Pemeriksaan kadar kolesterol, asam urat, dan gula darah menjadi salah satu layanan yang diberikan kepada para lansia sebagai upaya deteksi dini kondisi kesehatan sehingga dapat segera memperoleh penanganan apabila ditemukan adanya kelainan.
Minggu, 21 Juni 2026, suasana di Depo Pendidikan Pelestarian Lingkungan, Jalan Pangeran Jayakarta No. 131, Jakarta Pusat, sudah mulai ramai sejak pagi. Meski kegiatan baru dimulai pukul 08.00 WIB, sejumlah warga lansia telah datang sejak pukul 07.00 karena antusias mengikuti Bakti Sosial Kesehatan Lansia yang diselenggarakan oleh Hu Ai Sawah Besar bersama He Qi Jakarta Pusat.
Kegiatan yang berlangsung hingga pukul 12.30 WIB ini melayani 252 warga lansia dengan dukungan 89 relawan, 12 dokter umum, 7 dokter gigi, 11 perawat, 2 analis laboratorium, serta 8 apoteker. Selain pemeriksaan kesehatan umum, peserta juga memperoleh pemeriksaan laboratorium sederhana, pelayanan kesehatan gigi, konsultasi dokter, edukasi kesehatan, hingga obat-obatan sesuai kebutuhan.
Bagi banyak peserta, kegiatan ini menjadi kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatan mereka sekaligus mendapatkan perhatian yang mungkin jarang mereka rasakan.
Salah satunya adalah Ibu Aik (69) yang untuk pertama kalinya mengikuti bakti sosial kesehatan. Dari hasil pemeriksaan, ia mengetahui bahwa dirinya memiliki kadar kolesterol dan asam urat yang cukup tinggi. "Saya sangat senang ada pemeriksaan khusus lansia seperti ini. Jadi tahu sakitnya apa, lalu juga ada penyuluhan kesehatan," ujarnya. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus diselenggarakan agar semakin banyak lansia memperoleh manfaat.

Dokter gigi melakukan pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut kepada salah satu peserta bakti sosial. Melalui pemeriksaan ini, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut di usia lanjut.
Semangat melayani juga dirasakan oleh Yohana Veronika Turnip (29), seorang apoteker yang sehari-hari bekerja di apotek di wilayah Tangerang. Bakti sosial ini menjadi pengalaman pertamanya bergabung bersama TIMA dalam pelayanan kesehatan. Menurut Yohana, memberikan penjelasan mengenai cara penggunaan obat kepada para lansia menjadi pengalaman yang sangat berkesan.
"Saya memang senang melayani. Rasanya bahagia bisa membantu menjelaskan obat kepada pasien, terutama lansia. Semoga saya bisa terus ikut kegiatan seperti ini dan memberikan pelayanan yang semakin baik."
Hal senada disampaikan dr. Yenny Saputra yang telah beberapa kali mengikuti bakti sosial bersama TIMA. Menurutnya, alur pelayanan pada kegiatan kali ini sudah tertata dengan baik sehingga peserta dapat mengikuti setiap tahapan pemeriksaan dengan nyaman.
Namun, dari pelayanan tersebut juga terlihat berbagai persoalan yang masih dihadapi para lansia. Salah satunya adalah seorang pasien yang hidup seorang diri sehingga kesulitan berobat karena tidak memiliki keluarga yang dapat mendampingi. Dokter Yenny juga berharap ke depan obat-obatan yang tersedia dapat semakin lengkap, termasuk dukungan bagi pasien yang membutuhkan obat di luar tanggungan BPJS.

Para pasien menunggu dengan tertib di ruang tunggu sebelum menjalani pemeriksaan kesehatan bersama dokter. Meskipun harus mengantre, para peserta tetap sabar menunggu giliran untuk mendapatkan pelayanan kesehatan.
Sementara itu, drg. Lita Naulita Atmawidjaja, yang telah dua kali berpartisipasi dalam bakti sosial ini, menilai seluruh rangkaian kegiatan berjalan dengan lancar. Dari pemeriksaan kesehatan gigi, ia menemukan bahwa banyak lansia membutuhkan gigi palsu, namun masih terkendala biaya karena layanan tersebut belum sepenuhnya ditanggung oleh fasilitas kesehatan.
Sebagai PIC kegiatan, Diana mengaku sempat merasa gugup karena ini merupakan pengalaman pertamanya memimpin pelaksanaan bakti sosial lansia. Namun berkat dukungan seluruh relawan, kegiatan dapat berjalan dengan baik.
"Walaupun masih ada kekurangan, saya bersyukur semuanya berjalan lancar. Semoga tahun depan kegiatan ini dapat kembali dilaksanakan dengan persiapan yang lebih baik, terutama penambahan tenaga dokter dan petugas laboratorium agar waktu antre peserta tidak terlalu lama," ungkapnya.

Dokter Yenny Saputra memberikan penyuluhan kesehatan kepada para peserta setelah pemeriksaan selesai. Melalui penyuluhan ini, para lansia diajak untuk menerapkan pola hidup sehat serta memahami cara mencegah dan mengelola penyakit yang sering dijumpai pada usia lanjut.
Hal serupa juga disampaikan Suryani, yang menjelaskan bahwa panitia telah membagikan 332 kupon kepada warga sekitar dan umat wihara. Dari jumlah tersebut, sebanyak 252 peserta hadir atau sekitar 80 persen dari kuota yang disediakan. Di lapangan, panitia juga menghadapi beberapa kendala, seperti warga yang datang tanpa membawa kupon ataupun kehilangan kupon namun tetap berharap dapat memperoleh pelayanan kesehatan.
Ketua He Qi Jakarta Pusat menyampaikan bahwa bakti sosial lansia merupakan salah satu bentuk nyata dukungan terhadap Misi Kesehatan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia. "Tujuan kegiatan ini bukan hanya memeriksa kesehatan warga, tetapi juga memberikan perhatian, mengedukasi, dan mengingatkan pentingnya menjaga kesehatan. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi kesempatan bagi para relawan dan masyarakat untuk mempraktikkan nilai-nilai kemanusiaan melalui pelayanan kepada sesama."
Ia berharap bakti sosial ini tidak hanya menjadi sarana berbuat kebajikan, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi para lansia agar memperoleh pelayanan kesehatan yang baik dan benar.
Setelah menjalani pemeriksaan dan berkonsultasi dengan dokter, para pasien mengambil obat sesuai resep yang telah diberikan. Para apoteker juga memberikan penjelasan mengenai aturan minum obat agar terapi yang dijalani dapat memberikan hasil yang optimal.
Koordinator Pengobatan, Rudy, mengaku sangat terkesan dengan suasana pelayanan yang berlangsung sepanjang kegiatan. "Yang paling berkesan bagi saya adalah seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan tertib, hangat, dan penuh perhatian. Mulai dari proses pendaftaran, pemeriksaan kesehatan, konsumsi hingga para lansia kembali pulang, semuanya dilayani dengan baik oleh relawan dan tenaga kesehatan. Semangat kebersamaan, kerelaan, dan kepedulian yang ditunjukkan para relawan membuat bakti sosial ini terasa begitu hangat dan penuh kekeluargaan. Kegiatan seperti ini mengingatkan kita bahwa pelayanan kesehatan bukan semata-mata tentang pengobatan, tetapi juga menghadirkan rasa aman, nyaman, dan harapan bagi sesama."
Sementara itu, Koordinator Kesehatan Hu Ai, Usman, menilai kegiatan ini telah berjalan dengan baik meskipun masih terdapat beberapa hal yang perlu dievaluasi. "Bakti sosial lansia ini berjalan dengan baik meskipun masih ada beberapa kekurangan. Harapannya, kegiatan serupa dapat kembali diadakan dengan persiapan yang semakin matang sehingga pelayanan kepada masyarakat menjadi lebih optimal."
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa kepedulian dapat diwujudkan melalui tindakan sederhana, seperti mendengarkan keluhan, memeriksa kesehatan, hingga memberikan edukasi kepada para lansia. Di balik setiap pemeriksaan yang dilakukan, tersimpan harapan agar mereka dapat menjalani masa tua dengan kondisi yang lebih sehat, lebih tenang, dan tetap merasakan hangatnya perhatian dari sesama.
Editor: Metta Wulandari