Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Wali Kota Bogor Tinjau Program Bebenah Kampung

Jurnalis : Metta Wulandari, Fotografer : Metta Wulandari, Dok. Pribadi

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, bersama relawan Tzu Chi meninjau langsung kawasan penerima manfaat Program Bebenah Kampung di Kelurahan Babakan Pasar. Peninjauan dilakukan untuk melihat perkembangan program bedah rumah sekaligus mendengarkan kondisi warga secara langsung.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, melakukan peninjauan Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH) bersama Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Kelurahan Babakan Pasar, Kota Bogor, pada Minggu (28/6/2026). Kegiatan yang dimulai pukul 09.00 WIB ini diawali di Kantor Kelurahan Babakan Pasar sebelum dilanjutkan dengan mengunjungi rumah-rumah warga penerima manfaat.

Dalam kunjungan tersebut, Dedie A. Rachim meninjau enam rumah penerima bantuan yang menjadi bagian dari 33 rumah yang telah rampung dibangun pada tahap pertama program ini. Selain melihat langsung hasil pembangunan, Wali Kota Bogor juga berdialog dengan para penerima manfaat untuk mendengarkan pengalaman mereka setelah memiliki rumah yang lebih layak huni.

Di Kota Bogor, Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH) merupakan kolaborasi antara Pemerintah Kota Bogor dan Tzu Chi dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat. Secara keseluruhan, program ini menargetkan pembangunan 250 rumah di Kota Bogor, yang terdiri atas 204 rumah di Kelurahan Babakan Pasar dan 46 rumah di Kelurahan Sukasari. Dari target tersebut, sebanyak 33 rumah telah berhasil diselesaikan pada tahap pertama.

Wali Kota Bogor bersama relawan Tzu Chi mengunjungi salah satu rumah penerima manfaat Program Bebenah Kampung. Dalam kesempatan tersebut, rombongan melihat langsung perubahan kondisi rumah sekaligus berbincang dengan keluarga penerima manfaat mengenai dampak yang dirasakan setelah rumah selesai diperbaiki.

Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, mengatakan kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi bagaikan oase di tengah keterbatasan pemerintah daerah dalam menyalurkan bantuan sosial. Menurutnya, sejumlah program bantuan pemerintah harus mengacu pada ketentuan desil, yakni pemeringkatan tingkat kesejahteraan masyarakat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Kondisi tersebut membuat tidak semua warga yang secara nyata membutuhkan bantuan dapat langsung memperoleh intervensi dari pemerintah karena adanya persyaratan administratif yang harus dipenuhi.

Dalam situasi inilah, kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi menjadi pelengkap yang sangat berarti. Berlandaskan semangat kemanusiaan, Tzu Chi dapat menjangkau masyarakat berdasarkan kondisi riil yang ditemui di lapangan. Kolaborasi antara Pemerintah Kota Bogor dan Yayasan Buddha Tzu Chi pun menjadi wujud sinergi dalam menghadirkan solusi bagi warga yang membutuhkan. Melalui kerja sama ini, masyarakat yang belum dapat terakomodasi dalam skema bantuan pemerintah tetap memperoleh kesempatan untuk mendapatkan bantuan, termasuk melalui program bedah rumah, sehingga kualitas hidup mereka dapat meningkat.

“Ada warga yang ketika dilihat langsung kondisinya memang membutuhkan bantuan, tetapi pemerintah tidak selalu bisa mengintervensi karena terikat aturan. Alhamdulillah, Yayasan Buddha Tzu Chi hadir dan sangat membantu. Tadi kami sudah melihat beberapa rumah sebagai sampel atau contoh. Terlihat sekali perbedaannya sangat jauh, dari sebelum dan sesudah diperbaiki," ujar Dedie.

Wali Kota Bogor melihat langsung kondisi renovasi rumah saat meninjau salah satu rumah penerima manfaat. Kolaborasi antara Pemerintah Kota Bogor dan Tzu Chi menjadi upaya bersama menghadirkan hunian yang lebih layak bagi masyarakat.

Melalui peninjauan ini, Pemerintah Kota Bogor bersama Tzu Chi menunjukkan komitmen untuk terus menghadirkan hunian yang lebih aman, sehat, dan layak bagi masyarakat. Diharapkan, pembangunan dapat terus berlanjut hingga seluruh target 250 rumah selesai direalisasikan sehingga semakin banyak warga yang merasakan manfaat Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH).

Rezeki yang Mengetuk Pintu
Harapan yang terwujud itu kini mulai dirasakan oleh para penerima manfaat, pasalnya di balik setiap rumah yang selesai diperbaiki, tersimpan kisah perjuangan hidup yang akhirnya menemukan jalan. Salah satunya adalah Mumun Munawaroh, warga yang tak pernah menyangka bahwa jalinan jodohnya dengan Tzu Chi akan kembali mempertemukannya dengan bantuan yang begitu berarti.

Mumun tampak sangat senang ketika relawan hadir di rumahnya. Baginya, Tzu Chi bukan lagi nama yang asing. Pada 2016-2017 silam, ia pernah membantu menjadi tenaga tambahan untuk merawat hingga memandikan seorang penerima bantuan Tzu Chi yang mengalami stroke. Jalinan itu kemudian terputus ketika penerima bantuan tersebut dirawat di panti jompo. Sejak saat itu, Mumun kembali menjalani hari-harinya seperti biasa.

Setelah tidak lagi bekerja untuk membantu Tzu Chi, Mumun mencari kerja serabutan untuk menyambung hidup sehari-hari. Di usianya yang sudah menginjak 60 tahun, ia tak ingin lagi merepotkan kedua anaknya yang juga hidup pas-pasan. Untuk itu, apa pun ia lakukan. Ia menawarkan jasanya kepada tetangga untuk berbelanja ke pasar, mengantar makanan ke tempat pesanan, memijat, hingga menjadi tukang parkir. “Pokoknya hidup saya sehari-hari ya di jalan,” katanya sambil tertawa.

Inge, relawan Tzu Chi Bogor dan Ricky Budiman, relawan Tzu Chi Jakatra berbincang hangat dengan Mumun Munawaroh usai rumahnya selesai dibedah melalui Program Bebenah Kampung. Pertemuan tersebut menjadi momen penuh syukur sekaligus mempererat kembali jalinan baik yang telah terbangun sejak bertahun-tahun lalu.

Mumun Munawaroh (kiri) saat membantu merawat dan memandikan salah seorang penerima bantuan Tzu Chi pada 2016–2017. Bertahun-tahun kemudian, jalinan jodoh kembali mempertemukannya dengan Tzu Chi, kali ini sebagai penerima manfaat Program Bebenah Kampung.

Di tengah perjuangannya menghadapi kerasnya hidup, dulu Mumun pernah mencurahkan isi hatinya kepada Inge, relawan Tzu Chi Bogor. “Saya mah hidup selalu bantu orang Bu, kapan ya Bu saya dibantu orang?” tuturnya.

Kalimat itu masih jelas diingat Inge. Namun siapa sangka, jalinan jodoh baik yang sempat terputus ternyata hanya sedang menunggu waktu untuk kembali dipertemukan. Beberapa bulan lalu, relawan Tzu Chi datang mengetuk pintu rumah Mumun untuk melakukan survei Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH). Seketika ia terdiam. Seragam abu putih itu begitu dikenalnya.

“Saya kaget bukan main. ‘Loh kok ada ibu-ibu dari Tzu Chi,’ saya pikir. Tapi bukan Ibu Inge, tapi saya sudah langsung kaget sekali. Dalam hati saya bilang, ‘saya dulu kerja loh buat Tzu Chi,’” tuturnya bersemangat.

Kondisi rumah Mumun Munawaroh sebelum direnovasi. Sebagian dinding masih menggunakan papan, lantai semen, dan atap yang kerap bocor saat hujan sehingga rumah tersebut masuk dalam kategori rumah tidak layak huni.

Dalam survei tersebut, rumah Mumun terdata sebagai salah satu rumah tidak layak huni di Kampung Pulo Geulis. Separuh dindingnya masih berupa papan, separuh lainnya bata. Lantainya masih semen, sementara atap asbesnya selalu bocor setiap kali hujan turun. Ia tak pernah berpikir bisa memperbaikinya karena memang tidak memiliki biaya.

“Sebenarnya dulu pernah ada bantuan bedah rumah juga, tapi hasilnya kurang maksimal Bu. Enggak lama ya rusak lagi, bocor lagi. Jadi ya sudah saya biarin aja, mau benerin pakai apa? Enggak punya apa-apa,” katanya sambil mencoba bersyukur karena setidaknya masih memiliki tempat untuk pulang.

Kini rumah itu telah berubah. “Alhamdulillah-nya kok ada lagi yang datang bantu, yang sekarang dari Tzu Chi. Wah…, ini bagus sekali rumah saya. Beda dari yang dulu. Sekarang rumah saya pakai keramik, dindingnya kuat, atapnya bagus. Enggak bocor lagi Bu. Sudah bisa enak kalau ada anak cucu pulang ke sini,” paparnya dengan mata berbinar.

Di momen itu, tak cuma Mumun yang bahagia. Bagi Inge, pertemuan ini juga menjadi kejutan yang membawa sukacita. Ia baru menyadari bahwa salah satu penerima manfaat Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tak Layak Huni (RTLH) adalah sosok yang dulu pernah membantu Tzu Chi.

Loh ini Ibu Mumun yang pernah bantu Tzu Chi kan?” tanyanya saat penandatanganan surat kesepakatan di awal pembangunan rumah. “Ehh alhamdulillah ketemu lagi. Jalinan jodoh baiknya sama Tzu Chi ternyata terjalin lagi,” ucap Inge. Hubungan baik itu pun terus berlanjut.

Wajah bahagia terpancar dari Mumun Munawaroh (kanan, baju coklat) dan keluarga adiknya saat melepas relawan Tzu Chi usai mengunjungi rumah mereka yang kini telah berdiri lebih kokoh, bersih, dan nyaman. Program Bebenah Kampung menghadirkan harapan baru sekaligus meningkatkan kualitas hidup keluarga penerima manfaat.

Dalam kesempatan kunjungan dan peninjauan bersama Wali Kota Bogor, Inge kembali menyempatkan diri mampir ke rumah Mumun. Ia melihat langsung perubahan rumah yang kini telah berdiri lebih kokoh, bersih, dan nyaman untuk dihuni.

Di hadapan Mumun, Inge kembali mengingatkan bahwa berkah selalu datang dengan caranya sendiri. Jangan pernah takut tidak ada yang membantu, sebab diri sendirilah yang memegang peran paling penting untuk terus melangkah dan menanam kebaikan.

“Coba Ibu Mumun lihat hal-hal kecil yang selalu bisa disyukuri. Ternyata banyak rezeki yang tak terduga. Dengan terus berbuat baik kepada sesama, kebaikan juga akan selalu datang untuk diri ibu,” pesannya.

Barangkali itulah yang sedang dialami Mumun. Kebaikan yang pernah ia berikan kepada orang lain bertahun-tahun lalu memang tak langsung kembali. Namun ketika waktunya tiba, jalinan jodoh baik itu mempertemukannya kembali dengan Tzu Chi, menghadirkan sebuah rumah yang kini tak lagi sekadar menjadi tempat berteduh, tetapi juga menjadi pengingat bahwa setiap berkah dan rezeki tak akan salah alamat.

Editor: Arimami Suryo A.

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Wali Kota Bogor Tinjau Program Bebenah Kampung

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Wali Kota Bogor Tinjau Program Bebenah Kampung

29 Juni 2026

Wali Kota Bogor meninjau Program Bebenah Kampung di Kel Babakan Pasar. Melalui program ini, rumah tidak layak huni diperbaiki sehingga warga dapat tinggal lebih aman dan nyaman.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Relawan Tzu Chi, Survei Rutilahu di Desa Hambalang

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Relawan Tzu Chi, Survei Rutilahu di Desa Hambalang

12 Maret 2026
Relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Utara 3 dan Jakarta Barat 4 melakukan survei ke 37 rumah tidak layak huni di Desa Hambalang, Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor.
Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Menyusuri Gang Sempit, Menjemput Harapan Warga Babakan Pasar

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Bogor: Menyusuri Gang Sempit, Menjemput Harapan Warga Babakan Pasar

06 Februari 2026

Sebanyak 35 Relawan Tzu Chi komunitas Jakarta Barat 3 (Xie Li Bogor) menyurvei 60 RTLH di Kelurahan Babakan Pasar.

Walau berada di pihak yang benar, hendaknya tetap bersikap ramah dan bisa memaafkan orang lain.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -