Relawan Tzu Chi Surabaya bersama perangkat Kelurahan Tanjung Perak melakukan survei Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) di wilayah Kelurahan Tanjung Perak, Kota Surabaya.
Di bawah hangatnya mentari pagi, Kamis, 22 Oktober 2026, pukul 07.30 WIB, sebanyak 10 relawan Tzu Chi Surabaya berkumpul di Kelurahan Tanjung Perak untuk melaksanakan survei calon penerima bantuan program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH). Sebanyak 42 calon penerima bantuan menjadi sasaran survei untuk melihat secara langsung kondisi tempat tinggal dan kehidupan keluarga yang membutuhkan uluran tangan.
Dengan penuh tanggung jawab, relawan Tzu Chi Surabaya, Becky Ciang menyiapkan data calon penerima bantuan dan membaginya ke dalam beberapa tim. Para relawan kemudian berangkat bersama pihak Kelurahan Tanjung Perak serta perangkat masyarakat yang turut mendampingi. Langkah demi langkah mereka ayunkan, menyusuri lingkungan warga untuk mengenal lebih dekat kehidupan keluarga yang dikunjungi.
Teriknya matahari tak menyurutkan semangat relawan Tzu Chi Surabaya untuk terus berbagi perhatian. Salah satunya Ida Sabrina, yang dengan penuh welas asih mendatangi rumah-rumah calon penerima bantuan. Dalam survei tahap pertama ini, salah satu keluarga yang dikunjungi adalah Kanipah, warga RW 09 yang menjalani kehidupan dalam keterbatasan.

Senyum lebar saat calon penerima bantuan menyambut hangat relawan Tzu Chi Surabaya, Ida Sabrina saat melakukan survei di RW 09, Kelurahan Tanjung Perak.
Kanipah tinggal bersama keluarga yang masih berjuang memenuhi kebutuhan sehari-hari. Menantunya bekerja sebagai pengemudi ojek online untuk menghidupi istrinya yang sedang mengandung, Kanipah, serta seorang keponakan yang belum bekerja. Penghasilan yang diperoleh berkisar Rp.30.000 hingga Rp.60.000 sehari, itu pun tidak menentu. Di tengah segala keterbatasan, Kanipah tetap menyampaikan ceritanya dengan senyum dan rasa syukur.
Mendengar kisah kehidupan keluarga Kanipah serta melihat langsung kondisi yang mereka hadapi, hati Ida Sabrina pun terenyuh. Ia menyadari betapa beratnya perjuangan sebuah keluarga ketika penghasilan yang terbatas harus mencukupi berbagai kebutuhan rumah tangga, terlebih ada anggota keluarga yang sedang mengandung.
“Keadaan penerima bantuan ini sangat memprihatinkan, dengan pemasukan yang hanya sedikit dan pengeluaran yang banyak, apalagi ada yang sedang mengandung juga. Hati saya merasa sesak saat melihat mereka dan membuat saya dapat lebih bersyukur,” ujar Ida Sabrina.

Relawan Tzu Chi Surabaya, Ermin mengecek kondisi atap dari penerima bantuan bersama para kader.
Bagi para relawan, survei bukan sekadar mendata kondisi rumah, melainkan juga kesempatan untuk mendengarkan cerita kehidupan, memahami kesulitan, dan menumbuhkan rasa syukur atas berkah yang dimiliki. Dari setiap kunjungan, ada pelajaran berharga tentang keteguhan hati keluarga-keluarga yang tetap menjalani kehidupan dengan segala keterbatasannya.
Jalinan cinta kasih ini berlanjut melalui survei tahap kedua pada Selasa, 27 Oktober 2026. Sejak pukul 07.30 WIB, sebanyak 36 relawan telah berdatangan untuk kembali menjaring berkah bersama. Dalam kegiatan ini, 14 relawan dibagi menjadi tujuh tim, dengan pembagian wilayah survei masing-masing tim. Salah satu relawan, Ermin, mendapat kesempatan mengunjungi delapan calon penerima bantuan untuk melihat langsung kondisi kehidupan mereka.
Di bawah terik matahari pagi, Ermin memulai langkahnya dari rumah Nuraina, warga Kalimas Baru 1/62 A. Rumah lama Nuraina yang mulai mengalami kerusakan itu menyambut kedatangan Ermin dan kader yang mendampinginya. Melihat kondisi rumah tersebut, Ermin menghela napas panjang. Ada keprihatinan yang tumbuh saat menyaksikan secara langsung keadaan hunian yang membutuhkan perhatian.
Panas terik dan hujan rintik tak menyurutkan relawan Tzu Chi Surabaya untuk melakukan survei calon penerima bantuan renovasi rumah.
Usai melakukan survei, Ermin melanjutkan perjalanan ke rumah calon penerima bantuan berikutnya. Cuaca yang begitu terik menjadi tantangan tersendiri, namun semangat untuk menjaring berkah tetap menguatkan langkahnya. Di tengah perjalanan, hujan deras tiba-tiba turun. Ermin bersama kader yang mendampingi pun berhenti sejenak untuk berteduh. Tak lama kemudian, hujan mulai reda, menyisakan rintik-rintik yang menemani perjalanan mereka kembali.
Saat bergegas menuju Kelurahan Tanjung Perak, Ermin kembali melewati rumah Nuraina. Pemandangan yang terlihat membuat hatinya terenyuh. Hujan yang turun dalam waktu singkat ternyata telah menyebabkan air menggenangi rumah Nuraina, mulai dari bagian luar hingga masuk ke dalam rumah dengan ketinggian mencapai mata kaki.
“Padahal hujan hanya sebentar. Tadi saat kita kemari tidak ada air sama sekali, apalagi sekarang air sudah masuk ke dalam rumah. Rumah yang seperti inilah yang memang layak untuk dibantu,” ujar Ermin dengan penuh keprihatinan.
Temuan tersebut semakin menguatkan kesadaran bahwa rumah yang layak bukan sekadar bangunan untuk berteduh, melainkan tempat keluarga memperoleh rasa aman, menjaga kesehatan, dan menjalani kehidupan dengan lebih baik. Melalui survei ini, relawan Tzu Chi Surabaya berharap kondisi Nuraina dapat menjadi perhatian dalam proses penetapan calon penerima bantuan Bebenah Kampung Renovasi RTLH.
Kondisi rumah Nuraina setelah hujan, tergenang hingga setinggi mata kaki dari luar hingga dalam rumah.
Rangkaian survei di Kelurahan Tanjung Perak pun berakhir dengan terkumpulnya hasil survei terhadap 78 calon penerima bantuan. Setiap rumah yang dikunjungi menyimpan cerita dan perjuangan masing-masing. Di balik data yang dihimpun, ada harapan keluarga untuk memiliki hunian yang lebih aman, sehat, dan nyaman.
Perjalanan Bebenah Kampung Renovasi RTLH masih terus berlanjut. Survei menjadi salah satu langkah awal untuk memastikan bantuan diberikan sesuai kebutuhan dan kondisi di lapangan. Dengan bergandengan tangan bersama pemerintah kelurahan, perangkat masyarakat, serta dukungan berbagai pihak, Tzu Chi Surabaya berharap semakin banyak keluarga dapat merasakan manfaat dari jalinan cinta kasih ini.
Editor: Arimami Suryo A