Sejak pagi, relawan Tzu Chi bergotong royong memilah dan mengangkut barang bantuan logistik untuk warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai Timur.
Genoviva Satri (38) masih berusaha menjalani hari-hari bersama keluarganya setelah gempa bumi mengguncang wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya Pulau Flores, pada Sabtu, 15 Agustus 2026. Gempa berkekuatan magnitudo 7,7 tersebut mengakibatkan banyak rumah hancur dan memaksa warga mengungsi ke tenda. Di tengah kondisi tersebut, Genoviva dan keluarganya masih menghadapi berbagai keterbatasan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Bagi Genoviva, bantuan yang diterimanya tidak sekadar berupa barang untuk menunjang kehidupan sehari-hari. Perhatian yang diberikan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia juga menghadirkan semangat baru bagi keluarganya untuk melewati masa pemulihan. Ia berharap keluarganya dapat kembali menjalani kehidupan dengan lebih sehat dan tenang setelah menghadapi dampak gempa.
“Mudah-mudahan keluarga kami lebih semangat, lebih sehat, dan lebih tenang lagi,” ungkap Genoviva Satri.
Manfaat bantuan tersebut turut dirasakan oleh suaminya, Yohanes Bosko (41). Ia menyebutkan sejumlah barang yang diterima keluarganya, mulai dari pakaian, perlengkapan kebersihan, makanan, air minum, hingga selimut.
Di antara berbagai barang tersebut, selimut menjadi salah satu kebutuhan yang paling penting. Suhu yang sangat dingin pada malam hari terasa semakin menusuk ketika warga harus beristirahat di dalam tenda. Dengan adanya selimut, keluarga Genoviva setidaknya dapat beristirahat dengan lebih hangat saat malam tiba.
“Dapat baju, selimut, sabun, kelambu, sarung, mi instan, air, masker. Dingin sekali kalau malam di sini, makanya kami butuh selimut untuk tidur di tenda,” ungkap Yohanes Bosko.
Liwan Kho, salah satu relawan Tzu Chi, menyapa warga di Desa Benteng Poco, serta memberi arahan kepada warga untuk menunjukkan kupon bantuan yang dapat ditukarkan dengan paket bantuan logistik.
Genoviva juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia atas paket bantuan logistik dan pelayanan kesehatan yang diberikan kepada keluarganya. Baginya, perhatian yang diterima telah menghadirkan rasa persaudaraan di tengah kondisi sulit yang sedang mereka hadapi.
“Saya mengucapkan kepada Yayasan Buddha Tzu Chi terima kasih banyak. Sepertinya persaudaraan antara bapak dengan kami atas berkat rahmat Tuhan,” ucap syukur Genoviva.
Barang-barang yang mungkin terlihat sederhana itu memiliki arti besar bagi warga yang sedang menghadapi keterbatasan pascabencana. Pakaian membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, sabun dan perlengkapan mandi mendukung kebersihan keluarga, sedangkan makanan dan air minum membantu warga bertahan selama kondisi belum sepenuhnya kembali normal.
Bantuan untuk Warga Terdampak Gempa
Kondisi yang dialami Genoviva juga dirasakan oleh sebagian warga terdampak gempa di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur. Selimut, pakaian, makanan, hingga perlengkapan untuk bertahan di pengungsian menjadi kebutuhan yang sangat berarti bagi mereka.
Untuk membantu memenuhi kebutuhan tersebut, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia membagikan kurang lebih 1.500 paket bantuan logistik kepada warga terdampak gempa pada Jumat, 28 Agustus 2026.
Di tempat berbeda, Tjiu Bunfu dan Yoppie Budianto, relawan Tzu Chi, memberikan bantuan untuk umat dan warga sekitar Gereja Katolik Paroki St. Fransiskus Xaverius, Loce.
Bantuan disalurkan kepada warga di Desa Benteng Poco, Desa Riung, Dusun Wancang, Gereja St. Fransiskus Assisi Ruteng, dan Gereja Katolik Paroki St. Fransiskus Xaverius Loce di Kabupaten Manggarai. Penyaluran bantuan juga menjangkau warga di Desa Satar Kampas, Kabupaten Manggarai Timur.
Paket bantuan yang dibagikan berisi berbagai kebutuhan sehari-hari, seperti makanan, minuman, sabun dan perlengkapan mandi, selimut, pakaian, terpal, tenda, genset, ranjang plastik, serta sejumlah kebutuhan lainnya. Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung warga selama menjalani masa pemulihan pascagempa.
“Pada Jumat, 28 Agustus 2026, barang bantuan dari Yayasan Buddha Tzu Chi sudah sampai di Ruteng dan kita bagikan ke beberapa daerah,” jelas Tjiu Bun Fu, salah satu relawan Tzu Chi.
Bantuan logistik ini menjadi salah satu bentuk dukungan untuk memenuhi kebutuhan mendesak warga. Selain membantu mereka menjalani keseharian, kehadiran para relawan diharapkan dapat memberikan kekuatan moral bahwa warga tidak sendiri dalam menghadapi masa sulit tersebut.
Relawan Mendampingi dari Survei hingga Penyaluran
Sebelum bantuan disalurkan, relawan Tzu Chi melakukan survei untuk mengetahui kondisi serta kebutuhan warga di sejumlah wilayah terdampak. Hasil survei tersebut menjadi dasar dalam mempersiapkan dan memilah barang bantuan agar dapat disalurkan secara tepat sesuai kondisi masing-masing wilayah.
Sejak pagi, para relawan Tzu Chi bergotong royong membongkar barang-barang bantuan yang tiba di Ruteng. Dengan penuh kehati-hatian, mereka menurunkan, memeriksa, dan memilah barang-barang tersebut sesuai dengan kebutuhan warga di setiap desa yang sebelumnya telah disurvei.
Setelah memberikan bantuan, Liwan Kho turut membantu membawakan paket bantuan yang diterima keluarga Yohanes menuju tenda pengungsian.
Proses pemilahan dilakukan agar bantuan yang diberikan benar-benar sesuai dengan kebutuhan penerima. Setelah seluruh barang dikelompokkan, para relawan kembali bekerja sama mempersiapkan bantuan untuk dibawa menuju sejumlah titik penyaluran.
Kehadiran relawan tidak berhenti pada proses distribusi barang. Pendampingan juga menjadi bagian penting dalam memastikan bantuan dapat diterima oleh warga yang membutuhkan. Melalui interaksi langsung dengan masyarakat, relawan dapat mendengar kondisi dan kebutuhan warga sekaligus memberikan perhatian di tengah situasi pascabencana.
Tjiu Bun Fu juga berharap tidak terjadi gempa susulan yang dapat menambah kekhawatiran warga. “Kita berharap warga di Manggarai semoga mereka bisa cepat pulih kembali, semoga juga tidak ada gempa susulan kembali,” harapnya.
Melalui pembagian kurang lebih 1.500 paket bantuan logistik ini, para relawan berharap kebutuhan mendesak warga di Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur dapat terpenuhi. Bantuan tersebut sekaligus menjadi wujud kepedulian Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia untuk mendampingi masyarakat dalam melewati proses pemulihan pascabencana.
Bagi keluarga Genoviva, sebuah selimut mungkin hanyalah salah satu bagian dari paket bantuan. Namun, di tengah dinginnya malam dan keterbatasan hidup di tenda pengungsian, selimut itu memberikan kehangatan sekaligus menghadirkan pesan bahwa masih ada kepedulian dan cinta kasih yang menemani mereka melewati masa sulit.
Liwan Kho, relawan Tzu Chi, mempraktikkan cara menggunakan selimut kepada Yohanes. Nantinya, selimut tersebut dapat digunakan oleh keluarganya untuk menghangatkan diri di tengah dinginnya malam.
Editor: Anand Yahya