Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Ketika Rumah Kembali Menjadi Tempat Berlindung dengan Aman

Jurnalis : Diyang Yoga W (Tzu Chi Surabaya), Fotografer : Diyang Yoga W, Davian (Tzu Chi Surabaya)

Suhariyono bersama keluarga ketika beraktifitas bersama keluarga di ruangan yang atapnya sudah mulai ambruk.

Pagi yang cerah pada Selasa, 4 Agustus 2026, menjadi awal dari sebuah harapan baru bagi Suhariyono, warga Pakis Gang III, Kelurahan Pakis, Surabaya. Pagi itu, relawan Tzu Chi Surabaya bersama perwakilan Kelurahan Pakis, perwakilan Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman serta Pertanahan (DPRKPP), dan kontraktor hadir di rumah Suhariyono untuk melaksanakan kegiatan pembongkaran rumah yang nantinya akan direnovasi oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.

Rumah sederhana yang telah berdiri sekitar 75 tahun itu merupakan peninggalan nenek Suhariyono. Seiring berjalannya waktu, kondisi bangunan semakin memprihatinkan. Atap yang dipenuhi tambalan, plafon yang mulai ambruk, serta bagian rumah yang sudah rapuh membuat tempat yang seharusnya menjadi ruang berlindung justru menghadirkan kekhawatiran bagi keluarga.

Suhariyono yang sehari-hari bekerja sebagai driver pribadi kerap menyimpan rasa cemas ketika harus meninggalkan rumah untuk bekerja. Di rumah, istri dan ketiga anaknya tetap menjalani aktivitas di tengah kondisi bangunan yang tidak lagi memungkinkan untuk ditempati dengan aman.

Kondisi tersebut menjadi perhatian relawan Tzu Chi Surabaya sejak proses survei dari rumah ke rumah untuk mendata rumah tidak layak huni. Setelah melihat langsung keadaan rumah, relawan memahami bahwa rumah Suhariyono perlu segera dilakukan renovasi. Relawan Tzu Chi sekaligus koordinator kegiatan, Becky Ciang, turut merasakan kekhawatiran terhadap kondisi keluarga tersebut.

“Setelah saya melihat rumah Pak Suhariyono, kondisinya sangat memprihatinkan karena rumah ini benar-benar sudah tidak layak untuk ditempati dan hanya satu ruangan yang bisa digunakan. Bagaimana mereka melakukan aktivitas sehari-hari kalau seperti itu? Maka dari itu, setelah penandatanganan Surat Kesepakatan Bersama (SKB), kita langsung menghubungi kontraktor untuk memprioritaskan rumah Suhariyono,” jelas Becky Ciang.

Saat survei rumah Suhariyono, relawan Tzu Chi dan keluarga Suhariyono memanjatkan doa agar pelaksanaan renovasi rumahnya berjalan tanpa kendala.

Prioritas tersebut bukan tanpa alasan. Bagi relawan, keselamatan dan kenyamanan keluarga menjadi hal yang perlu segera diperhatikan. Rumah yang hampir roboh bukan hanya persoalan tempat tinggal, tetapi juga menyangkut rasa aman seorang ayah ketika harus meninggalkan keluarganya untuk bekerja.

Suhariyono pun bercerita bahwa dirinya telah beberapa kali berusaha memperbaiki rumah peninggalan neneknya tersebut. Namun, keterbatasan ekonomi membuat proses perbaikan harus dilakukan sedikit demi sedikit.

“Rumah ini peninggalan nenek saya dulu. Dulunya rumah ini tidak ada tembok, lalu saya menabung sedikit demi sedikit sampai akhirnya bisa membangun tembok sendiri. Saat Covid-19, tabungan tersebut saya gunakan untuk bertahan. Maka dari itu, bantuan ini sangat membantu sekali bagi saya,” tutur Suhariyono.

Celengan sederhana yang dimilikinya menjadi saksi bagaimana Suhariyono berusaha sedikit demi sedikit memperbaiki rumah sekaligus menjaga keluarganya. Namun, sebagai seorang kepala keluarga dengan kebutuhan sehari-hari yang harus dipenuhi, menyisihkan penghasilan untuk membeli bahan bangunan bukanlah hal yang mudah. Terlebih harga material bangunan terus meningkat.

Senyum bahagia dan tawa lepas Suhariyono saat rumahnya selesai direnovasi, ruangan yang dulu tidak dapat digunakan kini menjadi tempat yang nyaman saat berkumpul dengan keluarga.

Melalui Program Bebenah Kampung, jalinan cinta kasih pun hadir untuk membantu meringankan beban tersebut. Relawan Tzu Chi Surabaya bersama Lurah Pakis, Novi Tri Hartatiningsih, perwakilan DPRKPP, dan kontraktor terlebih dahulu mengecek kondisi rumah secara langsung. Sebelum pembongkaran dimulai, seluruh yang hadir melakukan doa bersama, memohon agar proses renovasi berjalan lancar dan rumah yang dibangun nantinya dapat memberikan manfaat serta rasa aman bagi keluarga Suhariyono.

Novi Tri Hartatiningsih menyampaikan apresiasinya atas perhatian Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang memprioritaskan warga dengan kondisi rumah yang membutuhkan penanganan segera.

“Kami sangat mendukung program Bebenah Kampung ini. Saya berterima kasih sekali karena penerima bantuan ini sangat berhak mendapatkan bantuan, sehingga dapat membantu kami untuk saling berbagi kepada warga agar memiliki rumah yang layak huni. Saya juga berharap dengan bantuan ini warga tidak perlu khawatir lagi dengan atap yang bocor, banjir, dan dapat memiliki lingkungan yang lebih baik,” kata Novi Tri Hartatiningsih.

Kesabaran yang Berbuah Manis
Kini, setelah rumah selesai direnovasi pada 5 September 2026, rasa khawatiran yang selama ini dibawa Suhariyono ketika bekerja perlahan berganti menjadi ketenangan. Ia tidak lagi membayangkan plafon yang sewaktu-waktu dapat jatuh menimpa istri dan anak-anaknya. Senyum yang hadir saat menjalani pekerjaannya menjadi tanda bahwa sebuah beban telah terangkat.

Terlebih, rumah tersebut selesai direnovasi sebelum musim penghujan tiba. Sebelumnya, ketika hujan turun, Suhariyono dan keluarganya harus tidur berdempetan karena hanya satu ruangan yang masih dapat digunakan untuk beristirahat. Kini, ketiga anaknya dapat kembali menggunakan kamar yang sebelumnya tidak dapat ditempati.

“Alhamdulillah, sekarang saya tidak merasa khawatir saat bekerja. Anak-anak juga sudah bisa menggunakan kamar yang sebelumnya tidak dapat ditempati,” ungkapnya dengan senyum bahagia.

Tampilan depan rumah Suhariyono setelah selesai direnovasi. Kini, rumah tersebut menjadi tempat berlindung paling aman untuk keluarga, terutama ketika hujan tiba mereka tidak lagi takut rumahnya kebocoran.

Kebahagiaan pun terpancar dari wajah ketiga anak Suhariyono. Tempat yang dahulu dipenuhi rasa waswas kini berubah menjadi ruang yang memberikan ketenangan. Tidur yang lebih pulas menjadi salah satu kebahagiaan sederhana yang sangat berarti bagi keluarga ini.

Namun, cinta kasih yang diterima Suhariyono tidak berhenti pada rumah yang telah direnovasi. Ia ingin meneruskan berkah tersebut kepada keluarga lain yang membutuhkan. Seperti semangat Celengan Bambu Tzu Chi, ia berencana bersumbangsih melalui Celengan Bambu Tzu Chi yang diberikan relawan, untuk turut berbagi dan membantu sesama.

Dari sebuah rumah yang hampir roboh, lahir kembali harapan sebuah keluarga. Dari celengan sederhana dan usaha yang dilakukan sedikit demi sedikit, Suhariyono belajar bahwa kebaikan yang ditanam dengan tulus dapat berbuah menjadi kebahagiaan yang lebih besar.

Rumah bukan hanya tentang tembok, atap, dan lantai. Rumah adalah tempat keluarga menaruh harapan, tempat anak-anak bertumbuh, dan tempat setiap orang ingin kembali dengan rasa aman. Melalui Bebenah Kampung, cinta kasih tidak hanya memperbaiki sebuah bangunan, tetapi juga menghadirkan kembali rasa tenang di dalam hati sebuah keluarga.

Kini, Suhariyono tidak perlu cemas lagi memikirkan rumahnya ketika ia sedang bekerja sebagai driver pribadi.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Warga Ngagelrejo Siap Direnovasi

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Warga Ngagelrejo Siap Direnovasi

31 Oktober 2025

Tzu Chi Surabaya bersama 16 warga Ngagelrejo menandatangani SKB program renovasi rumah pada Jumat, 24 Oktober 2025. Usai momen ini, rumah mereka siap direnovasi.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Saat Harapan Baru Dimulai dari Kupang Krajan

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Saat Harapan Baru Dimulai dari Kupang Krajan

30 Juni 2026

Penandatanganan Surat Kesepakatan Bersama renovasi rumah tidak layak huni di Kelurahan Kupang Krajan, menjadi awal hadirnya harapan baru bagi 29 keluarga penerima bantuan.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Warga Tanah Kali Kedinding Tandatangani SKB

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Warga Tanah Kali Kedinding Tandatangani SKB

26 Desember 2025
Relawan Tzu Chi Surabaya dan warga penerima bantuan melaksanakan penandatanganan SKB di Kantor Kelurahan Tanah Kali Kedinding, Surabaya yang dihadiri sebanyak 34 warga.
Tak perlu khawatir bila kita belum memperoleh kemajuan, yang perlu dikhawatirkan adalah bila kita tidak pernah melangkah untuk meraihnya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -