya. "Saya sedih... enggak bisa ngasih apa-apa. Kadang kalau anak lagi ada rezeki, saya beliin kopi. Tapi kalau enggak ada uang, saya malu." Kalimat itu berulang kali ia ucapkan. Ia tidak pernah merasa berhak menerima tanpa memberi.
Kondisi rumah Ibu Murni ketika relawan Tzu Chi mensurvei. Depan rumah becek, kondisi di dalam rumah lembap, tembok rumah dan lantai banyak yang bolong-bolong, dan atap rumah banyak yang keropos.
Di tengah keterbatasannya, ia tetap ingin menghormati tamu yang datang ke rumahnya. Sikap itulah yang membuat para relawan semakin mengenal ketulusan hati perempuan sederhana ini.
Di luar itu, berbagai komentar miring sempat terdengar dari lingkungan sekitar. Ada yang mengatakan rumahnya tidak akan selesai direnovasi. Ada pula yang menilai para seniman bangunan akan berhenti bekerja sebelum pembangunan rampung. Murni memilih diam. Ia lebih memilih percaya kepada orang-orang yang bekerja dengan hati. Dan kepercayaan itu tidak pernah dikhianati.
Hari demi hari, rumahnya perlahan berubah. Atap yang rapuh berganti menjadi kokoh. Dinding kusam menjadi putih bersih. Lantai semen berubah menjadi keramik yang rapi. Pintu dan jendela baru dipasang. Lalu untuk pertama kalinya dalam hidup, Murni memiliki kamar mandi di rumahnya sendiri.
"Alhamdulillah... sekarang saya sudah punya kamar mandi. Senang sekali," ucapnya penuh syukur.
Kini setiap pagi Murni tetap menjalani rutinitasnya berjualan selepas salat Subuh hingga sekitar pukul sepuluh pagi. Yang berbeda hanyalah satu hal. Saat pulang, ia tidak lagi kembali ke rumah yang membuatnya cemas. Ia pulang ke rumah yang membuatnya merasa aman.
Rumah yang melindungi anak-anak dan cucu-cucunya. Rumah yang mengembalikan martabat keluarganya. Sebelum berpamitan hari itu, salah seorang relawan kembali mengingatkan dengan lembut.
"Rumah ini dijaga ya, Bu. Jangan dijual, jangan dikontrakkan," pesan relawan dengan penuh kasih.
Kondisi di dalam rumah Ibu Murni ketika relawan survei beberapa bulan yang lalu didampingi oleh petugas dari Kelurahan Babakan Pasar, Bogor Tengah.
Murni mengangguk pelan. Baginya, rumah itu bukan sekadar bangunan baru. Rumah itu adalah bukti bahwa kasih sayang tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Kadang ia hadir sebagai tangan-tangan yang bekerja tanpa pamrih. Kadang hadir sebagai relawan yang setia datang mendampingi. Kadang hadir sebagai orang-orang yang percaya bahwa setiap keluarga berhak tinggal di rumah yang layak.
Ketika ditanya apa yang ingin ia sampaikan kepada seluruh relawan Tzu Chi, mata Murni kembali berkaca-kaca.
"Saya enggak bisa membalas kebaikan Yayasan Buddha Tzu Chi. Saya cuma bisa mendoakan. Mudah-mudahan semua relawan selalu sehat, panjang umur, dan terus bisa membantu orang lain." Doa itu meluncur tulus dari seorang perempuan yang dulu selalu cemas setiap kali hujan turun.
Kini, ketika rintik hujan kembali menyapa atap rumahnya, Murni tak lagi berlari ke rumah tetangga. Ia hanya menutup pintu, memandang langit dari balik jendela yang baru, lalu tersenyum. Karena akhirnya... Ia memiliki sebuah rumah yang benar-benar bisa disebut rumah.
Editor: Fikhri Fathoni