Menyambut 30 Tahun Tzu Chi Indonesia di Momen Waisak

Jurnalis : Hanifa (He Qi Barat 2), Metta Wulandari, Fotografer : Anand Yahya, Halim Kusin (He Qi Barat 2), Henry Tando (He Qi Utara 1), James Yip (He Qi Barat 2)

Para relawan pembawa persembahan berbaris menghadap altar untuk memberi penghormatan kepada Buddha. Waisak Tzu Chi tahun 2023 kembali berlangsung dengan khidmat setelah melewati masa pandemi.

Perayaan Tiga Hari Besar: Hari Waisak, Hari Ibu Internasional, dan Hari Tzu Chi Sedunia telah diselenggarakan di Aula Jing Si PIK dengan tema 30 Tahun Tzu Chi Indonesia. Para peserta yang terdiri dari relawan Tzu Chi dan masyarakat umum membentuk formasi angka 3 dan 0. Angka 3 (tiga) berada di sisi Gedung Gan En, dan angka 0 (nol) di sisi Gedung Da Ai. Angka 30 ini juga menunjukkan usia Tzu Chi Indonesia yang pada tahun ini tepat merupakan 30 tahun Tzu Chi berada dan bersumbangsih di Indonesia.

Dalam membentuk formasi angka 30, ada lebih dari 1.500 relawan dan sukarelawan dari 7 He Qi yang ikut serta. Salah satunya adalah Veni Ng Fun Lim, relawan Tzu Chi komunitas He Qi Utara 2 yang bergabung sejak tahun 2011. Ia mengisi formasi pada posisi G18-13. Ia sangat antusias untuk mengambil bagian dalam acara Waisak, dimulai dari mengikuti latihan dengan sepenuh hati hingga dapat mengikuti gerakan yang dilakukan dengan baik.

Formasi angka 30 dibentuk oleh ribuan relawan dan sukarelawan dimana sesuai dengan tema Waisak Tzu Chi tahun ini, yakni 30 Tahun Tzu Chi Indonesia.

Para Bhikkhu Sangha ikut dalam prosesi pemandian Rupang Buddha dalam acara Waisak Tzu Chi.

“Saya merasa sangat senang bisa mengikuti perayaan Waisak Tzu Chi. Suasana perayaan Waisak ini mengingatkan kembali untuk menjalankan ajaran Master Cheng Yen untuk membersihkan hati dan pikiran,” kata Veni semringah.

Mengetahui tahun ini Tzu Chi berusia 30 tahun, Veni menyampaikan bahwa kehadiran Tzu Chi di Indonesia terus memberikan dampak yang sangat baik untuk menyebarkan kebaikan di tengah masyarakat. Ia berharap Tzu Chi dapat terus menyebarkan kebaikan dan relawan terus bertambah sehingga semakin banyak orang yang mengikuti jejak Master Cheng Yen.

Selain Veni dan relawan lain, formasi angka 30 ini juga diisi oleh peserta umum, salah satunya adalah Anton Santoso yang mengetahui adanya acara ini dari salah seorang relawan Tzu Chi di komunitas He Qi Barat 2. Sebelumnya Anton sudah sering mendengar dan melihat berbagai misi Tzu Chi dan merasa sangat senang juga tersentuh, kali ini dia pun terharu karena ternyata ia sendiri bisa ikut ambil bagian dalam formasi Waisak Tzu Chi.

Masing-masing peserta formasi bergantian melakukan prosesi pemandian Rupang Buddha. Mereka terdiri dari relawan dan sukarelawan dari 7 He Qi di wilayah Jabodetabek.

“Pada perayaan ini saya merasakan banyak yang berbeda dengan Waisak yang pernah saya hadiri sebelumnya, sangat bagus dan luar biasa,” ucap Anton yang tahu Tzu Chi sejak tahun 2004. Di momen menyambut 30 tahun Tzu Chi Indonesia ini, Anton juga berharap Tzu Chi terus berkesinambungan untuk melakukan kegiatan kemanusiaan. “Semoga dapat terus berdedikasi dalam memberikan kontribusi yang bermakna bagi masyarakat dan lingkungan sekitar,” harapnya.

Cahaya Kunang-Kunang Menerangi Dunia
Pada momen menginjak 30 tahun ini, relawan sama-sama menyadari bahwa Tzu Chi Indonesia tidak akan ada dan berkembang dalam membantu sesama apabila tak ada benih bajik. Selanjutnya, dengan adanya Tzu Chi hingga Tzu Chi bisa memperoleh kepercayaan masyarakat pun merupakan hasil dari kerja keras dan sumbangsih para relawan untuk masyarakat yang membutuhkan.

Para peserta memegang lilin bunga teratai untuk berdoa bersama. Master Cheng Yen mengibaratkan setiap orang mempunya cahaya kecil seperti kunang-kunang yang apabila berkumpul, cahayanya bisa menjadi penerang dunia yang gelap.

Master Cheng Yen menuturkan bahwa setiap orang bagaikan kunang-kunang yang membawa cahaya yang kecil apabila ia sendiri, namun menjadi penerang apabila berkumpul bersama. Relawan Tzu Chi pun demikian, apabila hanya mengandalkan tenaga satu orang saja maka akan sulit untuk membantu sesama. Sebaliknya apabila relawan bersatu hati, saling ramah tamah, saling mengasihi, dan bergotong royong maka akan timbul kekuatan yang besar hingga bisa memberikan manfaat dan sumbangsih yang nyata untuk orang yang membutuhkan. 

“Kita berharap kita bisa terus menginspirasi lebih banyak orang lagi. Semoga empat misi Tzu Chi dan Tzu Chi di luar kota bisa berakar lebih mendalam sehingga kita bisa membangkitkan lebih banyak cinta kasih. Dengan adanya niat bajik dalam hati, keluarga akan lebih harmonis, begitu juga dengan masyarakat,” tutur Liu Su Mei, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Editor: Hadi Pranoto

Artikel Terkait

Waisak 2019: Melindungi Bumi, Menyayangi Kehidupan

Waisak 2019: Melindungi Bumi, Menyayangi Kehidupan

13 Mei 2019

Elly dan Pong Shijie keduanya bertugas sebagai relawan pembawa persembahan (bunga dan pelita) dalam Waisak Tzu Chi kali ini, Minggu, 12 Mei 2019. Keduanya juga sama-sama vegetarian dan aktif melestarikan lingkungan, seperti tema perayaan Waisak Tzu Chi kali ini.

Waisak Pertama Tzu Chi di Tanjungpinang

Waisak Pertama Tzu Chi di Tanjungpinang

21 Mei 2015

“Relawan Tanjungpinang, mereka juga tekun dan terus ada belajar. Kami, relawan dari Batam ada datang dua kali mengajarkan mereka Meditasi Pemutaran Dharma Buddha dan Persembahan Hormat Bunga dan banyak lagi  rinci-rinci lainnya. Mereka ada dengar dan ada melakukannya. Hari ini tiba di sini melihat hasil yang dicapai kami sudah merasa sangat pas dan memuaskan,” ujar Lina.

Bepartisipasi Melalui Celengan Bambu

Bepartisipasi Melalui Celengan Bambu

22 Mei 2017

Pagi itu, Stephen dan Kania, serta 375 siswa SMP Santa Maria mengikuti sosialisasi Misi Amal Tzu Chi di aula sekolah mereka. Pengenalan Misi Amal Tzu Chi ini dibawakan Andre Zulman dan Yuli Simorangkir dari Sekretariat Tzu Chi Indonesia.

Keteguhan hati dan keuletan bagaikan tetesan air yang menembus batu karang. Kesulitan dan rintangan sebesar apapun bisa ditembus.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -