Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Saat Harapan Baru Dimulai dari Kupang Krajan

Jurnalis : Diyang Yoga W (Tzu Chi Surabaya), Fotografer : Diyang Yoga W, Davian (Tzu Chi Surabaya)

Salah satu relawan Tzu Chi, Becky Ciang saat menyampaikan pesan cinta kasih serta memberikan arahan kepada warga yang akan menandatangani SKB program renovasi rumah.

Pagi itu di Kelurahan Kupang Krajan, Surabaya, pada Kamis, 25 Juni 2026 menjadi awal tumbuhnya harapan baru bagi puluhan keluarga. Sebanyak 10 relawan Tzu Chi Surabaya telah berkumpul dengan penuh semangat untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan kegiatan penandatanganan Surat Kesepakatan Bersama (SKB) Program Bebenah Kampung Renovasi Rumah Tidak Layak Huni. Berkas-berkas disusun dengan rapi, pembagian tugas dilakukan, dan setiap relawan menjalankan perannya dengan penuh sukacita. Kehangatan yang terjalin sejak pagi menjadi cerminan semangat cinta kasih yang senantiasa hadir dalam setiap langkah pelayanan.

Kegiatan ini dihadiri juga oleh Camat Sawahan, Kanti Budiarti; Lurah Kupang Krajan, Herman Felani; Ketua Bidang DPRKPP, Deisy Puspitarini; para tokoh masyarakat; serta warga penerima bantuan. Kehadiran seluruh pihak menjadi bukti bahwa menghadirkan kehidupan yang lebih layak bukanlah tugas satu pihak saja, melainkan buah dari sinergi dan semangat gotong royong.

Sebanyak 29 rumah dinyatakan lolos setelah melewati berbagai tahapan verifikasi, mulai dari pendataan di tingkat kelurahan hingga survei dan penilaian oleh Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. Setiap proses dilakukan secara teliti agar bantuan benar-benar diberikan kepada keluarga yang layak menerima bantuan.

Suasana penuh haru begitu terasa sejak para penerima bantuan memasuki ruang registrasi. Sambutan hangat para relawan membuat rasa gugup perlahan berubah menjadi senyum bahagia. Di balik setiap senyuman itu, tersimpan harapan akan hadirnya rumah yang lebih aman, nyaman, dan layak untuk ditempati bersama keluarga.

Lurah Kupang Krajan, Herman Felani, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas hadirnya program renovasi rumah tidak layak huni untuk warga di wilayahnya.

Salah satu penerima bantuan renovasi rumah, Winarti dengan begitu khitmad berdoa dan merasa bersyukur karena telah mendapat bantuan dari Tzu Chi Indonesia.

Lurah Kupang Krajan, Herman Felani, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas hadirnya program renovasi rumah tidak layak huni untuk warga di wilayahnya.

"Saya berterima kasih sekali karena bantuan ini dapat membantu meringankan sebagian warga saya. Warga Kupang Krajan cukup banyak yang memiliki rumah tidak layak huni, sehingga bantuan ini sangat berarti untuk mengurangi beban mereka. Saya bersama para tokoh masyarakat di Kupang Krajan akan berkomitmen membantu agar seluruh proses renovasi nantinya berjalan dengan lancar," ujarnya dengan wajah penuh suka cita.

Komitmen tersebut juga diperkuat oleh salah satu perwakilan LPMK (Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan) Kupang Krajan. Melalui koordinasi bersama ketua RT, tokoh masyarakat, dan warga sekitar, LPMK menyatakan kesiapannya untuk mendukung seluruh proses renovasi agar berlangsung dengan aman, tertib, dan kondusif. Tidak hanya itu, semangat gotong royong juga akan diwujudkan dengan membantu para penerima bantuan membersihkan serta mengosongkan rumah mereka sebelum proses renovasi dimulai. Kebersamaan inilah yang menjadi kekuatan utama suksesnya berjalannya program.

Dengan penuh cinta kasih, relawan Tzu Chi mendampingi warga penerima bantuan untuk membaca serta mempelajari isi dari SKB program renovasi rumah.

Dari sisi relawan Tzu Chi, Becky Ciang menyampaikan pesan cinta kasih kepada seluruh penerima bantuan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan program renovasi rumah ini tidak hanya ditentukan oleh proses pembangunan fisik, tetapi juga oleh semangat kebersamaan antara penerima bantuan, kontraktor, relawan, serta warga sekitar. Semua pihak diharapkan saling mendukung agar proses renovasi dapat berjalan dengan lancar.

Dalam kesempatan tersebut, Becky Ciang juga membagikan pengalaman dari pelaksanaan program renovasi rumah di beberapa kecamatan sebelumnya. Berbagai kendala yang pernah dihadapi dijadikan pembelajaran agar proses renovasi rumah di Kelurahan Kupang Krajan dapat berlangsung lebih baik dan meminimalkan hambatan. Setelah sesi berbagi pengalaman, seluruh peserta bersama-sama membacakan isi Surat Kesepakatan Bersama sebagai bentuk komitmen bersama, sekaligus menghindari kesalahpahaman selama proses renovasi berlangsung.

Kebahagiaan semakin terasa ketika satu per satu penerima bantuan menandatangani Surat Kesepakatan Bersama. Tanda tangan tersebut bukan sekadar sebuah administrasi, melainkan awal dari perjalanan menuju kehidupan yang lebih layak.

Salah satu penerima bantuan, Marpuah, warga Petemon Timur Gang Buntu, mengungkapkan rasa syukurnya. Perempuan paruh baya yang sehari-hari berjualan gorengan itu selama bertahun-tahun tinggal di rumah dengan rangka kayu yang telah lapuk, atap bocor, dan plafon yang sudah rusak hingga hanya menyisakan rangkanya.

"Keadaan rumah bocor semua untuk atap dan kayunya sudah rapuh semua, plafon juga sudah tidak ada. Terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi. Semoga panjang umur dan dapat membantu lebih banyak orang seperti saya," tuturnya penuh haru.

Sukacita dan senyum bahagia terlihat begitu jelas di wajah para penerima bantuan. Nantinya, rumah mereka akan direnovasi oleh Tzu Chi Indonesia menjadi lebih aman dan nyaman untuk ditempati bersama keluarga.

Rasa syukur yang sama juga dirasakan Winarti, istri dari Bagus Santoso, warga Banyu Urip. Sebagian rumah yang ditempatinya telah ambruk sehingga seluruh aktivitas keluarga hanya dapat dilakukan di satu kamar yang masih aman digunakan.

"Rumah saya sebagian sudah ambruk, jadi saya tinggal di kamar saja untuk beraktivitas. Saya senang sekali dengan bantuan ini karena nantinya ruang tamu yang tidak bisa digunakan akan bisa dipakai kembali, dan anak-anak saya bisa lebih leluasa beraktivitas," ujarnya dengan senyum bahagia.

Camat Sawahan, Kanti Budiarti, turut menyampaikan rasa syukur dan apresiasi kepada Tzu Chi Surabaya atas kepeduliannya kepada masyarakat.

"Saya ucapkan terima kasih kepada Tzu Chi Surabaya karena telah memberikan kesempatan bagi warga saya untuk merasakan rumah layak huni. Warga yang hadir hari ini adalah orang-orang terpilih yang menerima berkah melalui Tzu Chi Surabaya. Harapan saya, semoga berkah ini kembali kepada semua pihak yang telah memberikan," ujarnya dengan senyum hangat.

Surat Kesepakatan Bersama yang ditandatangani hari itu menjadi awal dari perjalanan panjang membangun rumah, sekaligus membangun harapan. Ketika pemerintah, masyarakat, relawan, dan penerima bantuan berjalan beriringan, cinta kasih tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui hati yang saling menguatkan.

Editor: Fikhri Fathoni

Artikel Terkait

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Wujudkan 500 Rumah Layak Huni di Kota Pahlawan

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Wujudkan 500 Rumah Layak Huni di Kota Pahlawan

20 Oktober 2025

Menteri PKP, Maurarar Sirait dan Walikota Surabaya, Eri Cahyadi hadiri peluncuran dimulainya Renovasi Rumah Tidak Layak Huni yang digagas Tzu Chi Indonesia.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Warga Ngagelrejo Siap Direnovasi

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Warga Ngagelrejo Siap Direnovasi

31 Oktober 2025

Tzu Chi Surabaya bersama 16 warga Ngagelrejo menandatangani SKB program renovasi rumah pada Jumat, 24 Oktober 2025. Usai momen ini, rumah mereka siap direnovasi.

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Panas Terik, Dingin Hujan Tak Surutkan Semangat Menjaring Berkah

Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Panas Terik, Dingin Hujan Tak Surutkan Semangat Menjaring Berkah

25 Oktober 2025

Relawan Tzu Chi Surabaya kembali menebar kebaikan lewat survei sosial ekonomi tahap kedua di Kelurahan Wonokromo.

Kehidupan masa lampau seseorang tidak perlu dipermasalahkan, yang terpenting adalah bagaimana ia menjalankan kehidupannya saat ini.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -