Koordinasi relawan Tzu Chi dan pihak Kelurahan Tambak Wedi saat pembagian wilayah survei, yang dilakukan dalam 8 tim bersama para kader pendamping.
Relawan Tzu Chi Surabaya kembali melangkah dengan penuh semangat dalam menjalankan Program Bebenah Kampung Tzu Chi Renovasi Rumah Tidak Layak Huni. Pada Selasa, 20 Januari 2026, pukul 08.30 WIB, kegiatan survei calon penerima bantuan dilaksanakan di Kantor Kelurahan Tambak Wedi. Kedatangan relawan Tzu Chi disambut hangat oleh pihak kelurahan beserta para kader yang sejak pagi telah bersiap untuk mendampingi jalannya survei di lapangan.
Sebanyak 23 relawan Tzu Chi dibagi ke dalam 8 tim, masing-masing didampingi oleh kader kelurahan. Mereka bersama-sama menyusuri gang-gang sempit di wilayah Tambak Wedi. Kondisi jalan yang terbatas tidak menyurutkan semangat relawan dan kader untuk menjangkau rumah-rumah warga yang membutuhkan. Kebersamaan dan kerja sama terasa kuat sepanjang proses survei berlangsung.
Dalam kegiatan ini, total 42 rumah calon penerima bantuan disurvei. Dari jumlah tersebut, 34 rumah dinyatakan layak untuk dilanjutkan ke tahap usulan Rencana Anggaran Biaya (RAB), sementara 8 rumah lainnya belum dapat diproses lebih lanjut karena tidak memenuhi syarat yang telah ditetapkan.
Becky Ciang, relawan Tzu Chi, disambut hangat oleh calon penerima bantuan. Proses survei ini didampingi oleh pihak kelurahan, tidak hanya kader, tetapi juga seluruh staf kelurahan yang turut menjalankan ladang berkah bersama.
Di salah satu rumah yang disurvei, relawan bertemu dengan Priyanto, calon penerima bantuan yang menyambut kedatangan relawan dengan senyum lebar. Dalam proses survei, Priyanto menceritakan kondisi rumahnya yang hampir di setiap sisi temboknya mengalami kebocoran. Rumah yang menggunakan cor-coran sebagai pelindung dinding justru membuat air hujan mudah merembes masuk melalui celah-celah tembok saat musim hujan tiba.
Dengan kesederhanaan, Priyanto juga berbagi tentang kondisi ekonominya. Bekerja sebagai kuli bangunan, ia bersyukur karena Tzu Chi Surabaya tidak hanya memberikan perhatian melalui program Bebenah Kampung, tetapi juga memberikan kesempatan pekerjaan kepadanya untuk terlibat sebagai kuli dalam pelaksanaan program tersebut. Ungkapan terima kasih pun disampaikan dengan tulus atas perhatian yang ia terima.
Kondisi rumah calon penerima bantuan di Kelurahan Tambak Wedi yang terasa pengap, dengan sirkulasi udara terbatas serta atap yang sudah tua dan mengalami kebocoran.
Setelah proses survei selesai, relawan melanjutkan kunjungan ke rumah berikutnya, meninggalkan Priyanto dengan senyum lebar, senyum harapan yang tumbuh karena kepedulian dan kesempatan untuk bangkit bersama.
Ita, Kasi Kesejahteraan Sosial Kelurahan Tambak Wedi, menyampaikan rasa syukur dan apresiasinya atas terlaksananya program ini. Menurutnya, bantuan Bebenah Kampung menjadi momen yang sangat berarti bagi wilayahnya.
“Ini baru pertama kali Kelurahan Tambak Wedi mendapatkan bantuan Bebenah Kampung setelah sekian lama. Kami sangat bersyukur, karena wilayah pesisir seperti kami selama ini relatif kurang mendapatkan perhatian, terutama dari program CSR,” ungkapnya.
Hal senada juga disampaikan oleh Becky Ciang, relawan Tzu Chi, yang mengapresiasi kesiapan pihak kelurahan dan para kader.
“Kelurahan Tambak Wedi ini luar biasa semangatnya. Sejak pagi kader sudah berkumpul dan siap mendampingi relawan turun ke lapangan,” tuturnya.
Relawan Tzu Chi kembali ke kelurahan setelah survei lapangan untuk melakukan laporan dan pembahasan awal guna menentukan rumah yang akan dibantu melalui Program Bebenah Kampung.
Sinergi antara relawan Tzu Chi, pihak kelurahan, dan para kader menjadi bukti bahwa menjaring berkah bersama-sama mampu menyebarkan cinta kasih dengan lebih luas. Seperti perenungan Master Cheng Yen, “Jika setiap orang mau membuka hati dan melangkah bersama, maka satu kebaikan kecil pun dapat menjadi kekuatan besar yang menerangi kehidupan banyak orang.” Melalui langkah sederhana inilah, harapan untuk menghadirkan hunian yang lebih layak dan kehidupan yang lebih bermartabat bagi warga Tambak Wedi terus tumbuh dan berlanjut.
Editor: Metta Wulandari