Yenni Liu dan Sumini berkolaborasi memaparkan cerita dari buku Membeli Kebijaksanaan.Yenni dan Sumini berbagi pengalamannya. Setiap orang bertindak sesuai dengan kondisi batin, pengalaman, dan sebab yang melatarbelakangi tindakan tersebut.
Sejak Juni 2026, relawan He Qi Medan Jati secara rutin menyelenggarakan kegiatan Bedah Buku Dharma setiap hari Jumat di Jing Si Books & Cafe, Kompleks Grand Jati Junction, Medan. Kegiatan ini menjadi ruang belajar bersama bagi para relawan untuk memperdalam nilai-nilai kehidupan melalui kisah-kisah yang sarat makna dan kebijaksanaan.
Pada kesempatan kali ini, relawan dari komunitas Hu Ai Titi Kuning memandu jalannya bedah buku dengan menghadirkan dua narasumber, Yenni Liu dan Sumini. Melalui penyampaian yang hangat dan reflektif, keduanya mengajak para peserta merenungkan kisah "Biksu dan Ular Berbisa", sebuah cerita yang mengajarkan bagaimana menghadapi kehidupan dengan kebijaksanaan dan welas asih.
Yenni Liu menjelaskan bahwa dalam kehidupan, setiap orang tentu berharap diperlakukan dengan baik. Namun, kenyataannya tidak semua hal berjalan sesuai harapan. Ada ucapan yang melukai, sikap yang mengecewakan, bahkan persoalan yang datang tanpa pernah diundang.
"Kisah Biksu dan Ular Berbisa mengingatkan kita bahwa seekor ular menggigit bukan karena kebencian, melainkan karena itulah sifatnya. Demikian pula dalam kehidupan, setiap orang bertindak sesuai dengan kondisi batin, pengalaman, dan sebab yang melatarbelakangi tindakannya. Ada yang mudah marah karena sedang terluka, ada pula yang menyakiti karena belum mampu menyembuhkan dirinya sendiri," tutur Yenni.
Ia menambahkan bahwa tubuh manusia hanyalah perpaduan dari empat unsur, yaitu tanah, air, api, dan angin. Keempat unsur tersebut berkumpul karena sebab dan kondisi, kemudian pada waktunya akan kembali terurai.
Pemahaman ini mengajarkan manusia untuk melepaskan keakuan, mengurangi kemelekatan, serta menjalani kehidupan dengan lebih rendah hati, penuh rasa syukur, dan welas asih kepada semua makhluk.
Kegiatan bedah buku ini rutin diadakan setiap hari Jumat malam yang berlangsung di Jing si Books & Cafe, Kompleks Grand Jati Junction, Medan.
Sumini kemudian melanjutkan pembahasan dengan menekankan bahwa menolong sesama tidak cukup hanya berlandaskan belas kasih, tetapi juga harus disertai kebijaksanaan.
"Jika setiap luka dibalas dengan luka, dan setiap kemarahan dibalas dengan kemarahan, maka racun hanya akan melahirkan racun yang baru. Lingkaran kebencian tidak akan pernah berakhir. Sebaliknya, kebijaksanaan mengajarkan kita untuk merespons dengan hati yang tenang. Cinta kasih harus berjalan berdampingan dengan kebijaksanaan. Sebab cinta kasih tanpa kebijaksanaan dapat menjadi kecerobohan, sedangkan kehati-hatian tanpa cinta kasih dapat berubah menjadi ketakutan," jelas Sumini.
Belajar dari Pengalaman Mendampingi Gan En Hu
Suasana diskusi semakin hidup ketika Emelia, relawan yang mendampingi Gan En Hu (penerima bantuan Tzu Chi), berbagi pengalaman saat pertama kali menangani permohonan bantuan.
"Saat pertama kali menerima kasus, saya memilih alamat yang lokasinya dekat dengan rumah. Ketika melakukan survei dan pendataan, baru diketahui bahwa permohonannya adalah bantuan biaya pengobatan. Setelah melalui pembahasan bersama, calon Gan En Hu akhirnya disetujui untuk menerima bantuan. Jika menjalani pengobatan di rumah sakit, kami juga meminta bukti kontrol untuk memastikan mereka benar-benar mendapatkan perawatan," ungkap Emelia.
Emelia berbagi pengalaman dalam kegiatan survei dan pendampingan penerima bantuan khusus Tzu Chi. Menurut Emelia, ketika relawan Tzu Chi terjun melayani masyarakat, kebijaksanaan, kesabaran, dan welas asih itu akan diuji.
Menurut Emelia, ketika terjun langsung melayani masyarakat, relawan kerap menghadapi penolakan, kesalahpahaman, bahkan kemarahan. Justru dalam situasi seperti itulah kesabaran, kebijaksanaan, dan welas asih benar-benar diuji.
Ia menjelaskan bahwa setiap pendampingan dilakukan bukan untuk mengawasi penerima bantuan, melainkan sebagai bentuk kepedulian.
"Kami ingin memastikan kondisi Bapak dan Ibu benar-benar membaik. Karena itu, apabila berobat ke rumah sakit, kami meminta bukti kontrol agar dapat mengetahui perkembangan kesehatannya," jelas Emelia.
Pengalaman tersebut menjadi pengingat bahwa pelayanan kemanusiaan bukan sekadar membantu orang lain, tetapi juga menjadi proses pembelajaran untuk melatih kesabaran, memperluas welas asih, dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam diri.
Menanam Berkah Melalui Dharma
Tina, relawan asal Jakarta, turut membagikan pengalamannya mengenai pentingnya menanam berkah dan menjalin jodoh baik melalui Dharma.
"Untuk bisa mendengarkan Dharma bukanlah hal yang mudah. Dibutuhkan jalinan jodoh yang luar biasa dan berkah yang telah ditanam sebelumnya agar dapat berjodoh di sini," ujar Tina.
Menurutnya, setiap kegiatan di Tzu Chi menjadi kesempatan untuk melatih Empat Batin Tak Terhingga (Brahma Vihara), yaitu Metta (cinta kasih), Karuna (welas asih), Mudita (turut berbahagia), dan Upekkha (keseimbangan batin).
Tina di dampingi Tommy (anak), relawan dari Jakarta berbagi pengalaman selama berkegiatan di Tzu Chi. Tina mengatakan bahwa dalam setiap kegiatan Tzu Chi, kita melatih Empat Batin Tak Terhingga, yakni Metta, Karuna, Mudita dan Upekkha.
Melalui pelayanan kepada sesama, relawan juga belajar mempraktikkan enam paramita, yaitu berdana, menjalankan sila, melatih kesabaran, menumbuhkan semangat, mengembangkan konsentrasi, serta membangun kebijaksanaan.
"Saya sangat bersyukur bisa berjodoh dengan Xun Fa Xiang (menghirup harumnya Dharma) yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Apa yang saya anggap benar belum tentu benar, begitu pula apa yang saya dengar belum tentu sepenuhnya benar. Sambil melakukan, kita belajar, dan sambil belajar, kita membangun kesadaran. Saya juga bersyukur dapat mengajak anak saya belajar bersama di jalan Dharma yang sama," tutur Tina.
Menumbuhkan Empat Brahma Vihara
Menjelang akhir kegiatan, Shu Tjeng, relawan pembina Tzu Chi di Aceh, menyampaikan rasa syukur sekaligus harapannya agar kelas Bedah Buku Dharma terus menjadi ruang pembinaan batin bagi para relawan.
Melalui pembahasan kisah-kisah Dharma, para peserta diajak menghayati nilai-nilai Empat Brahma Vihara, yaitu cinta kasih, welas asih, turut berbahagia atas kebahagiaan orang lain, dan keseimbangan batin. Keempat nilai tersebut menjadi fondasi agar hati tetap kokoh dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan.
Shu Tjeng, relawan pembina Tzu Chi di Aceh, menutup kegiatan Kelas Bedah Buku dengan memberikan pesan kepada para peserta yang hadir bahwa kegiatan Kelas Bedah Buku penuh Dharma ini membina kita semua untuk menjadi lebih bijaksana.
Pesan yang paling membekas malam itu adalah bahwa kemenangan sejati bukanlah ketika seseorang mampu mengalahkan orang lain, melainkan ketika ia berhasil mengalahkan kemarahan, kebencian, dan ketakutan di dalam dirinya sendiri.
Semoga setiap pertemuan Bedah Buku Dharma tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi kesempatan untuk terus melatih hati, menumbuhkan cinta kasih, memperkuat kebijaksanaan, serta menghadirkan kedamaian dalam kehidupan sehari-hari.
Editor: Anand Yahya