Rumah Layak Menjadi Awal Untaian Cinta Kasih

Jurnalis : Diyang Yoga W (Tzu Chi Surabaya), Fotografer : Diyang Yoga W, Davian (Tzu Chi Surabaya)

Senyum lebar dari penerima bantuan mewarnai suasana serah terima 13 rumah Program Bebenah Kampung di Kelurahan Petemon.

"Kebahagiaan sejati bukan terletak pada apa yang kita miliki, melainkan pada kesempatan untuk menumbuhkan cinta kasih dan membawa manfaat bagi orang lain. Saat setiap hati bersedia berbagi, dunia akan dipenuhi kehangatan dan harapan." Kata Perenungan Master Cheng Yen

Jumat, 17 Juli 2026, sejak pukul 08.30 WIB, suasana Aula Kelurahan Petemon mulai dipenuhi semangat para relawan Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya. Sebanyak sembilan relawan telah hadir lebih awal untuk menyiapkan seluruh berkas administrasi, membagi tugas di setiap pos pelayanan, serta memastikan prosesi serah terima berjalan dengan tertib. Bagi para relawan, pagi itu menjadi kesempatan untuk menjaring berkah melalui pelayanan yang tulus kepada sesama.

Tak lama kemudian, 13 penerima bantuan Program Bebenah Kampung mulai berdatangan. Senyum bahagia terpancar dari wajah mereka saat memasuki aula. Rumah yang dahulu penuh keterbatasan kini telah berubah menjadi tempat tinggal yang lebih aman, sehat, dan nyaman bagi keluarga mereka. Suasana syukur memenuhi ruangan, menghadirkan kehangatan yang dirasakan oleh seluruh relawan maupun para penerima bantuan.

Kehangatan semakin terasa ketika para penerima bantuan dengan sukarela memasukkan donasi ke dalam celengan bambu. Nominalnya mungkin sederhana, tetapi maknanya begitu besar. Celengan bambu menjadi simbol bahwa cinta kasih tidak berhenti pada diri sendiri, melainkan terus mengalir kepada keluarga lain yang masih menantikan rumah layak huni. Bagi para relawan, melihat semangat berbagi yang tumbuh dari para penerima bantuan menjadi kebahagiaan tersendiri, karena kebaikan yang diterima kini mulai diteruskan kepada sesama.

Sambutan dan apresiasasi dari Lurah Petemon, Anton Legowo karena Yayasan Buddha Tzu Chi telah membantu warganya untuk menadapatkan hunian yang lebih layak.

Kebahagiaan itu juga dirasakan Ketua RW 4, Ahmad Kuswanto. Sebagai sosok yang setiap hari dekat dengan warganya, ia menyaksikan sendiri perubahan yang terjadi, bukan hanya pada bangunan rumah, tetapi juga pada semangat hidup para penerima bantuan.

"Alhamdulillah sekali karena ada warga saya yang mendapat bantuan Bebenah Kampung ini. Celengan bambu ini juga menurut saya hal yang baik karena dapat meneruskan cinta kasih untuk warga di wilayah lain," ujarnya dengan penuh sukacita.

Setelah prosesi serah terima dimulai, satu per satu penerima bantuan maju untuk menandatangani berkas sebagai tanda rumah telah resmi diserahkan. Namun, kegiatan ini tidak sekadar menjadi acara seremonial. Relawan membuka ruang dialog bagi setiap penerima bantuan untuk menyampaikan apabila masih terdapat bagian rumah yang perlu disempurnakan. Dengan penuh keterbukaan, Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya berkomitmen memberikan perbaikan apabila masih ditemukan kekurangan agar rumah yang diterima benar-benar dapat memberikan rasa aman dan nyaman bagi penghuninya.

Relawan menyiapkan tikar untuk dibagikan kepada penerima bantuan saat acara usai.

Di tengah proses tersebut, Becky Ciang bersama Ida Sabrina melayani setiap penerima bantuan dengan penuh kesabaran dan welas asih. Keduanya membantu proses administrasi, mendengarkan setiap masukan dari para penerima bantuan, sekaligus mengingatkan agar rumah yang telah dibangun dengan penuh cinta kasih dapat dirawat dengan sebaik-baiknya. Di sela-sela proses penandatanganan, Ida Sabrina memberikan penjelasan mengenai makna celengan bambu. Ia mengajak para penerima bantuan memahami bahwa celengan bambu bukan sekadar wadah untuk berdonasi, melainkan simbol keberlanjutan cinta kasih. Melalui kebiasaan menyisihkan sedikit demi sedikit dengan hati yang tulus, setiap keluarga dapat menjadi bagian dari rantai kebajikan yang akan membantu keluarga lain memperoleh rumah layak huni.

Melanjutkan penjelasan tersebut, Becky Ciang menyampaikan pesan cinta kasih kepada seluruh penerima bantuan. "Dari celengan bambu ini awal terbentuknya cinta kasih yang Bapak dan Ibu rasakan hari ini lewat Program Bebenah Kampung. Tidak harus menunggu kaya untuk saling membantu, karena membantu sesama bisa dilakukan kapan saja. Celengan ini akan diteruskan kepada penerima bantuan di wilayah lainnya agar cinta kasih ini tidak pernah putus," ujarnya penuh welas asih.

Sebagai bentuk perhatian yang menyeluruh kepada para penerima bantuan, Becky Ciang juga menyerahkan dua buah tikar kepada setiap keluarga yang hadir. Bantuan sederhana tersebut menjadi pelengkap rumah yang kini telah lebih layak huni sehingga dapat langsung dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan senyum hangat, Becky berharap tikar yang diberikan dapat menjadi tempat berkumpulnya keluarga, berbagi cerita, beribadah, serta mempererat keharmonisan di dalam rumah. Pesan yang disampaikan Becky Ciang dan Ida Sabrina disambut dengan anggukan serta senyum para penerima bantuan. Mereka memahami bahwa menerima bantuan bukanlah akhir dari sebuah perjalanan, melainkan awal untuk ikut menjaga dan meneruskan cinta kasih kepada sesama melalui tindakan-tindakan sederhana yang dilakukan dengan penuh ketulusan.

Relawan dengan penuh sukacita memberikan celengan bambu untuk para penerima bantuan agar cinta kasih ini tidak berhenti untuk Kelurahan Petemon tapi untuk penerima bantuan selanjutnya.

Apresiasi juga disampaikan Lurah Petemon, Anton Legowo. Ia menyampaikan rasa terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Surabaya atas kepeduliannya dalam menghadirkan hunian yang lebih layak bagi 13 warganya.

"Saya ucapkan terima kasih karena Yayasan Buddha Tzu Chi sudah membantu warga saya. Semoga program ini dapat memberikan kenyamanan kepada para penerima bantuan sehingga mereka bisa hidup lebih tenang dalam kehidupan sehari-hari karena kini memiliki rumah yang layak," ujarnya.

Salah satu penerima bantuan, Fitria Agustin, tak mampu menyembunyikan rasa harunya ketika menandatangani berkas serah terima bersama Becky Ciang. Baginya, rumah yang kini berdiri bukan hanya bangunan baru, melainkan harapan baru bagi keluarganya.

"Akhirnya rumah saya nyaman untuk ditinggali. Saya sangat berterima kasih sekali karena program ini. Saya juga akan menjaga rumah ini dengan baik, Bu. Mungkin kalau nanti ada rezeki lagi, saya akan memperbaiki bagian-bagian kecil supaya tidak merambat menjadi kerusakan yang lebih besar," tuturnya dengan penuh syukur.

Tikar yang diberikan menjadi bingkisan pelengkap untuk yang dapat langsung dimanfaatkan warga dalam kehidupan sehari-hari.

Semangat kemandirian yang ditunjukkan para penerima bantuan menghadirkan kehangatan tersendiri. Mereka tidak hanya bersyukur atas rumah yang telah diterima, tetapi juga memiliki tekad untuk merawatnya sebagai bentuk penghargaan atas cinta kasih yang telah diberikan.

Di balik dinding-dinding yang kini berdiri kokoh, tumbuh harapan baru, rasa tanggung jawab, dan keyakinan bahwa setiap kebaikan yang diterima akan menjadi awal lahirnya kebaikan berikutnya. Dari sebuah rumah yang kini layak huni, terjalin pula sebuah ikatan kasih yang akan terus mengalir, menghangatkan lebih banyak keluarga di berbagai sudut Kota Surabaya.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Hunian Baru Penuh Cinta Kasih

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Hunian Baru Penuh Cinta Kasih

07 November 2025

Dalam dua hari penuh cinta kasih, relawan Tzu Chi Surabaya mengadakan kunjungan kasih dan dilanjutkan dengan serah terima rumah untuk warga Jagir, Wonokromo.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Warga Ngagelrejo Siap Direnovasi

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Warga Ngagelrejo Siap Direnovasi

31 Oktober 2025

Tzu Chi Surabaya bersama 16 warga Ngagelrejo menandatangani SKB program renovasi rumah pada Jumat, 24 Oktober 2025. Usai momen ini, rumah mereka siap direnovasi.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Baru, Harapan Baru

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Baru, Harapan Baru

27 November 2025

Melalui Program Renovasi 5.020 Rumah Tidak Layak Huni, Sugeng kini memiliki rumah yang bersih, terang, sehat, dan nyaman untuk ditinggali bersama keluarga dan anak-anak.

Keindahan sifat manusia terletak pada ketulusan hatinya; kemuliaan sifat manusia terletak pada kejujurannya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -