Relawan bersukacita dalam bergotong royong bersama Kelurahan Pakis, DPRKPP dan Kontraktor dalam membantu penerima bantuan dengan sepenuh hati.
"Ketika melihat penderitaan orang lain, jangan menunggu mereka meminta pertolongan. Segera ulurkan tangan dengan ketulusan, karena cinta kasih yang diwujudkan tepat pada waktunya akan menghadirkan harapan baru bagi kehidupan seseorang." Kata Perenungan Master Cheng Yen.
Mentari pagi menyinari Kelurahan Pakis, Surabaya, pada Selasa, 4 Agustus 2026. Sejak pukul 08.30 WIB, Relawan Tzu Chi Surabaya telah hadir untuk memulai sebuah langkah penuh makna melalui ceremonial pembongkaran Program Bebenah Kampung. Kegiatan ini menjadi penanda dimulainya renovasi rumah bagi warga penerima bantuan yang selama bertahun-tahun hidup dalam keterbatasan kondisi tempat tinggal.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Lurah Pakis Novi Tri Hartatiningsih, perwakilan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman, Cipta Karya dan Tata Ruang (DPRKPP), kontraktor pelaksana, serta relawan Tzu Chi Surabaya yang bersama-sama mengawali proses renovasi dengan semangat kebersamaan.
Perwakilan DPRKPP Surabaya membantu dengan meraih plafon yang telah ambruk di rumah Suhariyono.
Rumah milik Suhariyono, warga Pakis Gang III, menjadi rumah pertama yang diprioritaskan untuk segera dibongkar dan direnovasi. Keputusan tersebut bukan tanpa alasan, pasalnya saat relawan melakukan survei dari rumah ke rumah beberapa waktu lalu, kondisi rumah Suhariyono dinilai sudah sangat memprihatinkan dan berpotensi membahayakan keselamatan seluruh anggota keluarganya.
Setiap hari Suhariyono bekerja sebagai seorang sopir pribadi. Namun di balik pekerjaannya, ia selalu menyimpan kecemasan setiap kali meninggalkan rumah. Di dalam bangunan yang rapuh itu, istri dan ketiga anaknya menunggu kepulangannya di bawah atap yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan mereka.
Ketua Pelaksana Program Bebenah Kampung Tzu Chi Surabaya, Becky Ciang, turut merasakan kekhawatiran yang sama. Baginya, kondisi rumah Suhariyono menjadi gambaran nyata bagaimana sebuah keluarga berjuang mempertahankan tempat tinggalnya di tengah keterbatasan. Genteng yang dipenuhi tambalan menjadi saksi usaha Suhariyono selama ini untuk melindungi keluarganya dari panas dan hujan, meski dengan segala keterbatasan yang dimiliki.
Di hadapan para relawan, Suhariyono menceritakan perjalanan panjangnya mempertahankan rumah peninggalan sang nenek yang kini telah berusia sekitar 75 tahun. Sedikit demi sedikit ia berusaha memperbaikinya sesuai kemampuan ekonomi keluarga.
"Rumah ini peninggalan nenek saya. Dulu rumah ini bahkan belum memiliki tembok. Saya menabung sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa membangun tembok sendiri. Tetapi saat pandemi Covid-19, tabungan itu terpaksa saya gunakan untuk bertahan hidup. Karena itu, bantuan ini sangat membantu sekali bagi saya," ujar Suhariyono dengan mata berbinar penuh rasa syukur.
Ida Sabrina bersama salah satu kontraktor mengecek keadaan rumah Suhariyono terutama atap, lantai dan dinding.
Sebelum memulai pembongkaran, seluruh relawan, perangkat kelurahan, perwakilan DPRKPP, kontraktor, serta keluarga penerima bantuan berdiri bersama dalam doa. Dengan penuh khidmat mereka memohon agar proses renovasi berjalan lancar, aman, dan membawa manfaat besar bagi keluarga Suhariyono. Doa bersama tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan sebuah rumah bukan sekadar memperbaiki bangunan, melainkan juga membangun harapan baru bagi penghuninya.
Relawan Tzu Chi Surabaya telah berkomitmen sejak proses penandatanganan Surat Kesepakatan Bersama untuk memprioritaskan renovasi rumah Suhariyono. Hasil survei langsung yang dilakukan dari rumah ke rumah memperlihatkan bahwa kondisi bangunan tersebut sudah tidak memungkinkan untuk terus dihuni sehingga membutuhkan penanganan sesegera mungkin.
Akses yang terbatas tak menyurutkan semangat relawan Tzu Chi Surabaya, tanjakan dan panas terik bukan menjadi halangan untuk merajut bersama Kelurahan Pakis, DPRKPP dan Kontraktor yang telah hadir.
Lurah Pakis, Novi Tri Hartatiningsih, menyampaikan apresiasi kepada Tzu Chi Surabaya yang memberikan perhatian khusus terhadap kondisi warganya. Menurutnya, langkah cepat tersebut mampu mengurangi keresahan keluarga yang selama ini hidup dalam ancaman rumah yang sewaktu-waktu dapat roboh.
"Kami sangat mendukung Program Bebenah Kampung ini. Saya mengucapkan terima kasih karena salah satu warga kami diprioritaskan untuk segera mendapatkan bantuan. Beliau memang sangat layak menerima bantuan ini sehingga kami dapat bersama-sama menghadirkan rumah yang lebih layak huni bagi masyarakat. Harapan saya, setelah renovasi selesai warga tidak perlu lagi khawatir terhadap atap yang bocor, banjir, maupun kondisi lingkungan rumah yang kurang baik," ungkap Novi Tri Hartatiningsih dengan penuh welas asih.
Usai doa bersama, seluruh yang hadir melakukan peninjauan menyeluruh terhadap kondisi rumah. Relawan, Lurah Pakis, perwakilan DPRKPP, serta kontraktor berdiskusi langsung mengenai bagian-bagian bangunan yang harus menjadi prioritas dalam proses renovasi. Setelah seluruh tahapan dipastikan, seremonial pembongkaran pun dimulai secara bergantian. Dinding yang telah rapuh mulai dibongkar, disusul bagian plafon yang sebelumnya telah ambruk. Momen tersebut menjadi simbol dimulainya perjalanan menuju kehidupan yang lebih aman dan nyaman bagi keluarga Suhariyono.
Kondisi rumah Eny Setyorini yang perlu perhatian lebih karena cukup riskan jika dibiarkan berlarut larut.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan peninjauan ke rumah penerima bantuan lainnya, yaitu Eny Setyorini, yang juga berada di kawasan Pakis Gang III. Relawan, Lurah Pakis, perwakilan DPRKPP, dan kontraktor membawa dokumen Rencana Anggaran Biaya (RAB) untuk mencocokkan kondisi bangunan dengan rencana renovasi yang telah disusun. Rumah Eny diketahui belum memiliki pondasi yang memadai di beberapa sisi, sebagian lantainya masih berupa tanah, serta kondisi genteng yang telah rusak sehingga memerlukan penanganan menyeluruh.
Peninjauan langsung ini tidak hanya bertujuan menyusun langkah teknis renovasi, tetapi juga membangun kesamaan pemahaman di antara seluruh pihak yang terlibat. Dengan melihat sendiri kondisi rumah penerima bantuan, setiap yang hadir dapat merasakan secara langsung kehidupan yang dijalani warga sekaligus memperkuat tekad untuk bergotong royong mewujudkan hunian yang aman, nyaman, dan layak huni.
Program Bebenah Kampung menjadi wujud nyata kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan relawan kemanusiaan dalam menghadirkan perubahan yang berawal dari kepedulian. Di balik setiap rumah yang direnovasi, tersimpan harapan agar setiap keluarga dapat menjalani kehidupan dengan lebih tenang, sehat, dan bermartabat.
Editor: Metta Wulandari