Menorehkan Bakti dalam Setiap Goresan Aksara di Bulan Tujuh Penuh Berkah

Jurnalis : Yennie (He Qi Jakarta Barat 1), Fotografer : Rachmat Sudarmanto (He Qi Jakarta Barat 1)

Para peserta tampak bersemangat menorehkan goresan aksara di Bulan Tujuh Penuh Berkah.

Bulan ketujuh dalam penanggalan lunar masih lekat dengan sebutan “Bulan Hantu” bagi sebagian masyarakat. Namun, Tzu Chi mengajak masyarakat memandang Bulan Tujuh dari sisi yang berbeda. Bukan sebagai bulan yang perlu ditakuti, melainkan sebagai momentum untuk menyucikan hati, memperbanyak kebajikan, menghormati orang tua, dan berbagi berkah kepada sesama.

Tzu Chi hadir melalui rangkaian Bulan Tujuh Penuh Berkah 2026. Salah satunya adalah kegiatan Salin Sutra Bakti Seorang Anak yang digelar He Qi Jakarta Barat 1 dalam tiga sesi pada 15, 22, dan 23 Agustus 2026 di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi.

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh semakin memudarnya nilai kasih orang tua dan bakti anak dalam keluarga. Di tengah kesibukan dan berbagai tuntutan kehidupan, seseorang terkadang lupa menyediakan waktu bagi keluarga serta merenungkan kembali jasa dan pengorbanan orang tua.

Melalui Sutra Bakti Seorang Anak, setiap peserta diajak menyadari besarnya budi orang tua sekaligus menumbuhkan kembali semangat berbakti. Sutra ini mengajarkan bahwa kasih dan jasa orang tua  begitu dalam. Sebagaimana dikatakan para guru besar, budi orang tua setinggi dan seberat gunung yang menggambarkan besarnya pengorbanan mereka tidak mungkin terukur.

Rekawan Tzu Chi, Surya mengajak para peserta untuk kembali merenungkan dan pengorbanan orang tua yang menyertai tiap langkah kehidupan.

Rangkaian ini juga menjadi bagian dari persiapan menuju Persamuhan “Sutra Bakti Seorang Anak” dalam Pemberkahan Akhir Tahun 2026 yang akan digelar pada awal 2027. Bertepatan dengan Bulan Tujuh Penuh Berkah, sutra ini diperkenalkan kepada relawan dan masyarakat sebagai ajakan untuk kembali menghargai keluarga dan menerapkan nilai bakti dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat ini sejalan dengan ajaran Master Cheng Yen yang mengingatkan pentingnya menghargai dan berbakti kepada orang tua selagi masih ada kesempatan. Bakti bukan sekadar diucapkan, tetapi diwujudkan melalui perhatian dan tindakan nyata.

Menghayati Sutra, Menenangkan Hati
Selama tiga pertemuan, peserta tidak hanya menyalin Sutra Bakti Seorang Anak, tetapi juga diajak memahami nilai yang terkandung di dalamnya melalui rangkaian kegiatan yang menenangkan dan penuh perenungan.

Aksara dalam Sutra Bakti Seorang Anak mengingatkan bakti tidak perlu menunggu sesuatu yang besar. Selagi masih ada kesempatan, perhatian kecil dapat menjadi wujud kasih kepada orang tua.

Kemudian peserta diajak bermeditasi sejenak untuk menenangkan hati. Selanjutnya, mereka menyaksikan video tentang makna Bulan Tujuh Penuh Berkah. Dalam tayangan video tersebut, pesan yang disampaikan mengajak mereka melihat Bulan Tujuh sebagai kesempatan untuk memperbanyak kebajikan dan menumbuhkan rasa syukur.

Suasana semakin hangat saat peserta bersama-sama menyanyikan lagu “Cinta Kasih Orang Tua”. Lantunan lagu mengajak mereka mengenang sosok orang tua dan kasih yang menyertai perjalanan hidup. Rangkaian dilanjutkan dengan pembabaran makna Sutra Bakti Seorang Anak. Dalam suasana yang lebih hening, peserta mulai menyalin sutra secara perlahan dan penuh perhatian. Setiap goresan aksara menjadi ruang untuk merenung sebelum kegiatan ditutup dengan berbagi refleksi.

Mengenang Cinta Kasih Orang Tua
Untuk sesi pertama berlangsung pada 15 Agustus 2026, pukul 16.30–18.00 WIB, dengan tema “Cinta Kasih Orang Tua” dan diikuti oleh 28 peserta.

Pada sesi ini, Surya membabarkan tentang besarnya kasih dan pengorbanan orang tua kepada anak. Peserta diajak melihat kembali perjalanan hidup sejak lahir hingga dewasa yang tidak terlepas dari perhatian, perawatan, dan dukungan keluarga.

Fauzan (29) salah satu peserta yang berasal dari Tangerang untuk pertama kalinya mengikuti Salin Sutra Bakti Seorang Anak dengan tampak antusias.

Dalam pembabaran juga disampaikan makna hari ulang tahun. Dalam Buddha Dharma, ulang tahun bukan sekadar perayaan pertambahan usia, tetapi juga menjadi momen untuk mengingat perjuangan ibu yang mempertaruhkan hidup saat melahirkan serta memberikan ASI sebagai sumber kehidupan di awal pertumbuhan anak.

Pemahaman tersebut mengajak setiap orang untuk tidak hanya merayakan hari kelahiran, tetapi juga mensyukuri jasa orang tua yang telah melahirkan, merawat, dan memberi banyak tentang arti kehidupan.

Salah satu peserta, Fauzan (29) yang berasal Tangerang, ia mengikuti kegiatan ini untuk pertama kalinya setelah diajak seorang teman. “Awalnya saya ikut karena diajak teman dan ini pertama kalinya mengikuti kegiatan seperti ini. Setelah mengikutinya, saya tertarik memahami lebih dalam makna Sutra Bakti Seorang Anak. Ternyata, kegiatan ini bukan sekadar menyalin tulisan, tetapi juga memahami kasih sayang dan perjuangan orang tua,” ucap Fauzan. Pengalaman tersebut menjadi langkah awal bagi Fauzan untuk mengenal lebih jauh makna bakti sekaligus merefleksikan hubungannya dengan orang tua.

Menyadari Kesalahan sebagai Anak
Selanjutnya pada sesi kedua, 22 Agustus 2026, pukul 16.30–18.00 WIB, dengan tema “Kesalahan Anak” dan diikuti 32 peserta. Kegiatan kembali digelar di Ruang Budaya Humanis, Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi.

Pada sesi ini, Venny Handayani memaparkan berbagai kesalahan seorang anak terhadap orang tua. Peserta diajak merefleksikan diri dan menyadari bahwa perkataan, sikap, maupun perbuatan yang dilakukan tanpa disadari  dapat melukai hati orang tua.

Salah satu peserta, Burianto, berbagi refleksi dan pengalamannya setelah mengikuti kegiatan tersebut.

Burianto, Salah satu peserta yang membagikan refleksi dirinya. Sejak mengenal Master Cheng Yen, ia semakin menyadari pentingnya meluangkan waktu untuk orang tua. “Sejak bertemu dengan Master, saya terdorong untuk lebih sering menemani orang tua. Kita tidak pernah tahu kapan mereka akan pergi. Bahkan sekadar menanyakan kabar adalah bentuk perhatian sederhana yang bisa dilakukan selagi masih ada kesempatan,” ungkap Burianto.

Kisah Burianto menjadi pengingat bahwa perhatian kepada orang tua dapat dimulai dari hal sederhana. Mulai dari menemani, menyapa, atau sekadar menanyakan kabar merupakan bentuk kepedulian yang dapat dilakukan dalam keseharian.

Membalas Budi dengan Tindakan Nyata
Pada sesi ketiga, 23 Agustus 2026, pukul 15.00–17.00 WIB, sebanyak 40 peserta mengikuti kegiatan dengan tema “Membalas Budi Orang Tua” di Sekolah Cinta Kasih Tzu Chi.

Sebagai penutup rangkaian, peserta diajak membawa pemahaman yang telah diperoleh ke dalam kehidupan keluarga. Pengorbanan orang tua mungkin tidak akan pernah dapat dibalas sepenuhnya, tetapi rasa syukur dapat diwujudkan melalui kepedulian dan perbuatan sehari-hari.

Rindawaty bersama kedua anaknya tampak fokus mengikuti Salin Sutra Bakti Seorang Anak.

Salah satu peserta, Rindawaty (40), hadir bersama kedua anaknya, Victor Ong (13) dan Erica Aurie (11). Ia berbagi pengalaman tentang perhatian sederhana dari anak-anaknya, seperti membantu mencuci piring, mengambilkan air minum, hingga merawatnya saat sakit. “Hal-hal sederhana seperti itu membuat saya terharu. Perhatian kecil dari anak-anak sangat berarti bagi seorang ibu,” ungkap Rindawaty.

Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa nilai bakti dapat tumbuh dari kebiasaan sederhana di rumah. Membantu pekerjaan, merawat orang tua ketika sakit, atau memberikan perhatian merupakan wujud cinta yang dapat dirasakan secara nyata. Dari pembabaran, menenangkan hati, bernyanyi, menyalin sutra, hingga berbagi refleksi, peserta diajak membawa makna yang dipelajari ke dalam kehidupan. Setiap aksara yang ditorehkan menjadi pengingat bahwa selama orang tua masih bersama, selalu ada kesempatan untuk berbuat baik.

Tiga sesi ini menjadi perjalanan yang saling melengkapi, Sutra Bakti Seorang Anak pun diharapkan tidak berhenti sebagai tulisan di atas kertas, tetapi menjadi nilai yang hidup dalam keluarga agar lebih banyak mendengar, memberikan perhatian, saling menghargai, dan meneruskan cinta kasih kepada generasi berikutnya.

Dari mengingat kasih orang tua, tumbuh rasa syukur. Dari rasa syukur, lahir kesadaran untuk berbakti. Dari kesadaran, terwujud tindakan nyata. Dan dari setiap kebaikan, tercipta berkah bagi banyak orang. Inilah semangat Bulan Tujuh Penuh Berkah Tzu Chi 2026. Melalui kegiatan yang dilaksanakan relawan Tzu Chi komunitas He Qi Jakarta Barat 1, setiap orang diajak untuk kembali kepada keluarga, menghargai jasa orang tua, dan mewujudkan bakti dalam kehidupan sehari-hari.

Editor : Nur Al Fajar Rumsari

Artikel Terkait

Menorehkan Bakti dalam Setiap Goresan Aksara di Bulan Tujuh Penuh Berkah

Menorehkan Bakti dalam Setiap Goresan Aksara di Bulan Tujuh Penuh Berkah

02 September 2026

Dalam rangka Bulan Tujuh Penuh Berkah, relawan He Qi Jakarta Barat 1 mengadakan Salin Sutra “Bakti Seorang Anak” untuk mengajak peserta mengenang kasih dan pengorbanan orang tua.

Melawan Kesulitan Menyalin Sutra

Melawan Kesulitan Menyalin Sutra

09 November 2023

Tzu Chi Batam mengajak para relawan untuk menyelami Sutra Makna Tanpa Batas yang merupakan intisari dari Ajaran Jing Si dan Mazhab Tzu Chi, salah satunya melalui kelas menyalin Sutra. 

Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai, Bakti Jangan Ditunda

Kasih Orang Tua Tak Pernah Usai, Bakti Jangan Ditunda

27 Agustus 2026

Relawan Tzu Chi He Qi Jakarta Pusat mengikuti Kelas Menyalin Sutra Bakti Seorang Anak. Kegiatan ini menjadi ruang bagi relawan untuk mengenang orang tua, memahami makna bakti, dan meneruskan kasih melalui kebajikan.

Menggunakan kekerasan hanya akan membesarkan masalah. Hati yang tenang dan sikap yang ramah baru benar-benar dapat menyelesaikan masalah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -