Kepompong yang Menjadi Kupu-Kupu

Jurnalis : Erlina Wang, Jok Khian (He Qi Jakarta Utara 3), Fotografer : Erlina Wang, Jok Khian (He Qi Jakarta Utara 3)

Youmi membawakan materi pembelajaran bagi anak-anak kelas Tzu Shao Ban melalui kisah Kiki si Kepompong.

“Sertakan saya dalam perbuatan baik, jangan libatkan saya dalam perbuatan jahat.”  Kata Perenungan Master Cheng Yen

Setiap anak ibarat kepompong yang sedang menjalani proses untuk bertumbuh dan berkembang. Dengan bimbingan, kasih sayang, serta lingkungan yang positif, mereka belajar mengenal nilai-nilai kebajikan dan perlahan membentuk diri menjadi pribadi yang lebih baik, seperti kupu-kupu yang akhirnya mampu mengepakkan sayapnya dengan bebas.

Semangat inilah yang mewarnai kegiatan Kelas Budi Pekerti atau Qing Zhi Ban yang diadakan oleh He Qi Jakarta Utara 3 pada Minggu, 11 Oktober 2026, pukul 08.00 WIB, bertempat di Gedung Gan En Lou lantai 2. Sebanyak 35 anak mengikuti kegiatan ini, terdiri dari 16 anak kelas Qing Zhi Ban Besar (QZB B) dan 19 anak kelas Tzu Shao Ban (TSB). Mereka didampingi oleh 23 orang relawan, serta kehadiran 16 orang tua dari anak-anak QZB Besar yang turut mendukung proses pembelajaran putra-putri mereka.

Sejak awal kedatangan, anak-anak bersama orang tua melakukan registrasi kehadiran, mengambil dan memasang name tag. Kegiatan kemudian diawali dengan penghormatan kepada Master Cheng Yen, meditasi, serta pembacaan ikrar kelas. Suasana pun berangsur khidmat sebelum anak-anak memasuki sesi pembelajaran.

Triana mendampingi anak-anak membuat kerajinan tangan berbentuk kupu-kupu dari kertas origami.

Di kelas Tzu Shao Ban, Youmi membawakan materi kisah “Kiki si Kepompong”, sementara Rike menyampaikan materi yang sama di kelas Qing Zhi Ban Besar. Melalui kisah ini, anak-anak diajak memahami perjuangan Kiki dalam menjalani proses metamorfosis hingga akhirnya berubah menjadi kupu-kupu.

Keseruan pembelajaran terasa saat sesi tanya jawab berlangsung. Kartika bertanya, “Bagaimana perasaan kamu setelah melipat kupu-kupu ini?” Vritchael salah satu murid menjawab, “Kebebasan, kupu-kupu bisa terbang bebas ke langit.” Jawaban sederhana ini menggambarkan imajinasi anak-anak tentang kebebasan dan keindahan proses perubahan.

Selain belajar melalui cerita, anak-anak QZB dan TSB juga berlatih isyarat tangan dengan lagu Kuai Le De Peng You dan Di Yi Dao Shu Guang, didampingi oleh Lestin dan Merry.

Anak-anak antusias mempelajari shou yu (isyarat tangan) dengan didampingi oleh Merry dan Lestin.

Setelah mengikuti pembelajaran, anak-anak dan relawan beristirahat sejenak sambil menikmati makan bersama di kantin. Bagi para relawan, kebahagiaan dalam kegiatan ini bukan hanya melihat anak-anak belajar, tetapi juga dapat turut bersumbangsih dalam mempersiapkan setiap kebutuhan kegiatan.

Veni mengungkapkan rasa syukurnya, “Hari ini saya bersyukur bisa bersumbangsih di Kelas Budi Pekerti, mulai dari persiapan logistik pada hari Sabtu sampai dengan hari Minggu ini, dibantu oleh relawan yang lain.”

Kesan positif juga dirasakan oleh Benny, orang tua dari Caitlin dan Bryan, yang baru pertama kali mengikuti Kelas Budi Pekerti bersama anak-anaknya. Ia merasa senang dan menyambut baik kegiatan ini. Ia berharap ke depannya anak-anaknya dapat terus tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang positif.

Usai makan bersama, anak-anak kembali mengikuti kegiatan dengan membuat kerajinan tangan berupa kupu-kupu dari kertas origami. Melalui kegiatan ini, mereka tidak hanya belajar berkreasi, tetapi juga diajak berdiskusi mengenai efek kupu-kupu. Pada sesi refleksi, anak-anak kemudian membuat kata perenungan bulan ini tentang janji menjadi kupu-kupu yang baik.

Dengan penuh semangat, anak-anak kelas Qing Zhi Ban Besar mempraktikkan gerakan isyarat tangan bersama-sama.

Kegiatan Kelas Budi Pekerti ditutup pada pukul 12.00 WIB dengan doa bersama dan penghormatan kepada Master Cheng Yen.

Layaknya kupu-kupu yang harus melalui proses sebelum dapat terbang bebas, anak-anak pun membutuhkan waktu, bimbingan, dan lingkungan yang mendukung untuk bertumbuh. Semoga nilai-nilai kebajikan yang ditanamkan melalui Kelas Budi Pekerti dapat menjadi bekal bagi mereka untuk terus melakukan perbuatan baik dan menjadi pribadi yang membawa manfaat bagi sesama.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Tiga Kata Penuh Makna

Tiga Kata Penuh Makna

16 Februari 2017
Kelas Budi Pekerti Tzu Chi Tanjung Balai Karimun mengangkat sebuah materi Tiga Kata Penuh Makna (Tolong, Maaf, dan Terima Kasih). Ketiga kata tersebut merupakan kata yang harus sering diucapkan karena akan membawa manfaat dan memberi dampak kebaikan yang besar pada diri kita dalam kehidupan sehari-hari.
Menebar Cinta Kasih Melalui Kelas Budi Pekerti

Menebar Cinta Kasih Melalui Kelas Budi Pekerti

12 September 2018

Pengembangan nilai-nilai pekerti yang baik harus ditanamkan sejak usia dini. Seperti pada Kelas Budi Pekerti yang digelar Tzu Chi Bandung kali ini, Minggu 9 September 2018 yang memberikan materi tentang mengasihi dan membantu orang lain.

Belajar Menghargai Waktu untuk Menciptakan Aktivitas Berkualitas

Belajar Menghargai Waktu untuk Menciptakan Aktivitas Berkualitas

03 April 2023

Relawan Tzu Chi He Qi Pusat melaksanakan kegiatan kelas budi pekerti Qin Zi Ban dan Tzu Shao Ban di Tzu Chi Center, PIK pada  Minggu 19 Maret 2023. 

Menghadapi kata-kata buruk yang ditujukan pada diri kita, juga merupakan pelatihan diri.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -