Vivian Fan didampingi Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi menyerahkan kunci rumah secara simbolis kepada penerima bantuan dalam kegiatan Serah Terima 100 Unit Rumah Program RTLH, Senin (9/2/2026), di Aula Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Suasana penuh kehangatan dan cinta kasih menyelimuti Aula Kecamatan Wonokromo, Surabaya, pada Senin, 9 Februari 2026. Menjelang datangnya bulan puasa, 100 Keluarga Keluarga (KK) di Surabaya menerima kado yang sangat berarti. Rumah yang sebelumnya tidak layak huni kini telah direnovasi menjadi lebih layak, lebih nyaman, dan lebih aman untuk ditinggali.
Sejak pukul 09.00 WIB, kegiatan serah terima 100 unit rumah dalam Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya berlangsung khidmat.
Acara serah terima kunci rumah renovasi rumah ini turut dihadiri oleh Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi, Kepala BP3KP Jawa IV yang diwakili Firdiansyah Fatoni, serta Kepala Dinas Cipta Karya Provinsi Jawa Timur I Nyoman Gunadi. Kedatangan Wali Kota Surabaya disambut barisan relawan yang berdiri rapi.
Dalam sambutannya, Ketua Tzu Chi Surabaya Vivian Fan menyampaikan rasa syukur atas kolaborasi yang terjalin sehingga 100 unit rumah dapat diserahkan sebelum bulan puasa tiba.
Vivian Fan menyerahkan potongan nasi tumpeng kepada Nenek Lestari (76), warga Kelurahan Ngagel Rejo, dalam kegiatan Serah Terima 100 Unit Rumah Program RTLH, di Aula Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Relawan Becky Ciang menyampaikan kisah awal gerakan Celengan Bambu dalam rangkaian kegiatan Serah Terima 100 Unit Rumah Program RTLH, Senin (9/2/2026), di Aula Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
“Tzu Chi Surabaya jika berjalan sendiri, Program Bebenah Kampung ini tidak akan bisa berjalan dengan baik. Saya sangat berterima kasih kepada Wali Kota Eri Cahyadi, Kepala BP3KP, serta para donatur yang telah mendukung program ini sehingga dapat berjalan dengan lancar,” ujar Vivian dalam sambutannya.
Di Akhir sambutannya Vivian menutup dengan Kata Perenungan Master Cheng Yen tentang pentingnya kesatuan hati dan keharmonisan dalam menumbuhkan kekuatan besar demi kemanusiaan.
Rangkaian acara berlanjut dengan laporan kegiatan serta pemutaran video progres Program RTLH. Senyum lebar terpancar dari Wali Kota Surabaya saat menyaksikan perubahan rumah warga dari kondisi sebelum di renovasi hingga sesudah direnovasi.
Bagi para penerima manfaat, perubahan ini bukan sekadar dinding dan atap yang lebih kokoh, melainkan rasa syukur, aman dan nyaman yang mendalam untuk menyambut bulan puasa tanpa kekhawatiran akan bocor saat hujan atau banjir yang masuk ke rumah.
Perwakilan BP3KP Jawa IV, Firdiansyah Fatoni, menyampaikan rasa haru yang mendalam.
“Saya sangat terharu. Ternyata Tzu Chi tidak hanya sekadar membantu, tetapi menciptakan kehidupan yang lebih baik secara berkelanjutan, dengan menggalang hati dari penerima bantuan untuk calon penerima bantuan lainnya,” ucap Firdiansyah sambil menahan air mata.
Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi turut menyampaikan apresiasi dan menegaskan bahwa kemanusiaan tidak mengenal sekat-sekat perbedaan.
“Tidak peduli warna kulit, berasal dari mana, agama apa, dan suku apa. Seperti yang pernah disampaikan Presiden kita, tidak ada satu pihak pun yang bisa membangun bangsa ini sendirian. Yayasan Buddha Tzu Chi adalah gambaran nyata dari nilai-nilai Pancasila. Mereka hadir bukan karena perbedaan, tetapi karena kemanusiaan,” jelas Eri.
Tamu undangan, penerima bantuan, relawan Tzu Chi, dan jajaran Pemerintah Kota Surabaya bergandengan tangan dalam isyarat “Satu Keluarga” sebagai simbol keharmonisan dan kebersamaan di Aula Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Tamu undangan, penerima bantuan, relawan Tzu Chi, dan jajaran Pemerintah Kota Surabaya bergandengan tangan dalam isyarat “Satu Keluarga” sebagai simbol keharmonisan dan kebersamaan di Aula Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Sebagai ungkapan rasa syukur, acara dilanjutkan dengan pemotongan nasi tumpeng. Potongan nasi tumpeng pertama diberikan oleh Wali Kota Surabaya kepada salah satu pemilik rumah.
“Karena yang lebih layak menerima berkah ini adalah mereka yang merasakan langsung manfaatnya,” ucap Eri dengan wajah suka cita.
Kebahagiaan terpancar dari wajah Ibu Lestari (76), warga Kelurahan Ngagel Rejo.
“Sekarang rumah saya sudah tidak bocor lagi dan terasa lebih sejuk. Saya tidak khawatir lagi kalau hujan datang,” tutur Lestari dengan senyum lebar.
Acara serah kunci rumah diserahkan secara simbolis kepada enam Kepala Keluarga yang di berikan oleh Ketua Tzu Chi Surabaya Vivian Fan didampingi Wali Kota Surabaya, perwakilan BP3KP, dan Dinas Cipta Karya Provinsi Jawa Timur, sebagai simbol rumah-rumah tersebut telah siap dihuni.
Kegiatan semakin hangat dengan prosesi penuangan celengan bambu yang diberikan oleh para penerima program renovasi rumah. Becky Ciang menyampaikan makna celengan bambu sebagai langkah kecil yang berdampak besar. Gerakan ini berawal dari para murid-murid Master Cheng Yen ibu-ibu rumah tangga yang menyisihkan sedikit uang belanja untuk membantu sesama.
“Master Cheng Yen, Guru kami, menyampaikan bahwa berdana itu bukan monopoli atau hak orang kaya saja, tetapi merupakan perwujudan cinta kasih yang tulus,” jelas Becky.
Prosesi penuangan celengan dilakukan bersama-sama oleh penerima bantuan, Wali Kota Surabaya, dan Vivian Fan.
Trianto, menyampaikan rasa terima kasihnya kepada relawan Yayasan Tzu Chi Surabaya. “Saya tidak bisa berkata banyak, tapi dengan tulus saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya. Rumah saya yang dulu selalu kebanjiran, sekarang sudah tidak lagi banjir lagi,” ungkap Trianto warga Ngagel Rejo.
Tamu undangan, penerima bantuan, relawan Tzu Chi, dan jajaran Pemerintah Kota Surabaya bergandengan tangan dalam isyarat “Satu Keluarga” sebagai simbol keharmonisan dan kebersamaan, Senin (9/2/2026), di Aula Kecamatan Wonokromo, Surabaya.
Melalui celengan bambu Tzu Chi, semua orang bisa bersumbangsih mendukung Program Bedah Rumah Tidak Layak Huni, termasuk mereka yang rumahnya direnovasi. Dulu dibantu, kini mereka ikut tergerak membantu sesama.
Acara ditutup dengan foto bersama dan warga penerima program RTLH juga menerima celengan bambu baru sebagai simbol agar cinta kasih terus mengalir, tidak terputus, dan semakin meluas dari hati ke hati.
Menjelang bulan puasa di tahun 2026 ini, 100 unit rumah lebih dari sekadar bangunan fisik. Ia menjadi simbol harapan, ketenangan, dan awal kehidupan yang lebih bermartabat. Seperti yang disampaikan Master Cheng Yen: “Dengan kesatuan hati dan keharmonisan, kita bergotong royong serta mengasihi dan melindungi makhluk hidup. Dengan adanya kerja sama yang harmonis, kekuatan yang terbentuk akan sangat besar.”
Melalui Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni, Yayasan Tzu Chi Surabaya tidak hanya membangun rumah, tetapi juga membangun harapan dan masa depan yang lebih baik bagi sesama sebuah makna yang semakin terasa dalam menyambut bulan puasa yang penuh keberkahan.
Editor: Anand Yahya