Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Wujud Harapan Warga Tanah Kali Kedinding untuk Rumah Layak Huni
Jurnalis : Diyang Yoga W (Tzu Chi Surabaya) , Fotografer : Diyang Yoga W, Hendra (Tzu Chi Surabaya)
Becky Ciang dengan penuh welas asih menjelaskan sedikit tentang program Bebenah Kampung.

Dessy Puspita Rini Kepala Bidang Dinas Perumahan Rakyat Kawasan Permukiman Serta Pertanahan saat memberikan sambutan dan memberikan informasi tentang persayaratan bagi calon penerima bantuan.

Warga Kelurahan Kali Tanah Kedinding menyambut hangat sosialisasi program bebenah kampung ini dengan senyum lebar di wajah mereka.

Perwakilan dari Cipta Karya Provinsi Jawa Timur membantu menjawab pertanyaan dari para calon penerima bantuan.

Matsuka warga Kedinding Tengah 4A/03 saat menyerahkan berkas dan mendengarkan persyaratan sebagai calon penerima bantuan dengan senyum lebar.

Penyerahan berkas menjadi tempat berbagi kehangatan antara relawan dan calon penerima bantuan yang bahagia dengan adanya program bebenah kampung ini.

Relawan dengan cinta kasih membalas kehangatan dari calon penerima bantuan dengan senyum lebar bukti ketulusan dalam menjaring berkah.
Seperti perenungan Master Cheng Yen yang menjadi pegangan para relawan, “Kewajiban kita dalam kehidupan adalah melakukan hal yang bermanfaat bagi banyak orang.”
Artikel Terkait
Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Panas Terik, Dingin Hujan Tak Surutkan Semangat Menjaring Berkah
25 Oktober 2025Relawan Tzu Chi Surabaya kembali menebar kebaikan lewat survei sosial ekonomi tahap kedua di Kelurahan Wonokromo.
Renovasi Rumah Tidak Layak Huni di Surabaya: Rumah Warga Ngagelrejo Siap Direnovasi
31 Oktober 2025Tzu Chi Surabaya bersama 16 warga Ngagelrejo menandatangani SKB program renovasi rumah pada Jumat, 24 Oktober 2025. Usai momen ini, rumah mereka siap direnovasi.
Air Mata Haru dan Senyum Syukur Warnai Bedah Rumah Tzu Chi Surabaya
17 September 2025Relawan Tzu Chi Surabaya melanjutkan program Bedah Rumah dengan melakukan survei ke rumah 24 warga di Kelurahan Ngagel Rejo. Dari senyum Ibu Suhartini hingga air mata haru Ibu Suyatmi.







Sitemap