Mujianto, menyampaikan rasa syukur atas kelancaran pembangunan Hunian Tetap Sibolga dalam acara verifikasi dan pengundian rumah di Kantor Wali Kota Sibolga yang dihadiri langsung oleh Wali Kota Akhmad Syukri Nazry Penarik.
Duka mendalam akibat bencana alam yang menerjang Kota Sibolga pada November 2025 lalu kini perlahan berganti dengan senyum penuh harapan. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berkolaborasi dengan Pemerintah Kota Sibolga, terus bergerak cepat memulihkan kehidupan warga terdampak melalui pembangunan Hunian Tetap (Huntap) di Desa Aek Parombunan, Sibolga.
Pada Sabtu, 14 Maret 2026, sebuah langkah cepat penuh semangat dilakukan dengan digelarnya proses verifikasi dan pengundian nomor unit Huntap. Acara yang berlangsung khidmat ini dihadiri langsung oleh Walikota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry Penarik, Sekretaris Daerah Herman Suwito, serta Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Mujianto. Turut hadir pula jajaran pejabat setempat, perwakilan Koramil, dan Bhabinkamtibmas menyaksikan momen bersejarah bagi warga tersebut.
Dalam sambutannya, Mujianto menyampaikan rasa syukur atas progres pembangunan yang berjalan lancar. "Hari ini kami mulai undian untuk 89 rumah yang sudah siap dari target total 200 unit di lahan Aek Parombunan. Dana pembangunan ini berasal dari bantuan donatur masyarakat yang peduli. Semoga rumah ini membawa kebahagiaan dan kenyamanan," ujar Mujianto.

Andre, relawan Tzu Chi memberikan penjelasan detail mengenai alur verifikasi kepada warga calon penghuni Hunian Tetap Sibolga.
Wali Kota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry Penarik, turut menyaksikan langsung proses pengundian hunian tetap bagi warga terdampak bencana.
Proses relokasi ini mengedepankan prinsip keadilan dan kekeluargaan. Warga yang hadir membawa dokumen kependudukan lengkap untuk menjalani verifikasi data dan wawancara mendalam bersama relawan Tzu Chi. Setelah dinyatakan lolos, warga melakukan pengundian nomor unit secara terbuka.
Sebelumnya pada 21 Desember 2025 lalu, telah diadakan peletakan batu pertama yang dihadiri oleh Menteri PKP Maruar Sirait dan Mendagri Tito Karnavian serta relawan Tzu Chi. Pada bulan Januari dimulailah pembangunannya.
“Hari ini (14/3/2026), Yayasan Buddha Tzu Chi menlakukan verifikasi dan pengundian hunian tetap. Saya sangat mengapresiasi dan berterima kasih. Sistem pengundian ini sebagai langkah untuk menghindari konflik. Target tahap pertama sebanyak 89 unit rumah siap huni dari target total 200 unit rumah. Untuk Target penempatan direncanakan setelah Hari Raya Idul Fitri 2026 sebagai hadiah lebaran bagi warga,” terang Walikota Sibolga, Akhmad Syukri Nazry yang turut menyaksikan pengundian rumah warga.
Membangun dengan Prinsip "Satu Keluarga"
Tidak hanya sekadar memberikan bangunan fisik, Yayasan Buddha Tzu Chi juga menekankan pentingnya ikatan sosial. Relawan dan warga bersama-sama membawakan isyarat tangan lagu "Satu Keluarga" untuk menanamkan rasa welas asih antar tetangga di lingkungan yang baru.
Relawan Tzu Chi bersama warga memperagakan isyarat tangan lagu Satu Keluarga untuk memupuk rasa kasih sayang dan persaudaraan antar tetangga di lingkungan hunian yang baru.
Pembangunan yang dimulai sejak Desember 2025 ini telah mencapai progres signifikan (sekitar 60%). Komplek Huntap ini dirancang sebagai hunian yang layak huni.Warga juga diberikan kasur, bantal, sofa, meja makan, kursi dan meja tamu.
Bagi warga seperti Rospita Silalahi (64) dan Hikmah, Huntap ini adalah keajaiban. Rospita mengenang bagaimana ia harus melompat dari tembok setinggi lima meter demi menyelamatkan diri saat bencana. Meski harta bendanya habis, ia bersyukur nyawa keluarganya selamat dan kini mendapat pengganti rumah yang layak.
“Puji Tuhan saya dikasih kekuatan. Bisa saya melompat dari tembok itu dan kaki saya tidak bisa jalan lagi. Saya bersyukur walaupan rumah saya roboh, harta benda habis, kami sekeluarga selamat. Terima kasih telah diberikan rumah oleh Yayasan Buddha Tzu Chi rumah huni yang baru,” ungkap Rospita Silali dengan penuh syukur.
Rosfita tak dapat menyembunyikan rasa sukacitanya saat melakukan pengundian rumah sebagai pengganti tempat tinggalnya yang roboh total akibat bencana banjir.
Duka mendalam dirasakan Hikmah saat mengikuti verifikasi hunian baru; bencana banjir dan longsor tersebut telah merenggut nyawa ayah, ibu, serta saudaranya.
Kisah pilu juga menimpa Hikmah yang harus kehilangan anggota keluarga tercinta. Saat hujan lebat disertai mati lampu, pada pukul 7 malam ia keluar bersama kakak iparnya hendak membeli lampu. Karena telepon genggam sudah mati, ketika mau pergi ia mendengar suara deru air serta longsor datang dan menerjang rumahnya yang menewaskan ayah, ibu dan saudaranya.
“Sungguh sangat menyedihkan, pascabanjir saya menginap di rumah kerabat. Hari ini saya diberikan rumah tinggal, sangat terima kasih. Saya berjanji akan merawat rumah bantuan ini dengan sebaik-baiknya sebagai awal kehidupan yang baru,” tutur Hikmah.
Pembangunan Huntap di Aek Parombunan bukan sekadar proyek konstruksi, melainkan aliran cinta kasih universal. Dengan adanya rumah baru ini, diharapkan taraf hidup masyarakat Sibolga yang terdampak bencana dapat pulih secara ekonomi dan sosial. Huntap ini diharapkan menjadi "Rumah Tumbuh" yang kokoh, tempat yang mana keluarga-keluarga di Sibolga merajut kembali mimpi mereka di bawah naungan kasih sayang dan kebersamaan.
Editor: Khusnul Khotimah