Tzu Chi Lampung Sosialisasikan Pembuatan Eco Enzyme dari Sampah Organik

Jurnalis : Hilda Rafika (Tzu Chi Lampung), Fotografer : Hilda Rafika (Tzu Chi Lampung)

Para peserta dengan antusias mempraktikkan langsung pembuatan eco enzyme dengan memasukkan air, molase, serta sisa sayuran ke dalam wadah yang telah disediakan, seperti jerigen dan toples besar, dalam kegiatan sosialisasi eco enzyme di Vihara Vajra Bumi Lampung.

Sampah organik menjadi salah satu jenis sampah yang paling banyak dihasilkan oleh rumah tangga. Namun, pengelolaannya masih belum dilakukan secara maksimal dan sering kali hanya dibuang ke lahan kosong, ke saluran air, atau dibakar. Padahal, sampah organik seperti sisa sayur dan buah dapat diolah menjadi cairan bermanfaat bernama eco enzyme.

Eco enzyme merupakan cairan hasil fermentasi campuran sampah organik, gula, dan air. Cairan ini memiliki banyak manfaat bagi kebutuhan rumah tangga maupun lingkungan. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pengolahan sampah organik, Persatuan Dharma Wanita Persatuan Kanwil Kementerian Agama Provinsi Lampung bersama  relawan Tzu Chi Lampung memberikan sosialisasi dan demonstrasi pembuatan eco enzyme.

Kegiatan ini dihadiri Ketua Dharma Wanita Persatuan Kanwil Kemenag Provinsi Lampung, Ny. Siti Aisyah Zulkarnain, Ketua Bimas Buddha Kementerian Agama, Puji Purwaningsih, S.Ag., serta 45 peserta yang terdiri dari ibu-ibu dan anggota masyarakat.

Lis Linggarningsih menjelaskan berbagai manfaat eco enzyme yang dapat digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sekaligus membantu menjaga kelestarian lingkungan dalam kegiatan sosialisasi eco enzyme di Vihara Vajra Bumi Lampung, Jumat.

Berbagai bahan organik seperti sisa sayuran dan kulit buah diperlihatkan sebagai bahan utama pembuatan eco enzyme dalam sosialisasi pelestarian lingkungan di Vihara Vajra Bumi Lampung.

Sosialisasi dan praktik pembuatan eco enzyme dibawakan oleh Lis Linggarningsih, relawan Tzu Chi Lampung, didampingi Anggraini dan Windya. Dalam sesi tersebut, Lis menjelaskan cara membuat eco enzyme dengan perbandingan 1:3:10, yaitu satu bagian gula atau molase, tiga bagian bahan organik, dan sepuluh bagian air.

“Sejuta manfaat bisa dihasilkan dari eco enzyme setelah difermentasi selama tiga bulan. Cairan ini bisa digunakan untuk mengepel, membersihkan dapur, mencuci pakaian, mandi, perawatan wajah, sampo, dan masih banyak lagi,” jelas Lis Linggarningsih.

Kegiatan ini mendapat respons yang sangat baik dari para peserta. Di tengah kesibukan mengurus rumah tangga dan keluarga, mereka tetap antusias mengikuti sosialisasi hingga akhir acara. Banyak peserta yang aktif bertanya mengenai manfaat dan cara pembuatan eco enzyme.

Relawan Tzu Chi Lampung, Lis Linggarningsih, didampingi Anggraini, Windya, dan Yusnaini, mempraktikkan langkah demi langkah pembuatan eco enzyme agar peserta dapat memahami dan menerapkannya kembali di rumah masing-masing dalam kegiatan di Vihara Vajra Bumi Lampung.

Salah satu peserta, Sri Widati dari Kementerian Agama selaku Ketua Tim Penyuluhan, mengaku senang dapat mengikuti kegiatan tersebut.

“Saya senang karena jadi tahu manfaat eco enzyme. Sampah yang sebelumnya kita anggap tidak berguna ternyata bisa dimanfaatkan kembali. Cairan eco enzyme ini juga memiliki banyak manfaat. Kegiatan ini membuat saya semakin penasaran untuk mencoba membuatnya sendiri di rumah,” ungkap Sri Widati.

Menurutnya, banyak peserta baru mengetahui bahwa sampah organik yang biasa dibuang ternyata dapat diolah menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupan sehari-hari sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Antusiasme peserta membuat Lis Linggarningsih merasa bahagia dan optimistis bahwa pengetahuan yang dibagikan dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Melihat ibu-ibu sangat antusias, saya merasa bahagia karena mereka peduli terhadap lingkungan. Harapan saya, mereka bukan hanya menjadi pengguna eco enzyme, tetapi juga bisa membuatnya sendiri di rumah,” ujarnya.

Para relawan dan peserta berfoto bersama usai mengikuti kegiatan sosialisasi dan praktik pembuatan eco enzyme di Vihara Vajra Bumi Lampung.

Ketua Bimas Buddha Kementerian Agama, Puji Purwaningsih, S.Ag., juga mengapresiasi kegiatan edukasi lingkungan yang dilakukan relawan Tzu Chi Lampung.

“Kami sangat berterima kasih kepada para relawan yang telah berbagi ilmu yang sangat bermanfaat ini. Semoga kegiatan ini menjadi inspirasi bagi kita semua untuk lebih peduli terhadap lingkungan,” ucapnya.

Sosialisasi eco enzyme ini menjadi contoh nyata bagaimana edukasi lingkungan dapat diterapkan melalui langkah sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Dengan semangat kebersamaan dan kepedulian, para relawan dan peserta bersama-sama mengambil langkah kecil demi menciptakan bumi yang lebih bersih dan sehat.

Editor: Anand Yahya

Artikel Terkait

Melestarikan Lingkungan dengan Eco Enzyme

Melestarikan Lingkungan dengan Eco Enzyme

27 Januari 2021

Untuk mengenalkan Eco Enzyme ke relawan Tzu Chi dan masyarakat, Tzu Chi Medan, Komunitas Hu Ai Mandala mengadakan sosialisasi tentang Eco Enzyme dan manfaatnya. Sosialisasi ini berlangsung secara virtual pada Sabtu, 23 Januari 2021, mulai pukul 19.00 – 21.00 WIB.

Sosialisasi Eco Enzyme di Tzu Chi Hospital

Sosialisasi Eco Enzyme di Tzu Chi Hospital

08 Juli 2022

Kamis, 7 Juni 2022, diadakan sosialisasi dan sharing dari relawan Tzu Chi mengenai eco enzyme. Sebanyak 105 orang perawat Tzu Chi Hospital hadir untuk mendengar manfaat dan cara membuat eco enzyme.

Menyambut Hari Bumi dengan Penuangan Eco Enzyme

Menyambut Hari Bumi dengan Penuangan Eco Enzyme

19 April 2021

Menyambut Hari Bumi yang setiap tahunnya jatuh pada tanggal 22 April, relawan Tzu Chi pada Jumat siang, 16 April 2021 menuangkan cairan eco enzyme ke danau Tzu Chi Hospital.

Memberikan sumbangsih tanpa mengenal lelah adalah "welas asih".
- Kata Perenungan Master Cheng Yen -