Relawan Tzu Chi, Laura Indrayani (kanan) memberikan semangat serta kehangatan untuk Gan En Hu di Aula Jing Si Bandung.
Suasana hangat dan penuh kehangatan keluarga terasa di Aula Jing Si Bandung saat para penerima bantuan Tzu Chi (Gan En Hu) kembali berkumpul pada 6 Juni 2026. Kegiatan yang rutin yang dilakukan relawan Tzu Chi Bandung ini, menjadi momen istimewa untuk mempererat tali kasih antara relawan dan para penerima manfaat. Tak hanya memberikan bantuan rutin, kegiatan ini bertujuan untuk menjalin jodoh baik dengan Tzu Chi.
Bagi insan Tzu Chi, acara ini bukan hanya berbagi bantuan, melainkan bagian dari keluarga besar yang tumbuh bersama dalam semangat cinta kasih universal. Kegiatan ini menjadi sarana untuk saling menyapa, berbagi cerita kehidupan, serta memperkuat semangat dalam menghadapi berbagai tantangan hidup.
Acara gathering Gan En Hu dengan tema “Pulang ke Rumah” ini tidak hanya membawa bantuan, namun para relawan juga mengajak mereka untuk berkegiatan Tzu Chi. Para Gan En Hu datang dengan wajah penuh sukacita, juga disambut hangat oleh para relawan yang telah menyiapkan berbagai rangkaian kegiatan. Kegiatan kali ini dimulai dari memilah botol bekas dalam upaya pelestarian lingkungan.
“Tujuan dari gathering Gan En Hu kali ini supaya para penerima bantuan merasakan arti pulang dengan kehangatan yang berada di rumah mereka atau seperti keluarga sendiri,” tutur Laura Indrayani, koordinator kegiatan.
Sebanyak 20 orang Gan En Hu berkumpul untuk menerima bantuan dan mengikuti kegiatan pelestarian lingkungan.
Yuyun Yuningsih, salah satu Gan En Hu sedang memilih botol plastik yang bisa di daur ulang.
Dalam kegiatan yang penuh kehangatan ini, banyak kisah perjuangan dan rasa syukur yang dibagikan dari para Gan En Hu. Ada yang menceritakan bagaimana bantuan Tzu Chi telah membuat bangkit dari kesulitan ekonomi, ada juga yang merasa terharu karena perhatian dan pendampingan yang diberikan relawan Tzu Chi selama ini. Kehadiran para relawan Tzu Chi tak hanya membawa bantuan materi, tetapi juga memberikan semangat, harapan, dan keyakinan bahwa mereka tidak berjalan sendiri.
Doni (49), salah satu Gan En Hu yang menderita Sirosis dan jantung sejak 2023, mengucapkan rasa terima kasih dan perhatian yang diberikan para relawan. Ia merasa begitu senang bisa menjalin jodoh dengan Tzu Chi dan bagaimana pendampingan relawan membuatnya bersemangat untuk sembuh.
“Saya merasa banyak dibantu Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Saat ini, saya berkeinginan untuk membantu yang lain. Saya menganggap Tzu Chi sudah menjadi keluarga bagi saya, kebahagiaan yang saya dapatkan dari Tzu Chi sangat berarti. Ketika ada waktu luang saya juga beberapa kali ikut kegiatan pelestarian lingkungan, rasanya bahagia sekali,” ucap Doni bersemangat.
Gan En Hu lainnya yang ikut membagikan kisahnya adalah Yuyun Yuningsih. Ia mendapatkan bantuan berupa modal untuk berjualan dan merasakan kebahagian yang sama setelah di bantu Tzu Chi. Kini, kehidupannya jadi lebih baik dan penuh harapan.
“Saya sangat terbantu oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia semenjak ditinggal suami dan mertua. Sekarang saya meneruskan warung mertua saya dengan bantuan Tzu Chi. Bantuan ini sangat membantu keseharian saya, terutama untuk menghidupi anak yang masih bersekolah, rasanya senang banget pokoknya,” ucap Yuyun Yuningsih.
Yanny (kanan) yang menjadi koordinator pelestarian lingkungan mendampingin Gan En Hu memilah barang daur ulang.
Raut wajah bahagia Doni sesaat setelah menerima bantuan dari Tzu Chi dalam kegiatan gathering Gan En Hu.
Kegiatan ini, sejalan dengan semangat Tzu Chi yang memandang setiap insan sebagai keluarga. Bahkan istilah “Pulang ke Rumah” menggambarkan bahwa Aula Jing Si bukan hanya sebuah bangunan, melainkan rumah batin yang selalu terbuka bagi siapa saja yang membutuhkan kehangatan dan perhatian.
Melalui acara gathering Gan En Hu ini, Tzu Chi Bandung berharap hubungan baik yang telah terjalin dapat terus berkembang. Karena dengan saling mendukung dan menebarkan cinta kasih, setiap orang dapat menjadi sumber kebahagiaan bagi sesama. Sejatinya, rumah bukan hanya tempat untuk kembali, tetapi juga tempat di mana kasih sayang tumbuh dan menguatkan kehidupan.
Editor: Nur Al Fajar Rumsari