Tjiu Bun Fu, salah satu relawan Tzu Chi, menyerahkan paket bantuan untuk warga terdampak gempa di Desa Satar Kampas, Manggarai Timur, NTT.
Senja mulai menyelimuti Desa Satar Kampas, Kecamatan Lamba Leda Utara, Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Cahaya matahari perlahan menghilang ketika relawan Tzu Chi tiba membawa bantuan bagi warga yang terdampak gempa.
Sejak pagi, para relawan Tzu Chi telah menempuh perjalanan panjang menuju beberapa lokasi penyaluran bantuan. Meski lelah, semangat relawan tidak surut. Para relawan ingin memastikan seluruh bantuan segera diterima oleh penyintas.
Pada Jumat, 28 Agustus 2026, kegiatan dimulai dengan memilah dan mengelompokkan barang bantuan berdasarkan lokasi tujuan. Persiapan tersebut dilakukan agar proses pembagian berjalan teratur, tepat sasaran, dan menjangkau warga di sejumlah lokasi pengungsian.
Setelah seluruh bantuan selesai dipersiapkan, para relawan bergerak dari satu lokasi ke lokasi berikutnya. Desa Satar Kampas menjadi titik terakhir yang mereka kunjungi. Rombongan relawan baru tiba sekitar pukul 17.00 WITA. Meskipun hari semakin gelap, para relawan segera menurunkan dan membagikan bantuan kepada warga.
“Kita dari pagi memisahkan barang-barang bantuan untuk beberapa desa lokasi pengungsian. Kita sampai di Satar Kampas, Manggarai Utara, itu jam lima sore. Kita bisa bagi bantuannya sampai jam delapan malam baru selesai,” jelas Tjiu Bun Fu.
Dengan penerangan seadanya, Yopie Budiman, salah satu relawan Tzu Chi, memilah paket bantuan untuk dibagikan kepada warga terdampak gempa.
Saat tiba di wilayah Lamba Leda Utara, para relawan menyaksikan langsung besarnya dampak gempa. Wilayah tersebut berada tidak jauh dari pusat gempa. Kerusakan terlihat di berbagai sudut desa. Banyak rumah mengalami kerusakan berat, bahkan sebagian telah roboh dan tidak lagi dapat ditempati.
“Pertama kali kita sampai ke Lamba Leda Utara, tidak jauh memang dari pusat gempa. Itu parah sekali, rata-rata rumah di situ rusak semua dan roboh,” tambah Bun Fu.
Rumah yang sebelumnya menjadi tempat berlindung dan berkumpul bersama keluarga kini berubah menjadi puing-puing. Kondisi tersebut memaksa banyak keluarga meninggalkan tempat tinggal mereka dan bertahan di tenda-tenda pengungsian dengan berbagai keterbatasan.
Malam semakin larut, tetapi proses penyaluran bantuan terus berlangsung. Sebanyak 248 paket bantuan dibagikan kepada warga. Paket tersebut berisi makanan, minuman, pakaian, sabun mandi, selimut, tenda, terpal, dan berbagai kebutuhan lainnya.
Penyaluran bantuan baru selesai sekitar pukul 20.00 WITA. Bantuan tersebut tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari para penyintas, tetapi juga membawa perhatian dan dukungan.
Setelah melihat keadaan warga secara langsung, Tjiu Bun Fu, relawan Tzu Chi, berharap para penyintas tetap tabah dan memiliki kekuatan untuk perlahan membangun kembali kehidupan mereka.
”Ya, kita lihat memang memprihatinkan sekali, semoga mereka bisa tabah menghadapi cobaan ini dan bisa bangkit kembali,” harap Bun Fu.
Yopie Budiman dan Teksan Luis, relawan Tzu Chi, dengan teliti memilah selimut untuk dibagikan kepada warga terdampak gempa.
Saat Pedesaan Berubah Menjadi Hamparan Puing
Pagi itu seharusnya berjalan seperti hari-hari biasa bagi warga Desa Satar Kampas. Sebagian warga baru saja selesai menunaikan salat, sementara yang lainnya masih terlelap. Tidak ada yang menyangka bahwa dalam hitungan detik, ketenangan tersebut berubah menjadi kepanikan.
Syahmid (37) yang saat itu telah terbangun menjadi salah satu warga yang merasakan langsung kuatnya guncangan. Tanah tiba-tiba bergoyang, membuatnya bersama warga lain bergegas meninggalkan rumah. Di tengah kepanikan, mereka hanya berpikir untuk segera mencari tempat yang aman.
“Ada yang abis salat, ada yang masih tidur, kebetulan saya bangun. Tiba-tiba goncang dulu, kami lari keluar, dipikirnya ada apa toh, ternyata gempa,” kenang Syahmid.
Seorang warga melintas di antara permukiman warga yang rusak karena terdampak guncangan gempa di Desa Satar Kampas, Manggarai Timur, NTT.

Syahmid, salah satu penerima paket bantuan, mengenang kembali saat terjadinya gempa. Ia menyaksikan kepanikan warga saat berlarian, saling memanggil, dan berusaha memastikan keluarga mereka berada dalam keadaan selamat.
Saat berhasil keluar, Syahmid terdiam menyaksikan keadaan di sekelilingnya. Rumah-rumah yang sebelumnya berdiri kini telah runtuh. Debu dari reruntuhan rumah membubung dan memenuhi udara, mengaburkan pandangan. Warga berlarian, saling memanggil, dan berusaha memastikan keluarga mereka berada dalam keadaan selamat.
Di hadapan Syahmid, wajah kampung halamannya seketika berubah. Bangunan-bangunan yang selama ini menjadi tempat warga bernaung nyaris tidak lagi terlihat.
“Yang kita lihat, dunia sudah rata, karena memang satu kampung ini rumah-rumahnya semua runtuh, jadi kelihatan yang ada itu debu,” tambahnya.
Gempa tersebut tidak hanya meruntuhkan rumah, tetapi juga mengubah kehidupan warga dalam sekejap. Tempat yang sebelumnya memberikan perlindungan dan rasa aman kini tidak lagi dapat ditempati. Para penyintas pun terpaksa meninggalkan rumah dan menjalani hari-hari di tenda pengungsian.
Sepuluh Orang Bertahan di Dalam Satu Tenda
Gempa juga membawa perubahan besar bagi kehidupan Gunawan (27). Rumahnya mengalami kerusakan berat sehingga tidak dapat dihuni kembali bersama istri, anak, dan nenek. Gunawan kini terpaksa tinggal di tenda pengungsian yang digunakan bersama warga serta keluarga penyintas lainnya.
Kondisi di pengungsian bukanlah hal yang mudah. Ruang yang terbatas harus digunakan bersama-sama oleh sepuluh orang. Di tempat itulah mereka beristirahat, menjaga anggota keluarga, dan berusaha melanjutkan kehidupan setelah kehilangan rumah akibat gempa.
“Rumah hancur seratus persen. Keluarga saya ada istri, anak, dan nenek. Kalau dalam tenda ini jumlahnya sepuluh orang,” ungkap Gunawan.
Gunawan, salah satu penerima bantuan, kini tinggal di sebuah tenda pengungsian yang digunakan bersama warga serta keluarga terdampak lainnya.
Bagi Gunawan, bantuan Yayasan Tzu Chi yang diterima menjadi dukungan penting bagi keluarganya. Di tengah situasi yang penuh ketidakpastian, kehadiran relawan Tzu Chi membawa kebutuhan logistik sekaligus memberi perhatian yang menguatkan para penyintas untuk terus bertahan.
Gunawan pun menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia yang telah datang serta membantu warga terdampak gempa di Desa Satar Kampas.
“Kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Yayasan Tzu Chi yang sudah menyerahkan bantuan kepada kami dan sangat bersyukur atas bantuannya,” ucap Gunawan bersyukur.
Di balik lelah yang dirasakan, tersimpan harapan agar bantuan tersebut dapat meringankan beban warga. Kehadiran relawan Tzu Chi hingga malam hari juga menunjukkan bahwa kepedulian tidak dibatasi oleh jarak maupun waktu.
Hingga kini, relawan Tzu Chi telah menyalurkan sebanyak 4.596 paket bantuan kepada warga terdampak bencana di NTT. Bantuan yang diberikan terdiri dari tenda, genset, ranjang plastik (serbaguna), selimut, mi instan, air mineral, vitamin, masker, terpal, senter LED, makanan ringan, susu, pembalut wanita, baju (baru), dan perlengkapan mandi.
Editor: Anand Yahya