Tampilan rumah keluarga Hendri yang diberikan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi. Perlahan keluarga ini memulai kehidupan baru mereka.
Suasana pagi di Desa Hapesong Baru, Kecamatan Batang Toru, Kabupaten Tapanuli Selatan, berangsur tenang setelah kawasan itu sempat diterjang banjir bandang dan tanah longsor. Hendri Lubis (42) dan Tuti Harahap (40), adalah pasangan suami istri yang berjuang untuk memulai kembali kehidupan mereka setelah dihempas bencana.
Hidup mereka berubah dalam sekejap ketika banjir datang tanpa aba-aba. Dalam hitungan jam, tempat yang selama ini menjadi pelindung dan tempat bernaung keluarga rusak serta terendam. Hari-hari setelah bencana bukanlah hal yang mudah. Tinggal menumpang di rumah sanak saudara, bergantung pada bantuan, dan dihantui ketidakpastian menjadi bagian dari keseharian mereka. Namun di tengah keterbatasan, harapan itu tidak pernah benar-benar padam.
Hingga akhirnya, secercah cahaya datang melalui uluran tangan cinta kasih. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia hadir memberikan bantuan hunian tetap bagi para penyintas. Bagi Hendri dan Tuti, bantuan ini bukan sekadar bangunan fisik, melainkan jawaban atas doa-doa yang lama mereka simpan dalam diam.
Dengan cinta kasih, relawan Tzu Chi mengunjungi rumah keluarga Tuti. Dalam kunjunganya, relawan menanyakan kabar keluarga Tuti dan berbagi cerita mengenai hunian baru mereka.
Saat pertama kali melihat hunian barunya, Tuti tak mampu menyembunyikan haru. Air mata yang mengalir bukan lagi karena kehilangan, melainkan rasa syukur yang mendalam. “Senang, terharu juga dikasih bantuan, tidak menyangka dibuatkan rumah,” ungkapnya haru. Hunian tetap yang mereka terima kini berdiri kokoh memberikan rasa aman, perlindungan, sekaligus awal yang baru untuk kehidupan mereka.
Hendri dan Tuti memiliki lima orang anak, hal yang pertama Hendri lakukan ketika bencana yang melanda pada 25 November 2026 lalu adalah menyelamatkan keluarganya, sehingga hanya mampu menyelamatkan beberapa barang berharga. Ingatannya pun kembali pada hari yang penuh duka itu.
“Karena sebelumnya tidak pernah sampai naik airnya, kami enggak ada persiapan. Anak-anak bahkan ada yang tidur dan ada yang sedang diayun,” tutur Hendri.
Kini, Tuti dan keluarga perlahan dapat menjalani kehidupan seperti sedia kala berkat hunian baru yang mereka dapatkan.
Siang itu, tiba-tiba air naik dari parit yang ada di belakang rumahnya. Dengan perasaan panik dan tergesa-gesa, Hendri dan keluarganya segera mengungsi ke tempat yang lebih tinggi. Dengan cepat air yang bercampur dengan tanah merendam rumahnya, hingga setelah kejadian rumahnya terendam tanah setinggi 50 cm.
“Ya rumah saya terendam, tanahnnya mengendap 50 cm, jadi ketinggian pekarangan kami lebih tinggi dari lantai rumah,” lanjutnya.
Dibalik musibah yang melanda, ada doa dan harapan dari mereka yang terdampak. Sebagai kepala keluarga, Hendri sempat berharap mendapatkan sebidang tanah untuk membangun kembali kehidupannya bersama keluarga. Namun, rezeki yang didapatkanya malah melebihi doanya, yaitu ia dan keluarga mendapatkan hunian tetap dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
“Kami dulu memohon untuk diberi pertapakan (sebidang tanah), tapi tiba-tiba dikasih hunian tetap, makin bersyukurlah kami,” tuturnya.
Dengan hunian yang bersih dan nyaman, Hendri dapat menjalankan ibadah dengan tenang.
Harapan Itu Masih Ada
Bagi mereka yang terdampak bencana di Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, hunian tetap yang diterima pada 27 Maret 2026 dari Yayaan Buddha Tzu Chi Indonesia, menjadi simbol bangkitnya semangat dan keyakinan bahwa setelah kesulitan selalu ada jalan terang. Kini, di bawah atap baru yang melindungi, keluarga ini kembali menapaki hari dengan penuh harapan. Luka masa lalu mungkin tidak sepenuhnya hilang, namun telah berubah menjadi kekuatan untuk melangkah lebih teguh.
Sebagai seorang Ibu, Tuti sangat mengkhawatirkan kondisi anak-anaknya, terlebih lagi ia masih memiliki anak bayi. Dengan kondisi seadanya dikarenakan tidak sempat menyelamatkan harta benda termasuk juga pakaian, Tuti dan keluarganya terpaksa mengungsi ke rumah sanak saudara yang lokasinya aman dari banjir.
Hunian tetap yang diterima keluarga Tuti, membuka jendela harapan untuk mereka melanjutkan kehidupan.
Walaupun disambut dengan baik oleh saudaranya, Tuti tidak ingin merepotkannya begitu lama. Ditambah lagi akses jembatan yang putus di daerah tempat ia mengungsi membuatnya kesulitan untuk berbelanja makanan. Untuk sehari-hari, ia dan keluarga hanya bisa makan seadanya dengan mengandalkan bantuan yang datang.
Pada akhirnya kini, dengan berbagai proses yang dijalani, Tuti dan keluarga dapat menempati hunian baru yang aman dan nyaman. Lokasinya pun tak jauh dari rumah lamanya, sehingga memudahkan suaminya ke tempat kerja, anak-anak bersekolah, dan berbelanja ke pasar. Anak-anaknya pun juga merasa betah karena fasilitas rumah yang memadai, serta mayoritas tetangga hunian baru mereka berasal dari satu kampung yang sama. Hal tersebut memudahkan mereka untuk bersosialisasi dengan penghuni lainnya.
Rasa syukur berkali-kali diucapkan oleh Tuti dan suami dengan hadirnya hunian baru untuk mereka.
“Rumahnya bagus, saya suka dan bahagia di sini. Dulu rumah kami dari papan, sekarang besar, bersih, dan berkeramik. Kalau kami sendiri, mungkin tidak mampu membangun rumah seperti ini. Alhamdulillah, terima kasih untuk Yayasan Buddha Tzu Chi,” ujarnya dengan penuh rasa syukur.
Hendri dan Tuti kini dapat lebih tenang, karena anak-anak mereka dapat tumbuh di bawah atap kokoh hunian baru yang melindungi mereka.
Untuk menunjang aktivitas para warga, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga memberikan prasarana rumah tangga seperti: Kasur, meja makan, sofa, meja buffet, dan ember. Setelah itu, para relawan Tzu Chi akan terus melakukan pendampingan jangka panjang kepada para penghuni. Komitmen jangka panjang ini menjadi salah satu kekuatan utama dalam upaya pemulihan pascabencana. Tzu Chi Indonesia menunjukkan pendekatan berbeda dengan tetap hadir dalam fase rehabilitasi hingga rekonstruksi, bahkan setelah warga kembali menempati hunian tetap mereka.
Editor: Arimami Suryo A