Kehadiran Wapres Gibran Menambah Semangat Warga Huntap

Jurnalis : Liani (Tzu Chi Medan), Fotografer : Liani, Soit (Tzu Chi Medan)

Andre Zulman, Head External Relation Tzu Chi, menjelaskan kondisi Hunian Tetap (Huntap) Cinta Kasih yang dibangun Tzu Chi kepada Wapres Gibran dan rombongan.

Kunjungan kerja Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming, beserta rombongan ke Sumatera Utara pada 4 September 2026 menjadi momen bersejarah dan sumber kepedulian nyata bagi para penyintas bencana hidrometeorologi. Didampingi Gubernur Sumatera Utara Bobby Nasution, Wali Kota Sibolga Akhmad Syukri Nazry Penarik, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan Pasaribu, Bupati Tapanuli Tengah Masinton Pasaribu, para kepala desa setempat, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumut Mujianto, serta jajaran relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Medan dan Jakarta, Wapres meninjau langsung kompleks Perumahan Cinta Kasih yang tersebar di Kota Sibolga, Kabupaten Tapanuli Tengah, dan Kabupaten Tapanuli Selatan.

Kunjungan ini memancarkan optimisme baru bagi warga yang tengah berjuang memulihkan kehidupan pascabencana banjir dan tanah longsor yang menerpa pada akhir tahun 2025.

Pembangunan Hunian Tetap (Huntap) Gotong Royong ini merupakan wujud kolaborasi nyata antara pemerintah daerah dan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Dalam peninjauan tersebut, Wapres Gibran berpesan agar pembangunan Huntap dipercepat dan dituntaskan.

Andre Zulman, Head External Relation Tzu Chi, menjelaskan perkembangan komitmen pembangunan Huntap di beberapa wilayah Sumatera Utara:
  • Kota Sibolga: Komitmen 200 unit; 114 unit telah selesai, diserahterimakan, dan dihuni, sementara 86 unit sisanya telah mencapai progres pembangunan 70%.
  • Kabupaten Tapanuli Tengah: Komitmen 118 unit; seluruhnya telah selesai dan diserahterimakan.
  • Kabupaten Tapanuli Selatan: Komitmen 441 unit; 227 unit telah selesai diserahkan, dan 214 unit masih dalam proses pengerjaan.
  • Kabupaten Tapanuli Utara: Komitmen 103 unit; seluruhnya telah selesai dan diserahterimakan.
  • Kota Padangsidimpuan: Komitmen 241 unit; saat ini masih dalam proses pembangunan.

“Kita sangat bersyukur karena dengan kunjungan Bapak Wakil Presiden Republik Indonesia, ini bentuk perhatian dari pemerintah kepada penyintas korban bencana, khususnya warga yang akan dan telah tinggal di Huntap yang telah dibangun Tzu Chi. Ini merupakan bentuk sentuhan dari pemerintah kepada masyarakat, berinteraksi langsung, melihat kondisi saat ini, dan ini menjadi penyemangat bagi masyarakat untuk memulihkan kehidupannya.

Mujianto, Ketua Tzu Chi Sumatera Utara, bersama relawan menyambut kedatangan Wapres Gibran di Rumah Cinta Kasih Tzu Chi di Sibolga.

Timmy Jawira, Ketua Tanggap Darurat Sumut, bersama relawan menyerahkan paket sembako kepada warga di Perumahan Cinta Kasih, Tapanuli Tengah.

Hari ini Tzu Chi juga membagikan 2.000 paket sembako kepada korban, penyintas, dan juga masyarakat yang terdampak. Ini merupakan bentuk jalinan jodoh. Cinta kasih ini harus dilanjutkan. Kita yakin beras yang kita sampaikan akan habis pada waktunya. Tetapi cinta kasih, jalinan jodoh pada Tzu Chi terus berlanjut dan dapat kita pertahankan dan tanam terus. Ini menjadi momen yang sangat luar biasa untuk kita terus bersama.

“Saya menghimbau masyarakat dan warga Huntap untuk terus menjaga dan merawat rumahnya beserta lingkungan, sehingga dapat mencegah bencana di musim penghujan,” harap Andre.

Dalam kesempatan tersebut, Wapres Gibran secara simbolis menyerahkan sertifikat rumah kepada lima warga penerima manfaat di Sibolga. Tak hanya bangunan fisik yang kokoh dan bebas dari potensi bahaya longsor, Yayasan Buddha Tzu Chi juga melengkapi setiap unit rumah dengan perabotan, seperti matras, meja makan beserta kursi makan, sofa, dan meja tamu.

Wapres Gibran juga meninjau langsung rumah warga di Huntap. Ia melihat kondisi rumah sekaligus berbincang-bincang dengan warga setempat.

Belina Loli (38) sangat bersukacita ketika rumahnya dikunjungi dan mendapat perhatian langsung dari Wapres Gibran. “Kami di sini sekeluarga sangat berbahagia karena Bapak Wapres mengunjungi kami. Ya, sangat berterima kasih, Pak, telah memberikan perhatian kepada saya dan warga Pinang Sori,” ungkap Belina dengan bahagia.

Belina mengaku sangat bersyukur. Selain mendapatkan rumah yang layak, ia juga mendapatkan perlengkapan dan perabotan sehingga rumah tersebut benar-benar siap dihuni.

“Dulu saya tinggal di Desa Pangaribuan. Karena banjir, rumahnya hanyut. Pernah tinggal di Huntara, sempat juga ngontrak. Perasaan saya sekarang agak lega. Pas kena bencana agak sedih. Ini sudah dapat rumah baru yang dibangun Tzu Chi. Jadi kami menerima rumah ini dengan bahagia sekali. Terima kasih Buddha Tzu Chi atas bantuannya dan perhatiannya,” ungkap Belina lagi.

Belina Loli, warga Huntap Tapanuli Tengah, menyambut dengan sukacita kunjungan Wapres Gibran yang datang memberikan perhatian kepada warga.

Bersamaan dengan agenda peninjauan, tim relawan yang dikoordinasikan oleh Timmy Jawira turut mendistribusikan 2.000 paket sembako yang berisi beras, gula, minyak, dan susu di berbagai titik. Bantuan tersebut didistribusikan di Sibolga sebanyak 200 paket, Hapesong Tapanuli Selatan 215 paket, Hutagodang 306 paket, dan Tapanuli Tengah sebanyak 999 paket.

“Dengan kunjungan Wapres ke beberapa lokasi Huntap di Sibolga, Tapanuli Tengah, dan Tapanuli Selatan ini memberikan perhatian dan semangat kepada masyarakat yang terdampak banjir dan longsor. Masyarakat merasa senang karena sudah menempati rumah baru mereka yang dibangun Yayasan Buddha Tzu Chi dan sekarang mulai beraktivitas kembali. Terima kasih semuanya yang telah membantu progres pembangunan dan bantuan kepada warga yang terdampak banjir,” ungkap Timmy Jawira, koordinator sekaligus Ketua Tanggap Darurat Sumut.

Warga yang Bersyukur dan Terharu
Rasa haru dan syukur terpancar jelas dari para penyintas. Warga seperti Jelita (36) di Parambunan hingga Mangelam Sitompul (60) menyampaikan rasa bahagianya dapat menempati rumah baru yang aman. Beberapa warga bahkan telah mulai merintis usaha kecil, seperti membuka warung jajanan dan berkebun sayur, untuk membangkitkan roda perekonomian keluarga.

Jelita menjelaskan bahwa rumah baru memberikan harapan dan kehidupan baru bagi dirinya dan keluarga. Ia juga mulai berjualan cemilan dan minuman di depan rumah untuk menambah penghasilan keluarga.

Jelita adalah ibu dari lima anak. Suaminya bekerja sebagai penarik becak. Ia sempat putus asa ketika rumah mereka diterpa hujan dan banjir pada November 2025.

“Dulu rumah saya di pegunungan, kalau hujan takut banjir dan longsor. Sekarang kita sudah tinggal di hunian tetap yang datar dan tidak rawan banjir lagi. Jadi kita hidupnya lebih baik dan sehat,” tutur Jelita dengan suka cita.

Kini, ia juga mulai memanfaatkan rumah barunya untuk berjualan cemilan dan minuman di depan rumah. Meski hasilnya tidak seberapa, penghasilan tersebut cukup untuk menambah uang jajan anak-anaknya. Apalagi, penghasilan sang suami sebagai penarik becak harus digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan biaya sekolah anak.

“Terima kasih Yayasan Buddha Tzu Chi yang telah meringankan penderitaan dan mengubah hidup kita yang lebih baik. Semoga terus memberikan bantuan,” ungkapnya.

Mangelam Sitompul mulai menanam sayur bayam dan kangkung di lahan depan rumahnya. “Tzu Chi memberi kami rumah baru dan kehidupan baru,” ungkapnya.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Mangelam Sitompul (60). Saat ini, ia tinggal di Huntap Tapanuli Tengah, Pinang Sori. Sebelumnya, Mangelam tinggal di Desa Sibuluan Nalambok, Kecamatan Sarudik, Tapanuli Tengah. Rumahnya hanyut diterjang banjir. Saat itu, ia tinggal bersama anak dan cucunya dalam kondisi serba terbatas.

“Waktu itu saya tinggal dengan cucu dan anak. Satu minggu enggak mandi, cuma satu baju di badan. Makan pun terbatas. Pasca banjir kita sewa rumah selama tiga bulan di Sunawa Pandan, tiga bulan tinggal di Huntara. Pada bulan tujuh saya mendapat rumah dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Setelah mendapat kunci, saya langsung pindah ke sini,” kenangnya.

Kini, kehidupan Mangelam mulai berangsur membaik. Ia merasa lebih nyaman tinggal di rumah baru dan juga sangat terbantu dengan bantuan sembako yang diterimanya. Di sekitar rumahnya terdapat lahan kosong yang kemudian ia manfaatkan untuk berkebun. Ia membeli bibit bayam dan kangkung, lalu menanamnya hingga bisa dipanen dan dijual kepada warga sekitar.

“Rumah saya paling ujung. Di depan rumah kami ada lahan kosong. Saya beli bibit bayam dan kangkung, kemudian saya mulai berkebun di sana. Sayur bayam dan kangkung ini saya petik jika sudah bertunas dan tumbuh dengan baik. Saya petik dan jual ke rumah warga yang tinggal di sana. Kehidupan kami terus membaik,” ungkapnya.

“Saya dan cucu beserta anak sangat berterima kasih atas bantuannya. Semoga sehat selalu, apa pun perjalanan hidup lebih membaik,” harap Mangelam.

Kunjungan jajaran pimpinan negara dan pendampingan berkelanjutan dari relawan Tzu Chi memberikan suntikan semangat yang sangat berarti. Lebih dari sekadar bantuan fisik dan logistik, wujud kepedulian ini menjadi landasan kuat bagi masyarakat Sumatera Utara untuk melangkah maju, merawat lingkungan perumahan baru mereka, dan menata masa depan yang lebih baik.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Pembangunan Huntap di Sibolga: Verifikasi dan Pengundian Huntap di Aek Parombunan Sibolga

Pembangunan Huntap di Sibolga: Verifikasi dan Pengundian Huntap di Aek Parombunan Sibolga

26 Maret 2026

Bencana Sibolga November 2025 menyisakan duka, namun kini berganti harapan. Melalui kolaborasi Tzu Chi dan Pemkot Sibolga, 200 unit Hunian Tetap dibangun di Aek Parombunan.

Pembangunan Huntap di Sibolga: Verifikasi dan Pengundian Huntap Tahap Dua di Aek Parombunan

Pembangunan Huntap di Sibolga: Verifikasi dan Pengundian Huntap Tahap Dua di Aek Parombunan

27 April 2026

Tzu Chi bekerja sama dengan Pemkot Sibolga melakukan verifikasi dan pengundian Huntap tahap ke-2 bagi korban banjir Sumatera di Sibolga, Sumatera Utara. 

Pembangunan Hunian Tetap di Sibolga: Membangun Kembali Kehidupan Penyintas Banjir

Pembangunan Hunian Tetap di Sibolga: Membangun Kembali Kehidupan Penyintas Banjir

24 Desember 2025

Tzu Chi bersama Kementerian PKP RI melaksanakan kegiatan peletakan batu pertama pembangunan hunian tetap bagi penyintas bencana banjir di Tapanuli dan Sibolga.

Mendedikasikan jiwa, waktu, tenaga, dan kebijaksanaan semuanya disebut berdana.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -