Kamp Pelatihan Komite dan APL Tahun 2026: Memperkuat Niat dan Tekad

Jurnalis : Hadi Pranoto, Fotografer : Anand Yahya, Agus DS (He Qi Jakarta Barat 2), Mery Hasan (He Qi Jakarta Barat 2), Meta Wulandari
Novriko (memegang mic), relawan Tzu Chi asal Palembang menceritakan perjalanannya selama hampir 15 tahun di Tzu Chi.

Selalu ada kisah inspiratif yang bisa dijadikan teladan dalam setiap kegiatan pelatihan relawan Tzu Chi. Melalui pengalaman-pengalaman relawan yang berdedikasi dan berani mengemban tanggung jawab, kisah-kisah mereka bisa menjadi kompas panduan (arah) bagi relawan-relawan Tzu Chi lainnya di Indonesia.  
 
Seperti dalam Pelatihan Komite & APL Tahun 2026 (sesi kedua) pada 18 – 19 April 2026, dimana pesertanya adalah sekitar 350 orang relawan Tzu Chi dari berbagai wilayah di Indonesia.  Seminggu sebelumnya, sebanyak 489 relawan Tzu Chi dari wilayah Jabodetabek  dan Tzu Chi Cabang Sinar Mas telah mengikuti kamp yang sama (sesi 1) pada 11-12 April 2026, ruang Gou Yi Ting, Aula Jing Si, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara. Mengusung tema “Setiap orang memiliki potensi; ketika bersatu hati, potensi besar itu dapat terwujud” (Ren Ren you gong neng, he xin fa hui da gong neng), kamp selama dua sesi (peserta yang berbeda) ini menjadi momentum untuk memperkuat niat serta tekad bersama menjadi relawan Tzu Chi.
 
Dalam sesi sharing kali, ada enam relawan yang berbagi kisahnya, yakni  Novriko (Palembang), Juniarty (Medan), dan Puspawati (Jakarta) serta Hengking Wargana (Bandung), Jie Tju Foeng, dan Hellen (Jakarta). Masing-masing berbagi kisah dan pengalamannya selama di Tzu Chi, mulai dari memutuskan bergabung, perubahan hidup, sukacita menjadi relawan, tantangan, dan keputusan untuk bertahan yang justru membawa banyak pelajaran dan sukacita sebagai relawan.
 
Berani Mengemban Tanggung Jawab: Kisah Novriko
Di setiap perjalanan hidup seorang relawan Tzu Chi, selalu ada kisah penuh inspirasi yang dapat menggugah hati. Dari semangat untuk terus belajar dan berkontribusi hingga keberanian untuk mengemban tanggung jawab. Salah satunya adalah Novriko atau yang akrab disapa Aho.


Banyak perubahan hidup yang dialami Novriko selama di Tzu Chi. Perlahan-lahan ia bisa meninggalkan kebiasaan buruknya, seperti merokok, minum-minuman keras dan lainnya.
 
Mengenal Tzu Chi sejak tahun 2011, Aho baru benar-benar aktif dan fokus menjadi relawan tujuh tahun kemudian. Sebelumnya ia hanya sekadar mengikuti dan membantu kegiatan-kegiatan Tzu Chi seperti bagi beras, paket sembako dan lainnya. Tugasnya pun saat itu masih sangat sederhana: menyusun barang bantuan dan membantu para penerima bantuan yang kesulitan membawa bantuan (paket beras). Seperti juga relawan pada umumnya, saat itu Aho merasa cukup menjadi relawan, tanpa perlu mengemban tanggung jawab. Ada waktu ikut kegiatan, tidak ada waktu ya menghindar.
 
Tapi semua berubah ketika di tahun 2019, ia mengikuti pelatihan di Jakarta.  "Saya menjadi relawan sejak 2011, namun baru merasa perubahan besar setelah mengikuti pelatihan ini. Sebelumnya, saya masih ragu dengan ajaran Master Cheng Yen. Tetapi setelah mendengar sharing dari relawan senior, keyakinan saya semakin besar," kata Aho. Sejak itu selalu rutin nonton ceramah Master, Sanubari Teduh, dan menjadi lebih aktif sebagai relawan.
 
Perubahan besar terjadi dalam hidupnya. Dari seorang yang merokok, berjudi, hingga terlibat dalam kebiasaan-kebiasaan buruk lainnya, Novriko memutuskan untuk berubah setelah di Tzu Chi. "Sejak pandemi Covid-19, saya juga memutuskan untuk menjadi vegetarian," tambahnya. Kini, ia lebih berani menerima tanggung jawab.

Menurut Novriko, agar kegiatan di Tzu Chi dan keluarga seimbang, harus bisa membagi waktu dengan baik dan bijaksana.
 
Perjalanan Aho menjadi relawan Tzu Chi bisa dibilang juga tidak mudah, saking aktifnya ia berkegiatan, sang istri sempat melarangnya. “Saya coba jelaskan dengan baik bahwa saya sudah di jalan yang benar dan istri saya bisa menerima,” terang Aho. Terkait hal ini, Aho punya tips agar bisa aktif menjadi relawan Tzu Chi dan juga keluarga bisa harmonis dan justru mendukung. “Pertama, kita harus sadar ada tanggung jawab terhadap keluarga yang harus dipenuhi. Kedua bisa terbuka dan memberikan pengertian. Ketiga, ajak mereka untuk ikut kegiatan-kegiatan Tzu Chi, sehingga mereka bisa merasakan feel-nya. Dan yang terakhir adalah ada perubahan dalam diri kita yang positif yang juga bisa dirasakan oleh anggota keluarga dan juga orang lingkungan di sekitar kita,” ungkapnya.  
 
Dari semua ragu, kini Aho mantap menapaki perjalanannya di Tzu Chi. Ia mulai berani mengemban tanggung jawab yang lebih besar. Dimulai di tahun 2021 sebagai Ketua Xie Li Kemuning, dan setahun kemudian menjadi Wakil Ketua Hu Ai Palembang. Pada periode 2024 – 2025 ia mengemban tanggung jawab sebagai Wakil Ketua Hu Ai Palembang dan Ketua Korbid Pelestarian Lingkungan He Qi.  Kini, sejak tahun 2026, ia menjadi Ketua He Qi Palembang dan Ketua Korbid Pelestarian Lingkungan He Qi. Dalam setiap peran yang dijalani, dia selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik bagi masyarakat dan lingkungan sekitarnya.
 
Menjadikan Keluarga Besar Menjadi Keluarga Tzu Chi
Juniaty, yang telah menjadi relawan Tzu Chi selama lebih dari 10 tahun, berbagi pengalamannya mengenai pentingnya pendampingan dan niat awal yang tulus dalam berbuat kebajikan. "Ketika pertama kali diminta menjadi Ketua Xie Li pada 2016, saya merasa tidak siap, tetapi saya menerima tantangan itu dengan penuh semangat. Kunci utama adalah selalu kembali kepada niat awal dan mendampingi relawan lainnya dengan penuh kasih," ungkap Juniaty.

 
Memiliki mitra-mitra bajik di Tzu Chi membuat Juniaty berani mengemban tanggung jawab di Tzu Chi.

Padahal ketika pertama kali diminta mengemban tanggung jawab sebagai Ketua Xie Li ia baru empat bulan bergabung, sehingga belum begitu paham tentang struktur kerelawanan dan tanggung jawabnya. Beruntung Juni dikelilingi mitra-mitra bajik yang terus mendukung dan mendampinginya di Tzu Chi. “Ada Shijie Santi, Eli, dan Rosmawati,” ungkapnya. Menurutnya sangat penting untuk “didampingi” mitra-mitra bajik ini yang membuatnya menjadi lebih semangat dan terus yakin berjalan di jalan Tzu Chi. “Kuncinya ada pada pendampingan mitra-mitra bajik,” tegasnya. . Saya tidak merasa dipaksa atau diajari, tetapi mereka memberikan contoh nyata dalam menjalankan misi amal.
 
Menulis Buku Harian dan Menabung Kebajikan
Memulai perjalanannya sebagai relawan Tzu Chi di tahun 2016, delapan tahuh sebelumnya (2008), ia sering melihat adik iparna yang aktif berpartisipasi dalam kegiatan Tzu Chi. “Yang pertama kali menarik perhatian saya adalah seragamnya Namun, pada saat itu anak-anak saya masih kecil, sehingga saya harus menunda niat saya untuk bergabung,” ujarnya.
 
Meski belum bergabung, Juni mencatatkan “mimpinya” untuk menjadi relawan Tzu Chi di buku hariannya. Di poin ke-10 dalam buku itu tertulis keinginannya untuk menjadi bagian dari relawan Tzu Chi. Seiring berjalannya waktu, saya mulai semakin tertarik dengan kegiatan Tzu Chi. Pada tahun 2016, ia bertemu dengan Shu Tjeng, teman kuliah yang juga relawan Tzu Chi. “Saat itu, saya mengunjungi rumah Shu Tjeng Shixiong untuk mempresentasikan tentang MLM (multi level marketing), namun justru Shu Tjeng Shixiong yang memperkenalkan Tzu Chi ke saya,” ungkapnya tersenyum. Ada perkataan Shu Tjeng Shixiong yang mengena di hatinya: “Kita selalu bilang tidak ada waktu untuk berkegiatan sosial , tapi coba sisihkan sedikit demi sedikit untuk ikut berbuat kebajikan. Ini seperti tabungan kebaikan.”

Relawan Tzu Chi Medan dari kiri ke kanan: Juniaty, Dolivien, dan Desnita yang selalu mendampingi Abidzar (pasien penerima bantuan pengobatan Tzu Chi) dan keluarganya.

Setelah mendengar cerita tersebut, Juni merasa terinspirasi untuk bergabung. Tiga hari kemudian, atas inisiatif sendiri, ia mengunjungi kegiatan Kelas Budi Pekerti Tzu Chi di Kantor Tzu Chi Medan di Cemara Asri. “Saya langsung tanya apakah saya bisa membantu. Saya diberi kesempatan untuk memotong kentang, dan sejak saat itu saya semakin tertarik dan merasa bahwa menjadi relawan Tzu Chi adalah langkah yang tepat untuk menabung kebajikan,” terangnya.
 
Empat bulan setelah bergabung, ia juga diminta untuk menjadi Ketua Xie Li, suatu tugas yang awalnya membuatnya ragu karena saya masih baru bergabung dan belum banyak tahu tentang tugas ini. Namun, ia menerima tantangan tersebut dengan penuh niat untuk membantu dan belajar. Pendampingan dari teman-teman yang lebih berpengalaman sangat membantunya. “Semua dukungan ini sangat berharga bagi saya untuk terus maju dalam menjalankan tanggung jawab sebagai Ketua Xie Li (komunitas relawan).
 
Kebahagiaan Juni semakin lengkap ketika ternyata keluarga besarnya pun banyak yang tertarik bergabung menjadi relawan Tzu Chi, mulai dari kakak, adik ipar, dan keponakan-keponakannya.  banyak yang telah menjadi bagian dari keluarga besar Tzu Chi. Bahkan beberapa yang berprofesi sebagai dokter telah bergabung dalam Tzu Chi International Medical Association (TIMA) Medan.

Hengking Wargana (Tzu Chi Bandung), Jie Tju Foeng, dan Hellen (Tzu Chi Jakarta). Masing-masing berbagi kisah dan pengalamannya selama di Tzu Chi, mulai dari memutuskan bergabung, perubahan hidup, sukacita menjadi relawan, tantangan, dan keputusan untuk bertahan yang justru membawa banyak pelajaran dan sukacita sebagai relawan.

Kisah perjalanan relawan ini adalah bukti bahwa setiap orang memiliki peran yang sangat penting dalam misi kemanusiaan. Berani mengemban tanggung jawab, meskipun terkadang terasa berat, adalah bagian dari proses pembelajaran yang tak ternilai harganya. Setiap relawan, dari yang paling senior hingga yang baru bergabung, memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam mewujudkan visi dan misi Tzu Chi. Setiap langkah kita, sekecil apapun, adalah bagian dari perubahan besar yang kita ciptakan bersama.

Artikel Terkait

Menyatu Dalam Misi, Bertumbuh Dalam Cinta Kasih

Menyatu Dalam Misi, Bertumbuh Dalam Cinta Kasih

03 Juli 2025

Pelatihan relawan Abu Putih ke-3 di Tzu Chi Center memperkuat pemahaman peserta tentang Misi Pendidikan Tzu Chi sekaligus menanamkan nilai moral, cinta kasih, serta semangat pelayanan tanpa pamrih.

Membina Kebijaksanaan Lewat Pelatihan Relawan Abu Putih

Membina Kebijaksanaan Lewat Pelatihan Relawan Abu Putih

08 Juli 2022

Relawan Tzu Chi Medan mengadakan pelatihan relawan Abu Putih ke-2 di tahun 2022. Pelatihan dilakukan untuk mengenalkan Visi dan Misi Tzu Chi kepada relawan, serta membina kebijaksanaan menjadi Bodhisatwa dunia.

Menyadari, Menghargai, dan Menciptakan Berkah

Menyadari, Menghargai, dan Menciptakan Berkah

10 Mei 2019

Minggu, 5 Mei 2019, di ruang Xi She Ting lantai 1 Tzu Chi Center, PIK berlangsung Pelatihan relawan Abu Putih ke-2 komunitas He Qi Utara 2. Pelatihan dihadiri sebanyak 178 peserta. Di sesi talkshow kali ini dikupas habis tema tentang Misi Amal.

Cara kita berterima kasih dan membalas budi baik bumi adalah dengan tetap bertekad melestarikan lingkungan.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -