Muliawati dan Rumah yang Kembali Menghidupkan Harapan

Jurnalis : Anand Yahya, Fotografer : Anand Yahya

Muliawati saat mengikuti verifikasi dan pengundian nomor rumah yang berlangsung di Balai Desa Panton Labu, Kecamatan Tanoh Jambo Aye, Aceh Utara, dengan suka cita. Ibu Muliawati mendapat rumah dengan nomor Blok H 13.

Langkah Muliawati (63) terlihat pelan saat memasuki Balai Desa Panton Labu, Kecamatan Tanoh Jambo Aye, Aceh Utara, pada Rabu, 3 Juni 2026. Di tangannya tergenggam erat sebuah map berisi dokumen yang diminta panitia verifikasi calon penerima rumah bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Muliawati datang bersama tetangganya di huntara yang juga mengikuti verifikasi. Wajahnya menyiratkan harapan sekaligus kecemasan yang telah ia simpan selama berbulan-bulan. Ia berharap namanya ada dalam daftar warga calon penerima perumahan Tzu Chi Meunasah Bujok.

Di Balai Desa Panton Labu, Kecamatan Tanoh Jambo Aye itu, ratusan penyintas banjir bandang Aceh Utara berkumpul untuk mengikuti proses verifikasi dan pengundian nomor rumah yang diselenggarakan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Bagi sebagian orang, kegiatan tersebut mungkin hanya rangkaian administrasi biasa. Namun, bagi Muliawati, hari itu adalah langkah yang membawanya semakin dekat dengan impian yang sempat hilang untuk memiliki rumah kembali.

Timmy Jawira, relawan Tzu Chi Medan yang bertugas sebagai pengundi nomor rumah, mengajak Muliawati untuk bersama-sama mengambil nomor rumah yang disaksikan juga oleh pejabat daerah setempat.

Dengan ramah, para relawan Tzu Chi Medan dan Tebing Tinggi menyambut setiap warga yang datang. Mereka membantu memberikan nomor antrean, mengarahkan dari meja satu ke meja berikutnya dan memeriksa dokumen, menjelaskan tahapan verifikasi, hingga mendampingi warga yang tampak kebingungan.

"Ibu bawa KTP dan Kartu Keluarga?" tanya seorang relawan.

"Iya, sudah saya bawa," jawab Muliawati sambil menyerahkan berkas yang telah dipersiapkannya.

Relawan kemudian mencocokkan data satu per satu dan memastikan seluruh dokumen lengkap. Kesabaran para relawan membuat Muliawati merasa tenang. Sedangkan di meja untuk melakukan wawancara kepada calon penerima rumah, relawan juga mendengarkan keluh kesah para penyintas dengan memberi perhatian dan memberi semangat untuk selalu sabar dan bersyukur.  

"Saya senang sekali. Relawan-relawan itu baik semua. Mereka menjelaskan dengan sabar dan membantu kami dari awal sampai selesai," kenangnya.

Muliawati sedang dibantu oleh warga memasang meja bufet dan satu set meja makan. Selain mendapatkan rumah, juga mendapatkan perlengkapan rumah tangga, seperti dua unit spring bed, satu set meja makan, satu bufet, satu sofa, dan dua bantal.

Setelah proses verifikasi selesai, Muliawati diarahkan menuju meja pengundian nomor rumah. Timmy Jawira, relawan Tzu Chi Medan, yang bertugas sebagai pengundi nomor rumah mengajak Muliawati untuk bersama-sama dengan Mujianto, Ketua Yayasan Buddha Tzu Chi Sumatera Utara, Sekretaris Daerah Aceh Utara, Dayan Albar, S.Sos., M.A.P., untuk bersama-sama menyaksikan nomor rumah yang didapat oleh Muliawati.

Ketika nomor rumah yang ia ambil dari dalam toples dibuka, wajah Muliawati langsung berubah cerah. Senyum yang sejak tadi tertahan akhirnya pecah menjadi senyum kebahagiaan. Secarik kertas berisi nomor rumah H 13 yang kini digenggamnya menjadi simbol harapan baru yang selama ini ia nantikan.

Dengan tangan sedikit gemetar, ia membubuhkan tanda tangan sebagai bagian dari administrasi penerimaan rumah.

"Disuruh tanda tangan, terus foto juga," ujarnya sambil tersenyum mengingat momen tersebut.

Bagi sebagian orang, nomor rumah hanyalah deretan angka. Namun bagi Muliawati, angka itu adalah tanda bahwa dirinya akan kembali memiliki tempat untuk pulang.

Perasaan haru itu bukan tanpa alasan
Enam bulan sebelumnya, banjir bandang yang melanda Aceh Utara telah mengubah hidupnya. Rumah kayu sederhana yang selama puluhan tahun menjadi tempat berteduh bersama keluarga rusak parah diterjang arus deras. Bangunan yang semula hanya miring perlahan roboh karena tak lagi mampu menahan kerusakan akibat banjir.

"Rumah saya dulu rumah kayu. Air datang dua kali.  Banjir yang kedua itu rumah saya miring, lama-kelamaan roboh. Dapur habis, barang-barang juga banyak yang hilang terbawa arus. Saya tidak punya uang untuk membangunnya kembali," kenang Muliawati dengan mata berkaca-kaca.

Kondisi rumah Muliawati yang sudah porak-poranda diterjang banjir bandang dan sudah tidak dapat ditempati lagi. Tiang-tiang penyangga rumah sudah patah dan sebagian rumah sudah miring ke kiri.

Sudah 6 bulan Ibu Muliawati dan penyintas lainnya tinggal di hunian sementara yang berada di Meunasah Alue Ie Puteh, Aceh Utara.

Sejak kehilangan rumah, ia harus menjalani hari-hari dengan penuh ketidakpastian di huntara. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, Muliawati mengandalkan bantuan dari anak-anaknya. Dalam usia yang tidak lagi muda, ia hanya bisa berharap suatu hari memiliki tempat tinggal yang layak kembali.

Harapan itu akhirnya menjadi kenyataan pada Kamis, 4 Juni 2026. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia menyerahkan 40 unit rumah dari total 100 unit perumahan Tzu Chi di Meunasah Bujok, Aceh Utara, yang dibangun bagi para penyintas banjir bandang.

Saat berdiri di depan rumah barunya yaitu Blok H 13, Muliawati tidak mampu menyembunyikan rasa harunya. Air mata mengalir ketika ia melihat rumah yang kini menjadi miliknya. Rumah yang bersih, kokoh, dan nyaman itu jauh berbeda dengan kondisi rumah lamanya yang terdampak bencana.

"Senang kali saya. Dulu sedih karena tidak ada rumah. Mau tinggal di mana juga bingung. Sekarang sudah ada rumah, sudah ada tempat pulang," tuturnya dengan suara bergetar.

Ibu Muliawati tersenyum menyambut kedatangan Bupati Aceh Utara H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., dan relawan Tzu Chi yang ingin melihat langsung rumah baru yang terdiri dari 2 kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, satu toilet serta memiliki teras dan halaman rumah.

Kebahagiaan Muliawati semakin bertambah ketika mengetahui rumah tersebut tidak hanya berupa bangunan yang kokoh, tetapi juga telah dilengkapi dengan berbagai kebutuhan dasar rumah tangga.

Mendengar penjelasan dari relawan bahwa rumahnya telah dilengkapi dengan tempat tidur, sofa, meja makan, dan perlengkapan lainnya, Muliawati tampak terdiam sejenak.

"Kalau dulu setelah banjir saya tidak punya apa-apa lagi. Kasur pun tidak ada. Banyak barang yang hilang. Sekarang sudah disiapkan semua. Saya bersyukur sekali," katanya.

Kebahagiaan Muliawati semakin lengkap ketika rumah barunya dikunjungi langsung oleh Bupati Aceh Utara, H. Ismail A. Jalil, S.E., M.M., bersama unsur Forkopimda, Koramil, Polsek, BPBD Aceh Utara, dan jajaran pemerintah daerah.

Pada acara serah terima kunci rumah, Bupati Aceh Utara menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia atas kepeduliannya kepada masyarakat yang terdampak bencana.

"Saya mengucapkan ribuan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi atas kepeduliannya kepada masyarakat Aceh Utara yang terdampak bencana. Hari ini menjadi momen yang sangat mengharukan karena kita dapat melihat langsung masyarakat mulai kembali memiliki tempat tinggal yang layak,” ujarnya.

Ia mengaku terkesan karena bantuan yang diberikan tidak hanya berupa bangunan rumah, tetapi juga berbagai perlengkapan rumah tangga yang membuat para penghuni dapat langsung menempatinya dengan nyaman.

"Saya terkejut karena warga tidak hanya mendapatkan rumah, tetapi juga berbagai perlengkapan rumah tangga. Ini menunjukkan perhatian yang begitu besar kepada masyarakat yang sedang berusaha bangkit dari musibah," katanya.

Ibu Muliawati menempati rumah di Blok H-13 Desa Meunasah Bujok Kecamatan Baktiya, Aceh Utara. Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia membangun 100 unit rumah dengan tipe 36 yang terdapat fasilitas 2 kamar tidur, satu ruang tamu, satu dapur, dan satu kamar mandi.

Penyerahan 40 unit rumah ini merupakan tahap pertama dari total 100 unit rumah yang dibangun Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia di Desa Meunasah Bujok. Setiap keluarga penerima manfaat juga memperoleh berbagai perlengkapan rumah tangga, seperti dua unit spring bed, satu set meja makan, satu bufet, satu sofa, dan dua bantal.

Bagi para penyintas, rumah-rumah yang berdiri di Desa Meunasah Bujok bukan sekadar bangunan dari batu bata dan atap biru. Rumah-rumah itu adalah simbol kepedulian, harapan, dan semangat baru untuk melanjutkan hidup.

Bagi Muliawati, rumah tersebut adalah jawaban atas doa yang selama berbulan-bulan dipanjatkannya. Setelah kehilangan tempat tinggal, harta benda, dan rasa aman akibat banjir bandang, kini ia kembali memiliki tempat untuk berkumpul bersama keluarga, menata kehidupan, dan membangun harapan baru.

Di balik dinding-dinding rumah yang baru berdiri itu, tersimpan kisah tentang kepedulian yang menguatkan, tentang kehilangan yang perlahan terobati, dan tentang seorang ibu yang akhirnya bisa tersenyum karena kembali memiliki tempat untuk pulang.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Pesona Indah Cemara Medan Serahkan Donasi untuk Pembangunan Huntap

Pesona Indah Cemara Medan Serahkan Donasi untuk Pembangunan Huntap

14 Januari 2026

Pesona Indah Cemara (PIC) Medan, anak perusahaan Agung Sedayu Group, menyerahkan donasi kepada Tzu Chi untuk mendukung pembangunan hunian tetap di wilayah Sumatera.

Pembangunan Hunian Tetap di Aceh: Progres Pembangunan 500 Rumah di Aceh Tamiang

Pembangunan Hunian Tetap di Aceh: Progres Pembangunan 500 Rumah di Aceh Tamiang

12 Maret 2026

Relawan Tzu Chi Medan bersama pihak Pemerintah Daerah Aceh meninjau progres pembangunan 500 hunian tetap (huntap) di Desa Tanjung Seumantoh, Aceh Tamiang. 

Pembangunan Hunian Tetap di Sumatera Utara: Percepatan Pembangunan Huntap di Tapteng dan Tapsel

Pembangunan Hunian Tetap di Sumatera Utara: Percepatan Pembangunan Huntap di Tapteng dan Tapsel

09 Januari 2026

Tzu Chi Indonesia melakukan penandatanganan Surat Perintah Kerja (SPK) untuk pembangunan Huntap di Tapteng dan Tapsel.

Menggunakan kekerasan hanya akan membesarkan masalah. Hati yang tenang dan sikap yang ramah baru benar-benar dapat menyelesaikan masalah.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -