Abdul Rohman dan Sumarni berdiri di depan rumah mereka yang telah selesai direnovasi melalui Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Bagi Sumarni (46) dan Abdul Rohman (47), rumah bukan sekadar tempat untuk berteduh. Di sanalah mereka melewati hari-hari bersama keluarga, beristirahat setelah menjalani aktivitas, dan menyimpan banyak cerita dalam kehidupan yang penuh keterbatasan.
Keduanya merupakan keluarga sederhana yang tinggal di Bojong Lio, RT 04/RW 028, Kelurahan Sukamaju, Depok. Sejak menikah pada tahun 2005, mereka sudah hampir 21 tahun menempati rumah warisan peninggalan orang tua Sumarni, dengan kondisi bangunan tua yang sudah tidak layak huni.
“Yah kalo dulu emang kondisinya sangat tidak layak dah, banyak yang bocor, pintu-pintunya sama jendela juga pada keropos, sedih dah,” ucap Sumarni.
Dengan kondisi rumah yang sudah tidak layak tersebut, bertahun-tahun pasangan ini hidup dalam rasa tidak tenang. Setiap kali hujan turun, kekhawatiran kembali muncul, terlebih ketika melihat atap rumah yang tak lagi mampu melindungi keluarganya dengan baik.
Relawan Tzu Chi, Rudi Suryana dan Lilis Koniyati, melakukan kunjungan ke rumah keluarga Abdul Rohman yang telah selesai direnovasi.
“kalo rumah yang dulu yang emang engga layak ya, dari atapnya sampai ke plafonnya juga udah pada rusak sering bocor dimana-mana,” ucap Rohman dengan mata yang berkaca-kaca.
Kondisi tersebut membuat Rohman, Sumarni, dan anak-anak mereka menjalani hari-harinya dengan rasa cemas. Ia terus menyimpan harapan agar suatu hari keluarganya dapat tinggal di rumah yang lebih aman, nyaman, dan layak. Kekhawatirannya semakin besar ketika beberapa kali hewan melata masuk ke dalam rumah dan bisa mengancam keselamatan istri dan anak-anaknya.
“Dulu waktu sedang tidur, tiba-tiba saya dibangunkan istri sambil berteriak karena ada ular. Sudah dua kali rumah kami kemasukan ular karena kondisi pintunya banyak yang bolong,” ucap Rohman.
Rumah milik Abdul Rohman dan Sumarni tampak depan saat belum direnovasi.
Keterbatasan ekonomi membuat keinginan Rohman dan Sumarni untuk memiliki rumah yang nyaman terasa seperti sesuatu yang sulit diwujudkan. Pekerjaan Rohman sebagai buruh harian lepas hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, penghasilannya tidak selalu sama setiap hari karena bergantung pada ada atau tidaknya pekerjaan. Di tengah kondisi tersebut, kebutuhan rumah tangga harus tetap dipenuhi.
“Keinginan untuk renovasi rumah ya ada, cuma kondisi ekonomi kami terbatas, uangnya diutamain untuk anak-anak sekolah dulu,” ujar Rohman.
Terwujudnya Harapan Keluarga
Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bersama Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) RI di Kota Depok memberikan harapan baru bagi keluarga yang membutuhkan. Hingga Agustus 2026, dari target 500 rumah di Kota Depok, sebanyak 182 rumah telah selesai direnovasi, termasuk 32 rumah di Kelurahan Sukamaju yang salah satunya milik Sumarni dan Abdul Rohman.
Rohman sedang bekerja sebagai buruh dengan mengangkat karung kedelai untuk kemudian ditempatkan sesuai pesanan pelanggan.
Bagi Sumarni, perubahan tersebut bukan hanya tentang kondisi fisik rumah. Ada rasa lega dan bahagia ketika melihat tempat tinggalnya kini menjadi lebih baik. “Alhamdulillah, seneng banget engga nyangka sama sekali bisa dapet bantuan renovasi rumah dari Tzu Chi,” ucap Sumarni dengan ceria.
Kondisi tempat tinggal yang sebelumnya kurang layak juga menjadi tantangan tersendiri bagi Rohman dan sang istri, Sumarni serta ke-4 anak-anaknya. Namun, keluarga mereka tetap menjalani kehidupan dengan sabar dan berusaha memenuhi kebutuhan keluarga sebisa mungkin.
“Saya dan keluarga mengucapkan banyak-banyak terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang sudah merenovasi rumah kami,” ucap Rohman dengan penuh air mata menahan haru dan rasa syukur.
Aqila, putri bungsu Rohman, sedang belajar didampingi Sumarni di rumah mereka yang kini lebih nyaman, bersih, dan layak huni.
Kebahagiaan juga dirasakan Aqilah (10), putri bungsu Sumarni dan Rohman yang kini duduk di kelas 4 Sekolah Dasar (SD). Kondisi rumahnya kini sudah lebih layak, temboknya bersih dan nyaman untuk ditempati. “Aku seneng banget sekarang rumahnya udah bagus,” ucapnya.
Selain itu, relawan Tzu Chi juga melakukan kunjungan pada Jumat, 21 Agustus 2026, untuk melihat langsung kondisi rumah keluarga Rohman yang telah selesai direnovasi. “Sekarang rumahnya jauh lebih baik dan nyaman untuk ditinggali. Melalui cinta kasih ini, kita bersyukur bisa melihat orang lain bahagia, saya juga ikut merasakan kebahagiaannya. Semoga ke depannya keluarga ini dapat merawat rumah dengan baik, sehingga anak-anak pun semakin nyaman dan senang belajar,” ucap Lilis Koniyati, relawan Tzu Chi komunitas Xie Li Depok.
Lurah Sukamaju, Ari Basuki, S.IP juga mengucapkan rasa syukurnya karena Tzu Chi telah membantu salah satu warganya di kelurahan Sukamaju, Depok. “Alhamdulillah, saya senang melihat warga mendapatkan bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi. Program ini memberikan banyak manfaat sehingga warga kini dapat tinggal dengan lebih nyaman. Saya sangat mengapresiasi program RTLH Tzu Chi dan perhatian yang diberikan kepada warga Kelurahan Sukamaju, semoga keluarga yang menerima bantuan dapat menjaga dan merawat rumah yang telah diberikan dengan sebaik-baiknya,” ujar Ari Basuki.
Lurah Sukamaju, Ari Basuki, S.IP (kanan) sedang melihat kondisi rumah Abdul Rohman yang baru setelah di renovasi Tzu Chi Indonesia.
Untuk keluarga Rohman, Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dijalankan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bukan sekadar pembangunan fisik. Lebih dari itu, bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian yang menghadirkan harapan baru.
Di rumah yang kini terasa lebih nyaman, Sumarni dan Abdul Rohman kembali menatap hari-hari mendatang dengan keyakinan. Sebab, ketika tempat tinggal menjadi lebih layak, ada satu hal lain yang ikut tumbuh di dalamnya yaitu harapan untuk kehidupan yang lebih baik.
Editor: Arimami Suryo A.