Raut wajah bahagia relawan Tzu Chi saat mengunjungi rumah Gunawan, salah satu penerima bantuan renovasi rumah. Dengan senyum hangat pula Gunawan menyambut kunjungan relawan yang ingin melihat rumahnya.
“Pas dari Yayasan Buddha Tzu Chi survei ke sini saya sudah putus asa dan ada rasa tidak percaya. Saya juga kaget, ternyata beneran rezeki saya. Kata saya, ‘Ya Allah Ya Rahman (bersyukur),’” ucap haru Gunawan.
Gunawan (44) tak menyangka rumahnya akan segera direnovasi melalui bantuan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Awalnya, ia sempat ragu dan tak berani berharap banyak ketika rumahnya disurvei. Namun, keraguan itu berubah menjadi rasa syukur setelah mendapat kabar bahwa rumahnya benar-benar akan mendapatkan bantuan renovasi.
Rumah Gunawan yang berada di Kelurahan Pondok Jaya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok, memang terletak tepat di bawah tebing tanah. Di sekitarnya terdapat pepohonan dan empang yang menjadi habitat berbagai hewan liar, termasuk ular.
Setelah longsor merobohkan tembok belakang rumahnya, bagian dalam rumah menjadi terbuka, bahkan ular sempat beberapa kali masuk ke rumahnya. Semua kondisi itu tidak lagi memberikan rasa aman bagi keluarga bahkan sudah hampir dua tahun ia dan keluarga hidup dalam kecemasan tersebut. Karena keadaan itu pula, Gunawan harus tidur di teras selama setahun karena keterbatasan ruang akibat air hujan yang mengalir ke dalam dan takut akan tembok kembali roboh.
“Sudah hampir setahun saya tidur di depan (teras rumah) kalau hujan, soalnya kan di belakang udah enggak ada tembok, jadi ular aja udah berapa kali masuk,” kenangnya.
Kondisi tembok belakang rumah Gunawan yang roboh akibat longsoran tanah. Saat itu, bagian belakang yang digunakan sebagai dapur tidak dapat digunakan istrinya untuk memasak atau mencuci piring.
Kondisi tersebut membuat Gunawan selalu dihantui kekhawatiran akan keselamatan istri dan anak-anaknya. Rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung dan beristirahat justru menjadi sumber kecemasan, terutama saat hujan turun.
Di tengah kondisi itu, Gunawan bukannya tidak berusaha mencari pertolongan. Ia telah mengajukan permohonan bantuan renovasi melalui pengurus RT, RW, hingga instansi terkait. Namun, harapan untuk memperbaiki rumahnya belum juga terwujud.
Kesulitan semakin berat karena musibah longsor datang ketika kondisi ekonomi keluarganya sedang tidak baik-baik saja. Gunawan, yang sebelumnya bekerja sebagai karyawan bagian las di sebuah perusahaan alat-alat medis, harus kehilangan penghasilan tetap setelah dirumahkan oleh tempatnya bekerja.
Tabungan yang dikumpulkannya selama bekerja perlahan habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk biaya pendidikan anak-anaknya. Gunawan dan istrinya memiliki lima anak. Tiga anak masih membutuhkan biaya sekolah, sementara satu anak tinggal bersama neneknya. Anak sulungnya yang telah bekerja sebagai petugas kebersihan turut membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Sang istri juga tidak tinggal diam. Ia bekerja sebagai terapis pijat untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sementara itu, Gunawan berusaha mencari penghasilan tambahan dengan menerima pekerjaan pengelasan lepas atau freelance dari teman-temannya, meskipun tawaran pekerjaan tersebut tidak selalu datang.
Di tengah berbagai keterbatasan, keluarga ini terus berusaha saling menguatkan. Mereka tidak hanya menghadapi persoalan ekonomi, tetapi juga harus hidup berdampingan dengan kekhawatiran akan kondisi rumah yang sewaktu-waktu dapat membahayakan keselamatan. Hingga akhirnya, harapan yang lama dinantikan itu datang melalui Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni dari Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
Setelah direnovasi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia, istri Gunawan dapat kembali mengunakan dapur untuk memasak atau mencuci piring, serta tidak takut lagi hewan liar seperti ular memasuki rumahnya.
Melalui program tersebut, rumah Gunawan akhirnya mendapatkan bantuan renovasi. Perbaikan dilakukan pada dinding dapur yang sebelumnya roboh, plester dinding salah satu kamar, pemasangan plafon, hingga pengecatan dinding rumah. Bagi Gunawan, perubahan yang paling berarti adalah hadirnya kembali rasa aman dan ketenangan yang selama ini hilang dari kehidupan keluarganya.
Kini, ia tidak lagi harus menjalani malam dengan kekhawatiran yang sama seperti sebelumnya. Rumah yang dahulu membuatnya takut perlahan kembali menjadi tempat bernaung dan berkumpul bersama keluarga.
“Sekarang jauh lebih nyaman, jauh lebih layak dari yang kemarin. Mungkin dari sebelum longsor saja rumah saya tidak sampai sebagus ini, enggak kebayang sampai direnovasi seperti ini,” ucapnya penuh syukur.
Bagi Gunawan, bantuan tersebut menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan, terlebih ketika keadaan ekonomi keluarganya belum sepenuhnya pulih. Ia merasa bersyukur karena di tengah kesulitan yang dihadapi, masih ada kepedulian yang datang untuk meringankan bebannya.
“Untuk Yayasan Buddha Tzu Chi saya mengucapkan banyak-banyak terima kasih, mudah-mudahan kebaikannya bisa dibalas, walaupun saya enggak bisa bales apa-apa,” tutur Gunawan kepada relawan dan Tzu Chi yang telah membantunya.
Kebahagiaan Relawan Melihat Keluarga Gunawan Kembali Tenang
Kebahagiaan yang dirasakan Gunawan turut dirasakan para relawan Tzu Chi yang mendampinginya. Pada Selasa, 20 Oktober 2026, dua relawan Tzu Chi Depok, Lilis Koniati dan Rudi Suryana, melakukan kunjungan kasih ke rumah Gunawan.
Dalam kunjungan tersebut, relawan melihat langsung kondisi rumah yang telah selesai direnovasi sekaligus mendengarkan cerita keluarga Gunawan setelah menempati kembali rumah yang kini lebih layak dan nyaman.
Dua relawan Tzu Chi Depok, Lilis Koniati dan Rudi Suryana, tampak bahagia melihat rumah Gunawan yang telah selesai direnovasi.
Bagi Lilis Koniati, melihat rumah Gunawan yang telah selesai diperbaiki menghadirkan kebahagiaan tersendiri. Terlebih, ia mengetahui bagaimana keluarga tersebut sebelumnya harus hidup dengan rasa takut akibat kerusakan rumah.
“Turut bahagia ya melihat semuanya sudah selesai dan rapi, yang menghuni rumahnya juga merasa nyaman,” ujar bahagia Lilis Koniati.
Lilis Koniati juga turut merasakan beratnya situasi yang pernah dialami Gunawan dan keluarganya. Baginya, kondisi rumah yang rusak bukan hanya persoalan fisik bangunan, tetapi juga menyangkut ketenangan batin penghuninya.
“Sebelumnya kan longsor ya mengkhawatirkan, ada ular juga masuk, terus takut tiba-tiba banjir dan ambruk. Sampai tidur saja enggak berani di dalam, tidurnya di luar kalau hujan,” ungkap Lilis Koniati setelah mendengarkan cerita Gunawan dan keluarga.
Mendengar bahwa keluarga Gunawan kini dapat tinggal dengan lebih nyaman membuat Lilis turut bersyukur. Ia melihat bantuan renovasi ini membawa perubahan nyata bagi kehidupan keluarga penerima manfaat.
“Karena dia berjodoh dapat bedah rumah dari Yayasan Buddha Tzu Chi, saya juga ikut gembira, jadi tertolong rumahnya menjadi nyaman untuk tinggal,” ucapnya dengan bahagia.
Kiri: Kondisi salah satu ruangan rumah sebelum direnovasi dengan plafon sederhana dari anyaman bambu. Kanan: Kondisi salah satu kamar sebelum direnovasi dengan tembok yang belum diplester.

Gunawan menunjukan salah satu kamar yang telah direnovasi dengan tembok yang telah diplester dan cat baru sehingga terlihat lebi rapi dan bersih.
Bukan hanya kondisi rumah yang berubah. Menurut Lilis, Gunawan kini juga memiliki ruang untuk memikirkan masa depan keluarganya tanpa terus dibayangi kecemasan akan keselamatan tempat tinggal mereka.
“Sekarang dia (Gunawan) pikiranya lebih positif, enggak pikirin rumah lagi dan was-was, tapi sekarang pikiranya untuk mencari uang dan rezeki, walaupun begitu dia tetap berusaha,” tambahnya.
Kebahagiaan sederhana seperti inilah yang menjadi makna penting dari kunjungan kasih para relawan. Mereka tidak hanya melihat hasil pembangunan secara fisik, tetapi juga menyaksikan bagaimana sebuah rumah yang kembali layak huni dapat menghadirkan ketenangan bagi keluarga yang menempatinya.
Apresiasi Kelurahan untuk Rumah yang Telah Direnovasi
Manfaat Program Bebenah Kampung juga dirasakan masyarakat lainnya di Kelurahan Pondok Jaya. Kehadiran Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia membantu warga yang sebelumnya tinggal dalam kondisi rumah tidak layak huni untuk mendapatkan tempat tinggal yang lebih aman dan nyaman.
Sekretaris Kelurahan Pondok Jaya, Aripudin, menyampaikan apresiasi atas bantuan renovasi rumah yang diberikan kepada masyarakat di wilayahnya. Menurutnya, program tersebut telah memberikan manfaat nyata bagi warga yang membutuhkan.
“Saya mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Yayasan Buddha Tzu Chi yang sudah bedah rumah yang ada di Kelurahan Pondok Jaya ini sebanyak 37 unit, yang bisa diselesaikan dengan waktu cepat. Sehingga ini bermanfaat bagi warga dan juga bisa membantu warga-warga yang memang waktu itu rumahnya tidak layak huni,” kata Aripudin.
Dengan didampingi Sekretaris Kelurahan Pondok Jaya, Aripudin (tengah), relawan mengecek setiap bagian rumah Gunawan yang telah direnovasi. Aripudin juga turut menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berkat bantuan yang diterima warganya.
Sebanyak 37 rumah di Kelurahan Pondok Jaya yang telah direnovasi menjadi bagian dari upaya bersama untuk menghadirkan tempat tinggal yang lebih layak bagi masyarakat. Di balik setiap rumah yang diperbaiki, terdapat keluarga dengan perjuangan dan harapan masing-masing.
Seperti halnya Gunawan, yang dahulu harus menghadapi malam serta hujan dengan rasa takut karena tembok rumahnya roboh, kini dapat kembali merasakan ketenangan di rumahnya sendiri.
Meski perjuangan untuk memperbaiki kondisi ekonomi keluarga masih terus berjalan, setidaknya satu beban besar telah terangkat dari pundaknya. Ia kini dapat lebih memusatkan perhatian untuk mencari nafkah dan membangun kembali kehidupan keluarganya.
Setelah hampir dua tahun hidup dalam bayang-bayang ketakutan, kini Gunawan dan keluarganya akhirnya dapat kembali merasakan arti sebuah rumah: tempat untuk berlindung, beristirahat, dan menumbuhkan harapan.
Editor: Metta Wulandari