Satu Langkah Kecil, Perubahan Besar Menuju Dunia yang Bersih

Jurnalis : Joshlyn Cennatha (Tzu Ching UNPRI), Fotografer : Dok. Tzu Ching UNPRI
Relawan dan peserta melakukan door to door untuk mengumpulkan barang daur ulang, mengajak warga setempat berpartisipasi dalam program pelestarian lingkungan Tzu Chi.

Banjir skala besar yang mengguncang Kota Medan pada bulan November 2025 lalu telah meninggalkan bekas mendalam bagi kehidupan masyarakat dan lingkungan sekitar. Bencana tersebut tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, melainkan juga menimbulkan kerusakan signifikan pada infrastruktur seperti jalan raya, jembatan, hingga sistem saluran air, sekaligus memberikan dampak buruk pada ekosistem lokal seperti kerusakan vegetasi dan pencemaran sumber air bersih.

Di balik kondisi tersebut, salah satu faktor utama yang memperparah situasi adalah akumulasi limbah sampah yang tidak terkelola dengan baik. Akumulasi sampah ini menyumbat saluran drainase dan aliran sungai di berbagai wilayah. Akibatnya, aliran air hujan terhambat dan memicu luapan air yang meluas. Menanggapi hal ini, Tzu Ching UNPRI (Universitas Prima Indonesia) melakukan kegiatan WAVES (We Are Vegetarian and Earth Savior) di Universitas Prima Indonesia Jalan Sampul No. 3 Kota Medan, Sumatra Utara pada hari Minggu, 25 Januari 2026.

WAVES adalah program yang dilakukan oleh Tzu Ching untuk mendukung misi pelestarian lingkungan Tzu Chi dengan memberikan kontribusi nyata dalam menjaga kelestarian bumi. Kegiatan ini sejalan dengan misi pelestarian Tzu Chi, di mana 16 relawan kembang mempelajari cara pemilahan sampah daur ulang. Kegiatan ini juga menjadi wadah bagi Tzu Ching UNPRI untuk bersosialisasi sekaligus meningkatkan kepedulian masyarakat, terutama generasi muda, terhadap lingkungan sekitar.

Budi melakukan penyuluhan terhadap jenis-jenis sampah daur ulang dan dampak dari limbah sampah, ia menjelaskan pentingnya pengelolaan sampah untuk menjaga lingkungan.

Kegiatan WAVES kali ini dimulai dengan kunjungan door to door ke rumah warga di sekitar Jalan Sampul untuk mengumpulkan barang yang dapat didaur ulang. Setelah itu, kegiatan dilanjutkan dengan penyuluhan dan sesi pemilahan sampah daur ulang berdasarkan jenisnya, dibawakan oleh Budi Dharmawan merupakan seorang relawan yang telah lama menjalankan misi pelestarian lingkungan. Untuk memudahkan pemahaman para peserta terkait jenis-jenis sampah daur ulang, ia juga menyusun permainan interaktif.

Dalam permainan tersebut, para relawan ditugaskan untuk memilih sampah daur ulang sesuai dengan kategorinya. Selain itu, melalui bimbingan dari relawan berpengalaman seperti Budi yang juga turut membimbing sesi materi, dan juga praktik pemilahan, ia juga mempelajari lebih dalam tentang klasifikasi sampah daur ulang, mulai dari jenis-jenis plastik yang sering membingungkan hingga prosedur penanganan barang elektronik bekas yang aman dan sesuai standar.

Budi berharap melalui kegiatan ini, semakin banyak orang yang terinspirasi untuk menjaga Bumi, “Semakin banyak orang yang peduli dan terlibat menjaga Bumi, semakin besar pula harapan agar kita semua bisa ikut berkontribusi, langsung maupun tidak langsung, supaya Bumi tidak semakin panas ke depannya”, ujar Budi Dharmawan.

Denys beserta relawan kembang melakukan pemilahan botol plastik, memisahkan berdasarkan jenis dan kondisi agar bisa didaur ulang dengan optimal.

Setelah sesi penyuluhan tentang barang daur ulang disampaikan, para peserta diajak langsung ke sesi praktik pemilahan mulai dari memilah botol plastik, buku bekas, hingga peralatan elektronik bekas.

Denys Hadi Suyanto, sebagai koordinator utama acara kali ini, turut serta secara langsung dan aktif berinteraksi dengan para peserta yang sebagian besar merupakan mahasiswa. Dari interaksi tersebut terungkap fakta menarik bahwa sebelumnya banyak di antara mereka belum memahami perbedaan antara barang yang dapat dan tidak dapat didaur ulang. Namun, melalui kegiatan ini, kini para peserta sudah mampu mengenali dan mengklasifikasikan sampah dengan benar sesuai jenisnya.

“Dari kegiatan ini saya mendapatkan pelajaran berharga, terutama terkait pentingnya komunikasi yang efektif baik antar relawan maupun dengan seluruh peserta,” ujar Denys Hadi Suyanto

Vallen Efferia, salah satu seorang peserta yang juga seorang mahasiswa, pertama kali mengikuti kegiatan WAVES. Ia merasa kegiatan ini sangat bermanfaat untuk melestarikan bumi. “Kita diberi kesempataan untuk berbuat baik melalui pelestarian lingkungan, kemudian kita juga belajar mendaur ulang sampah daur ulang dan bagaimana kita dapat berkontribusi dalam menjaga lingkungan disekitar kita,” ujar Vallen Efferia.

Relawan dengan semangat memilah buku bekas, mengelompokkan sesuai jenisnya untuk mempermudah distribusi dan pemanfaatan kembali.

Di tahun 1990, Master Cheng Yen memberikan ceramah mengenai pelestarian lingkungan yang mana mendorong para muridnya untuk menggunakan tangan yang mereka gunakan bertepuk tangan untuk menjaga lingkungan dengan memilah sampah. Mengutip sebuah kata perenungan dari Master Cheng Yen, cara kita mensyukuri dan membalas kebaikan bumi adalah dengan tetap bertekad menjaga kelestarian lingkungan.

Melalui kegiatan WAVES ini, Tzu Ching UNPRI (Universitas Prima Indonesia) berharap kesadaran masyarakat, terutama kalangan muda-mudi, mengenai dampak buruk sampah dapat meningkat, serta lebih banyak generasi muda yang terlibat dalam upaya pelestarian lingkungan. Melalui kegiatan ini, diharapkan hati manusia dapat menjadi lebih bersih dan penuh kepedulian, serta dunia dapat terbebas dari bencana, menjadikannya tempat yang bersih dan sejahtera.

Editor: Metta Wulandari

Artikel Terkait

Perpaduan Budaya dan Misi Daur Ulang

Perpaduan Budaya dan Misi Daur Ulang

22 Februari 2012 Sebagai tempat manusia tinggal, kita wajib menjaga kelestarian bumi dan menyayanginya dengan cinta kasih. Dalam perayaan Cap Go Meh ini, para relawan juga turut ambil bagian atas misi pelestarian lingkungan.
Bersukacita Melakukan Daur Ulang

Bersukacita Melakukan Daur Ulang

16 Maret 2011

Sejak pukul 09.00 WIB pada hari Minggu tanggal 20 Februari 2011 di Posko Daur Ulang Tzu Chi Tebing Tinggi telah berkumpul para relawan biru putih, abu putih, dan relawan rompi sebanyak 30 orang. Para relawan tampak begitu bersemangat dalam memilah sampah yang dapat didaur ulang.

Bodhisatwa Daur Ulang

Bodhisatwa Daur Ulang

01 April 2011 Menyadari akan kondisi bumi yang sudah rentan, Master Cheng Yen sejak 20 tahun yang lalu telah menyerukan kepada seluruh insan Tzu Chi di dunia untuk giat melakukan gerakan pelestarian lingkungan.
Sikap jujur dan berterus terang tidak bisa dijadikan alasan untuk dapat berbicara dan berperilaku seenaknya.
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -