Kado untuk Guru

Jurnalis : Ivana, Fotografer : Kurniawan, Ivana
 
foto

* Keindahan isyarat tangan dapat dihayati oleh semua orang dari berbagai usia. Kelompok “All Generation” terdiri 3 generasi: cucu, mama, dan nenek.

Saat sang guru berulang tahun, kado apa yang paling tepat untuk diberikan? Tanggal 19 April 2009, bertepatan dengan penanggalan Imlek hari lahir Master Cheng Yen, relawan Tzu Chi berusaha keras memberikan hadiah terindah pada guru yang dicintai.

Keindahan yang Menumbuhkan Kekompakan
“Meski dibilang lomba shou yu, sebetulnya bukan benar-benar lomba,” kata Yeye, ketua panitia lomba. Di Toko Buku Jing-Si Kelapa Gading, tak kurang dari 250 relawan dan undangan datang menyaksikan lomba isyarat tangan (shou yu) yang digelar. Setiap hari Selasa, di toko buku yang memiliki kelas-kelas ini memang membuka pelajaran isyarat tangan. Para peserta hari itu rata-rata merupakan murid kelas isyarat tangan tersebut.

Isyarat tangan dapat dikatakan sebuah kebudayaan baru “ciptaan” Tzu Chi. Selama ini masyarakat mengenal isyarat tangan sebagai cara berkomunikasi bagi orang tunarungu atau tunawicara. Di Tzu Chi, cara komunikasi visual ini justru menjadi salah satu sarana untuk mengekspresikan Dharma dan nilai-nilai bajik sekaligus menjadi pertunjukan yang menghibur. Setelah dipadu dengan lagu-lagu Tzu Chi yang bernuansa lembut, ditambah kerapian gerakan serta formasi yang indah, isyarat tangan dapat dinikmati dan menyenangkan. “Banyak yang suka isyarat tangan karena keindahannya. Peserta kelas belajar isyarat tangan kita segala usia ada. Banyak relawan yang join Tzu Chi dari isyarat tangan,” terang Linda Awalludin, koordinator He Qi Timur yang mencakup relawan daerah Kelapa Gading. Setelah bersama-sama rutin mempelajari “keterampilan” gerakan tangan ini, para peserta semakin kompak ketika diadakan lomba ini.

Peserta terdiri dari 7 kelompok. Masing-masing memilih nama yang unik seperti “All Generation” yang berarti anggotanya terdiri dari 3 generasi –nenek, ibu, dan cucu-, lalu ada “3 Keluarga” yang terdiri dari 3 pasang relawan suami-istri, juga ada “Xiao Cao” (rumput kecil –red), ataupun yang sederhana seperti “Happy Shou Yu”, dan “Cinta Kasih”. Para juri berjumlah 5 orang relawan Tzu Chi yang selama ini sering mengajar kelas isyarat tangan.

foto  foto

Ket : - Tak kurang dari 250 relawan dan undangan memenuhi Toko Buku Jing-Si Kelapa Gading. Beberapa datang
           untuk sekadar menonton namun ada pula yang ingin menyemangati keluarga atau teman yang ikut
           berlomba. (kiri)
         - Kelompok “Indocina” yang salah satu pesertanya merupakan guru bahasa mandarin yang berasal dari
           Tiongkok memenangkan juara pertama. “Terima kasih pada guru kelas isyarat tangan untuk kemenangan
           ini,” kata mereka dalam luapan kegembiraan. (kanan)

Sepanjang lomba yang berlangsung dari pukul 14.00–17.00, alunan lagu-lagu Tzu Chi yang menenangkan hati tak henti terdengar di telinga. Sesekali Soedarno Shixiong yang menjadi pembawa acara menyeling untuk memanggil kelompok yang akan tampil sambil bercerita tentang arti lirik lagu yang baru diperagakan. Suasana yang tercipta lebih seperti keluarga besar yang sedang berkumpul dengan banyak tawa dan tepuk tangan. Hari itu para murid Master Cheng Yen tersebut memang sedang merayakan ulang tahun sang guru.

“Sebetulnya kita nggak ada persiapan, karena kita beranggapan umur sudah begitu tinggi, ingatan kurang, kita nggak punya percaya diri,” kata Sumarjono Shixiong yang lebih akrab dipanggil Asen Shixiong. Ia bersama istri dan 2 pasangan lain tergabung dalam satu kelompok memeragakan lagu Gan En, Zun Zhong, Ai dan Pu Tian San Wu. Ia memandang isyarat tangan sebagai latihan yang baik untuk pelemasan otot dan latihan daya ingat. Di atas panggung ia berjuang sekuat tenaga agar rasa groginya tak nampak. Sebelum lomba dimulai, mereka sempat berdoa bersama agar dapat mementaskan dengan lancar.

Bersama Mewujudkan Misi
Bersamaan dengan lomba, digelar pula Pameran Kisah Hidup Master Cheng Yen. Beberapa tamu tampak singgah untuk menyaksikan foto-foto yang dipajang di dinding. Di salah satu sudut, video tentang aktivitas Master Cheng Yen selama satu hari diputarkan. Di antara tamu yang datang, salah satunya adalah Zr Paula KFs. Sebagai sesama biarawati, Zr Paula senang karena kunjungannya memberinya banyak wawasan baru. “Pameran ini membantu saya untuk hidup lebih setia pada panggilan saya sebagai suster Katolik,” kata beliau. Di Paroki Yakobus tempatnya mengabdi, Zr Paula pun menjalani pengabdian yang mirip dilakukan Master Cheng Yen seperti membagi komuni kepada pasien yang harus berbaring di rumah sakit, mengunjungi orang tua di rumah mereka, dan lain sebagainya.

foto  foto

Ket : - Asen Shixiong dengan penuh semangat menjelaskan tentang Tzu Chi pada orang-orang yang mengunjungi
           Pameran Kisah Master Cheng Yen. Ia berharap lebih banyak orang bergabung menjadi relawan Tzu Chi.
           (kiri)
         - Tiffany sejak kecil menderita autis. Hobinya adalah melukis dan menulis dalam huruf mandarin.
           Dalam ulang tahun Master Cheng Yen, ia memberikan hadiah lukisan Dewi Kwan Im karyanya sendiri.
           (kanan)

Asen Shixiong tampak sangat bersemangat memberi penjelasan kepada setiap tamu yang datang. Ia menerangkan budaya kemanusiaan dalam Tzu Chi sepenuh hati dan tak henti tersenyum. “Saya sangat berterima kasih pada setiap orang yang menunjukkan minat pada Tzu Chi. Master Cheng Yen mengatakan kita membutuhkan banyak orang untuk menyebarkan cinta kasih,” jelasnya.

Dalam ulang tahunnya, Master Cheng Yen juga mendapat kado lukisan dari Tiffany Komara, seorang gadis yang berusia 18 tahun. Tiffany menjadi istimewa karena ia menderita autis sejak kecil. Dengan hobinya melukis, Tiffany membuat gambar Dewi Kwan Im untuk dipersembahkan kepada Master Cheng Yen. Ia yang memang tinggal di daerah Kelapa Gading, entah mengapa merasa tertarik saat melihat Toko Buku Jing-Si. Dari kunjungan pertama yang dengan cepat dilanjutkan ke kunjungan berikutnya, membawa Tiffany didampingi mamanya, Meilissa akhirnya bergabung menjadi relawan Tzu Chi. Tiffany memang tidak suka banyak bicara, namun hatinya terjalin dengan Tzu Chi dan juga Master Cheng Yen.

Dengan begitu banyak murid yang bersedia mengikuti langkah Master Cheng Yen, semoga harapan beliau agar hati manusia tersucikan, masyarakat aman dan tenteram, serta dunia bebas dari bencana dapat terwujud. Selamat Ulang Tahun, Master!

 

Artikel Terkait

Berita Internasional: Bantuan untuk Korban Gempa di Meksiko

Berita Internasional: Bantuan untuk Korban Gempa di Meksiko

27 Desember 2017

Hong Liangdai sangat beruntung dapat selamat dari kematian, hal ini membuat dirinya mempunyai harapan yang lebih besar terhadap kehidupan. Setelah mengalami kecelakaan mobil beruntun, ia melangkah terus memenuhi kewajiban dengan penuh semangat, yakni membagikan bantuan bagi warga Meksiko yang baru saja ditimpa bencana gempa bumi.

Menjadi Mata Air yang Menjernihkan Hati Manusia

Menjadi Mata Air yang Menjernihkan Hati Manusia

16 Maret 2015

Sedikitnya 500 hadirin yang terdiri dari donatur dan pemirsa DAAI TV mengikuti acara ini. Memang, menurut Linawaty, koordinator acara, Malam Keakraban DAAI TV ini ditujukan untuk menjalin silaturahmi para donatur, dan pemirsa DAAI TV.

Waisak 2024: Doa Tulus untuk Kebahagiaan Semua Makhluk

Waisak 2024: Doa Tulus untuk Kebahagiaan Semua Makhluk

13 Mei 2024

Menyambut Waisak 2024, relawan Tzu Chi melakukan ritual namaskara dan juga kebaktian Sutra Bhaisyajaguru. Dan di balik formasi Waisak, para relawan yang terlibat menyiapkan diri dengan sepenuh hati.

Beriman hendaknya disertai kebijaksanaan, jangan hanya mengikuti apa yang dilakukan orang lain hingga membutakan mata hati.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -