Ibu Juriah dengan ramah malayani pembeli yang rata-rata dari para tetangga rumahnya. Ibu Juriah berjualan nasi uduk dan makanan lainnya di teras rumahnya yang sudah selesai di renovasi.
Sore menjelang berbuka puasa, teras rumah Ibu Juriah di Kampung Pedurenan, Kelurahan Harjamukti, Cimanggis, tampak ramai. Beberapa tetangga berdiri menunggu pesanan gorengan bakwan, tahu isi, risol, hingga lontong yang akan menjadi teman berbuka. Dari wajan kecil yang diletakkan di atas kompor sederhana, aroma bakwan yang baru diangkat menyebar hangat di udara.
Dengan cekatan Juriah mengaduk adonan terigu yang dicampur air, bumbu dapur, serta irisan wortel, tauge, dan kol. Tangannya bergerak terampil menuangkan adonan ke dalam minyak panas, seakan sudah sangat akrab dengan pekerjaan itu. Di sela-sela kesibukannya, sesekali ia menyapa para tetangga yang menunggu sambil tersenyum ramah.
Rumah bercat putih abu-abu dengan atap biru itu terlihat bersih dan rapi. Di terasnya terdapat dua meja sederhana, kompor kecil, dan satu baskom besar berisi adonan tepung. Tempat itulah yang setiap hari menjadi ruang usaha sekaligus ruang harapan bagi Juriah dan keluarganya.
Ibu Juriah bersama Ami anak perempuannya ikut membantu berjualan gorengan untuk panganan berbuka puasa. Ibu Juriah sangat senang teras rumahnnya kini lebih bersih dan nyaman untuk berjualan.
Di rumah itu Juriah (62) tinggal bersama suaminya, Namin (64), serta dua cucu dari anak laki-lakinya. Ia memiliki dua anak laki-laki dan perempuan yang kini telah berkeluarga. Juriah sendiri berasal dari Kemayoran, Jakarta pusat, sementara Namin adalah warga asli Cimanggis, Depok.
Dulu, Namin bekerja sebagai ojek motor. Namun sekitar enam tahun lalu hidup mereka berubah ketika Namin terserang stroke. Sejak saat itu langkahnya menjadi berat, dan ia tidak lagi mampu mencari nafkah seperti dahulu.
“Sekarang bapak sudah tidak kuat kerja. Jalannya saja masih susah,” ujar Juriah lirih.
Sejak saat itu, Juriah berusaha menguatkan diri. Ia berjualan nasi uduk dan gorengan setiap hari untuk membantu memenuhi kebutuhan keluarga sekaligus memberi uang jajan sekolah bagi kedua cucunya.
Meski hidup sederhana, Juriah kini memiliki satu hal yang membuat hatinya terasa lebih tenang—rumah yang lebih layak untuk ditinggali.
Namin dengan berjalan tertatih-tatih menunjukkan ruang tidur, ruang tamu, dan dapur serta kamar mandi.
Rumah yang mereka tempati sebenarnya sudah berdiri sejak tahun 1980-an. Selama puluhan tahun, rumah itu hampir tidak pernah diperbaiki. Atap sering bocor saat hujan turun, lantai terasa lembap, dan udara di dalam rumah terasa pengap.
Namun kini suasananya berbeda.
“Sekarang sudah enggak ada atap yang bocor. Atapnya ditinggikan, lantainya sudah dikeramik. Di dalam rumah jadi lebih bersih, lebih adem juga,” tutur Juriah dengan wajah berseri.
Bagi keluarga Juriah dan Namin, memperbaiki rumah sendiri adalah hal yang hampir mustahil. Dengan kondisi Namin yang tidak lagi bekerja, sementara anak laki-lakinya hanya menjadi buruh harian lepas dengan dua anak, kebutuhan sehari-hari saja sudah menjadi perjuangan.
Anak perempuan Juriah yang tinggal bersama suaminya kerap datang membantu sang ibu berjualan nasi uduk dan gorengan, terutama saat bulan Ramadan ketika banyak warga mencari makanan untuk berbuka puasa.
Di tengah keterbatasan itu, bantuan renovasi rumah datang seperti cahaya yang menerangi jalan mereka.
Juriah kini tampak terang dan bersih setelah di renovasi. Di teras rumah kecilnya, di antara wajan gorengan yang terus mengepul, Juriah tetap melanjutkan hidup dengan penuh ketekunan.
Rumah Juriah menjadi salah satu dari 44 rumah warga di Kelurahan Harjamukti yang menerima kunci rumah hasil Program Renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang dijalankan oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Program ini merupakan bagian dari gerakan renovasi rumah tidak layak huni yang dilakukan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia bekerja sama dengan Kementerian Perumahan dan Permukiman Republik Indonesia.
Di Kota Depok sendiri, rencananya sebanyak 500 rumah akan direnovasi secara bertahap. Sebelum 44 rumah ini selesai diperbaiki, sebanyak 14 rumah telah lebih dahulu direnovasi. Dengan demikian, hingga kini sudah ada 58 rumah yang berubah menjadi lebih layak, sehat, dan aman untuk dihuni.
Bagi Juriah, rumah yang kini terasa lebih sejuk dan nyaman bukan sekadar bangunan yang diperbaiki. Rumah itu menjadi tempat baru untuk menata harapan.
Abah Namin menunjukkan salah satu ruang kamar tidur.
Di teras rumah kecilnya, di antara wajan gorengan yang terus mengepul, Juriah tetap melanjutkan hidup dengan penuh ketekunan. Satu demi satu bakwan diangkat dari minyak panas, sementara senyum tak pernah lepas dari wajahnya.
Dari dapur sederhana itu, Juriah tidak hanya menggoreng makanan untuk berbuka puasa. Ia juga menjaga nyala harapan bagi keluarganya bahwa hidup, meski sederhana, tetap bisa dijalani dengan keteguhan hati dan rasa syukur.
Editor: Fikhri Fathoni