Menghadirkan Kudapan Tradisional Masyarakat Tionghoa Dalam Family Gathering

Jurnalis : Suyanti Samad (He Qi Jakarta Utara 4), Fotografer : Suyanti Samad (He Qi Jakarta Utara 4)

Relawan Tzu Chi mengikat bacang dengan penuh ketelitian agar ketan yang di bungkus tidak keluar dari sudut. 

Bulan Tujuh Penuh Berkah yang merupakan momen untuk memperdalam bakti kepada orang tua, menumbuhkan rasa syukur, menghormati kehidupan dan memperbanyak perbuatan bajik. Melalui praktik kebajikan dalam kehidupan sehari-hari, bersama-sama menciptakan berkah bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat dan bumi.

Sejalan dengan semangat tesebut, Tzu Chi Indonesia menyelenggarakan Family Gathering yang bertajuk Keluarga Harmonis, Hati Bahagia pada Sabtu, 29 Agustus 2026 di Tzu Chi Center, PIK, Jakarta Utara 4 sebagai sarana untuk mempererat keharmonisan keluarga, menumbuhkan kasih sayang dan menghadirkan kebersamaan yang penuh sukacita.

Setiap keluarga yang hadir dalam kegiatan itu menikmati waktu berkualitas bersama sekaligus mengisi bulan tujuh lunar dengan kebajikan dan kebahagiaan. Pada momen acara tersebut, Tzu Chi Indonesia telah menyiapkan 600 buah bacang yang telah dibuat oleh relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Pusat, He Qi Jakarta Utara 4 dan He Qi Tangerang. Kemudian nantinya akan diberikan kepada para peserta ataupun keluarga yang hadir.

Setelah direndam, daun bambu dikeringkan dan dilap dengan kain bersih. Hal ini dilakukan salah satu relawan Tzu Chi, Andre Hidayat, yang baru pertama kali membantu membersihkan daun bambu untuk bacang.

Soelistijowati, selaku Koordinator Komunitas He Qi Jakarta Utara 4, menjelaskan bahwa pembuatan bacang membutuhkan perhatian dan ketelitian, mulai dari menyiapkan bahan utama dan isian hingga teknik membungkus serta mengikatnya agar bacang dapat tersusun dengan baik.

“Kalau tidak teliti, sabar, dan fokus saat membungkus serta mengikat bacang, hasilnya akan terlihat setelah dikukus. Ketan bisa keluar dari sudut daun yang tidak terlipat dengan baik. Membungkus bacang memang membutuhkan keterampilan dan ketelitian, sehingga tidak semua orang bisa melakukannya,” ucap Soelistijowati.

Selain itu, ia menjelaskan bahwa untuk membuat sekitar 200 buah bacang dibutuhkan kurang lebih 20 kilogram ketan. Sementara itu, isian bacang terdiri dari chestnut, jamur hioko, kacang tanah, daging mutton vegan, dan ho tou gu (jamur kepala monyet) berbahan dasar jamur. Ketan perlu direndam semalaman sebelum dimasak, sedangkan kelima jenis isian tersebut membutuhkan waktu sekitar dua jam untuk dimasak. “Karena prosesnya cukup banyak, saya berbagi tugas dengan Lifhi Joto shijie untuk menyiapkan dan memasak isian bacang,” tambahnya.

Lebih lanjut, Soelistijowati menuturkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk membungkus 200 bacang bergantung pada jumlah relawan yang membantu. “Karena saat itu hanya kami berdua, dibutuhkan sekitar 4–5 jam untuk membungkus 200 buah bacang. Sementara proses pengukusan membutuhkan waktu sekitar 1 jam 30 menit karena kami menggunakan panci presto, sehingga prosesnya lebih cepat dan menghemat waktu. Jika menggunakan panci kukus biasa, mungkin dibutuhkan waktu lebih dari tiga jam,” kata Soelistijowati yang tampak cekatan membungkus dan mengikat bacang satu per satu pada hari itu.

Ketan yang telah matang kemudian diangkat untuk dimasukkan ke dalam daun bambu dan dibentuk menyerupai segitiga.

Selain ketan dan isi untuk bacang itu, tentunya dibutuhkan daun bambu. Daun bambu yang akan digunakan sebelum dibersihkan, terlebih dulu direndam semalaman agar debu ataupun kotoran yang menempel di daun bambu itu hilang. Setelah direndam, satu per satu daun bambu tersebut dikeringkan dan dilap dengan kain yang bersih. “Membantu ngelap daun bambu buat bungkus bacang.” kata Andre Hidayat (70), baru pertama kali bantu mengelap daun ini.

Rosida Kusuma, Ketua He Qi Jakarta Utara 4 mengungkapkan perasaan senang dapat menjadi bagian dari persiapan makanan pada Family Gathering,  “Tentunya senang bisa membuat bacang. Meskipun proses membungkus dan mengikatnya membutuhkan teknik serta ketelitian, satu bacang sudah cukup mengenyangkan, apalagi ukuran bacang yang kami buat cukup besar dengan isian yang melimpah. Pastinya puas saat menyantapnya,” tuturnya.

Simbol, Makna Dan Harapan Baik
Bacang merupakan makanan tradisional masyarakat Tionghoa yang terbuat dari beras atau ketan, kemudian diisi dengan berbagai bahan seperti daging, kacang, dan bahan lainnya. Adonan tersebut dibungkus menggunakan daun bambu dan diikat dengan tali hingga membentuk ciri khas bacang.

Relawan Tzu Chi memasukkan isian bacang ke dalam daun bambu sebelum dibentuk dan diikat.

Dalam makna simbolisnya, beras atau ketan melambangkan persatuan keluarga, ujung lancip bacang menjadi simbol penjaga, sementara tali pengikat melambangkan penyatuan kehidupan dalam cinta kasih.
Penggunaan nama Hari Bacang sendiri merujuk pada hidangan tradisional saat Peh Cun (atau Festival Perahu Naga) yang juga dilemparkan ke sungai pada perayaan Hari Bakcang. Meskipun sejarah tradisi ini lebih sering disebut sebagai Peh Cun, namun baik Peh Cun maupun Hari Bakcang memiliki tujuan yang sama, yaitu menghormati tokoh patriot Qu Yuan.

Penggunaan istilah Hari Bacang merujuk pada hidangan tradisional yang erat kaitannya dengan perayaan Peh Cun atau Festival Perahu Naga. Dalam tradisi tersebut, bacang juga dipercaya dilemparkan ke sungai sebagai bentuk penghormatan kepada Qu Yuan, seorang tokoh patriot Tiongkok. Meskipun secara sejarah perayaan ini lebih dikenal sebagai Peh Cun, istilah Hari Bacang turut digunakan untuk merujuk pada tradisi yang sama, yakni mengenang dan menghormati sosok Qu Yuan.

Nilai Bakti Pada Festival Bakcang
Festival bacang atau Duanwu Jie (salah satu festival penting dalam kebudayaan dan sejarah Tiongkok) dapat dikaitkan dengan nilai berbakti, meskipun fokus utamanya sering kali dilihat dari sudut pandang patriotisme dan integritas.

Keterkaitan bacang dengan nilai bakti dapat dipahami melalui sejarah dan latar belakang tradisi tersebut. Salah satunya adalah makna berbakti kepada bangsa dan negara (Zhong-Xiao). Dalam filsafat Tionghoa, khususnya Konfusianisme, nilai bakti tidak hanya berkaitan dengan hubungan antara anak dan orang tua, tetapi juga mencakup kesetiaan dan pengabdian kepada bangsa serta negara (Zhong).

Qu Yuan, tokoh yang erat dengan legenda Hari Bacang, dikenal sebagai seorang pejabat yang menjunjung tinggi integritas dan memiliki kecintaan yang kuat terhadap Negara Chu. Kesetiaannya kepada tanah air hingga akhir hayat kemudian dipandang sebagai salah satu bentuk pengabdian dan bakti yang luhur kepada bangsa dan negara.

Bacang yang telah jadi dibuat tampak menggugah selera dengan bentuk segitiga yang rapi.

Kedua, legenda Cao E, sebagai wujud berbakti anak kepada ayah. Selain kisah Qu Yuan, di beberapa wilayah Tiongkok, Festival Duanwu dirayakan untuk mengenang Cao E (130–144 M), seorang gadis yang menjadi simbol utama kesetiaan dan pengabdian seorang anak (Filial Piety).

Kisah ini menceritakan Cao E, gadis berusia 14 tahun yang rela terjun ke sungai demi menemukan jenazah ayahnya yang tenggelam saat memimpin ritual budaya. Setelah tiga hari, jenazah Cao E muncul ke permukaan sambil memeluk jenazah ayahnya. Pengorbanannya kemudian dikenang sebagai wujud bakti seorang anak, hingga masyarakat mendirikan kuil untuk mengenangnya pada hari yang sama dengan Festival Bacang.

Terakhir, tradisi kehormatan keluarga dan leluhur. Secara praktis dalam kehidupan bermasyarakat, perayaan bacang berfungsi sebagai sarana mempererat hubungan kekeluargaan. Dalam membuat dan menyajikan bacang secara bersama-sama di rumah adalah tradisi yang diwariskan dari generasi tua ke generasi muda. Anak-anak memberikan bacang terbaik kepada orang tua atau tetua sebagai tanda hormat. Sebelum dinikmati bersama, bacang biasanya dijadikan salah satu persembahan di meja altar untuk mendoakan dan mengenang jasa para leluhur keluarga.

Dengan menghadirkan bacang pada acara Family Gathering ini, diharapkan dapat menjadi simbol cinta kasih antara insan Tzu Chi dengan para keluarga yang hadir pada hari itu.

Editor : Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Antusias Belajar Membuat Bakcang Vegetaris

Antusias Belajar Membuat Bakcang Vegetaris

03 Juni 2025

Antusiasme relawan Tzu Chi Makassar membuat bakcang mencerminkan semangat kebersamaan dan cinta kasih. Kegiatan ini digelar dalam rangka Festival Perahu Naga, dan hasil penjualannya akan didonasikan untuk kegiatan amal.

Menyambut Festival Bakcang

Menyambut Festival Bakcang

07 Juni 2022

Menyambut kegiatan Festival Perahu Naga di tahun 2022 ini, Tzu Chi Makassar mengadakan kegiatan pembungkusan bakcang yang diikuti oleh 15 orang relawan.

Antusiasnya Relawan Belajar Membungkus Bacang

Antusiasnya Relawan Belajar Membungkus Bacang

02 Januari 2024

Lima puluh relawan Tzu Chi sangat bersemangat belajar cara membungkus bacang di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan Tzu Chi Jayakarta, Jakarta Pusat. 

Gunakanlah waktu dengan baik, karena ia terus berlalu tanpa kita sadari.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -